lpmindustria.com, Jakarta – Tepat pada tanggal 19 s.d. 21 September 2016, FLMPI Politeknik STMI Jakarta mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Politeknik ATK Jogjakarta. Ada beberapa hasil yang didapat saat Rakornas tersebut, sehingga harus disampaikan kepada Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) di Politeknik STMI Jakarta.

Forum Lembaga Mahasiswa Perindustrian Indonesia (FLMPI) mengikuti kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang diadakan di Politeknik ATK Jogjakarta. Adapun, hasil yang mereka dapatkan dari kegiatan tersebut terangkum dalam beberapa poin. Poin-poin tersebut dibuat dalam bentuk rekomendasi yang diajukan oleh FLMPI Politeknik STMI Jakarta. Selain itu, ada juga rekomendasi yang diajukan oleh FLMPI Nasional kepada pihak Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementerian Perindustrian. Untuk rekomendasi yang diajukan oleh FLMPI Politeknik STMI Jakarta terdapat 5 poin yaitu pengadaan beasiswa, pelengkapan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) selain jurusan Teknik Industri Otomotif (TIO), penambahan jumlah dosen serta peningkatan kualitasnya, pembuatan Surat Keputusan (SK) magang, dan perihal lahan di Politeknik STMI Jakarta. FLMPI Nasional juga mengajukan rekomendasi yang berisi tentang pengadaan program Career Development Center (CDC) dan ujian masuk bersama sejenis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), tetapi hanya untuk kampus di bawah naungan Kementerian Perindustrian.

Hasil dari Rakornas tersebut disampaikan oleh FLMPI Politeknik STMI Jakarta tepat pada tanggal 29 September 2016. Penyampaian tersebut dibuka oleh Agus Prayogi selaku Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik STMI Jakarta. Kemudian diserahkan kepada Ghiandy Fachrezzy selaku Kordinator Kampus (Korkam) FLMPI Politeknik STMI Jakarta. Setelah itu, Ghiandy Fachrezzy menjelaskan poin-poin rekomendasi dari FLMPI ke Pusdiklat. Tak hanya penjelasanmengenai poin rekomendasi, Ghiandy Fachrezzy juga menyampaikan perihal pemberitahuan yang diminta oleh Mujiyono selaku Kapusdiklat. Ghiandy Fachrezzy menjelaskan bahwa Mujiyono akan membuat dual system dalam perkuliahan nanti. Dual system ini akan membuat mahasiswa menghabiskan 70% waktunya di dunia industri, dan sisanya 30% akan dihabiskan untuk perkuliahan seperti pembelajaran teori dan praktikum. Selain itu, Ghiandy Fachrezzy juga menyatakan bahwa Mujiyono berpikir Politeknik STMI Jakarta harus dikhususkan ke bidang teknisnya. Sehingga, untuk jurusan Manajemen atau Administrasi Bisnis Otomotif (ABO) lebih baik dihapuskan. Pernyataan initentu memberikan banyak pertanyaan pada saat disampaikan 29 September lalu.

Di akhir penyampaian, FLMPI Politeknik STMI Jakarta memberikan sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang masuk pada saat itu, salah satunya mengenai nasib dari jurusan ABO,khususnya mengenai ijazah yang keluar dari Politeknik STMI Jakarta untuk mahasiswa jurusan ABO saat ini. Selain itu, ada pula yang menanyakan peran FLMPI dalam rekomendasi ke Pusdiklat, dan perihal siapa yang membuat program besar seperti dual system. Pernyataan lainnya yang masuk pada saat itu saling berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas. Kesimpulan dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa FLMPI hanya sebagai pihak yang menjembataniinformasi dari Pusdiklat ke kampus. Selain itu, FLMPI juga akan terus berusaha melakukan follow-up dengan menanyakan kabar dari hasil Rakornas tersebut. Terkhusus saat pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) yang akan diadakan di ATIM Padang.

 Muhammad Abdul Hakim Faqih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *