lpmindustria.com, Jakarta – Minimnya prestasi yang ditorehkan pebulutangkis tunggal putri menjadi perhatian khusus bagi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Seleksi Nasional (Seleknas) merupakan langkah PBSI untuk mencari bibit-bibit baru pebulutangkis tunggal putri yang dapat berbicara banyak di pentas dunia.

Cabang olahraga bulutangkis hingga saat ini masih menjadi tumpuan Indonesia dalam mendulang medali. Pada setiap turnamen antar negara seperti, Olimpiade, Asian Games cabang olahraga ini tidak pernah absen menyumbang medali untuk Indonesia. Namun, kenyatannya saat ini hanya sektor ganda campuran dan ganda putra yang masih aktif menyumbangkan medali untuk Indonesia. Kekuatan pebulutangkis tunggal putri Indonesia saat ini seakan-akan kehilangan taringnya. Hal tersebut memang benar adanya, jika dilihat dari intensitas absennya medali yang diraih pada setiap turnamen Badminton World Federation (BWF) atau turnamen antar negara. Misalnya, untuk ajang Olimpiade, prestasi terakhir sector tunggal putri diraih oleh Maria Kristin Yulianti yangmendulang medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008. Prestasi tunggal putri pun kian terpuruk ketika Olimpiade Rio 2016 lalu, Linda Wenifanetri yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada sektor tunggal putri harus gugur dibabak penyisihan grupdengan tidak sekalipun meraih kemenangan atas rivalnya.

Saat ini, prestasi yang didapat sektor tunggal putri,diajang internasional sangat minim sekali. Padahal, sektor ini sempat menjadi andalan Indonesia dalam mendulang medali pada era 90-an. Era tersebut dimulai dari Sarwendah Kusumawardani yang meraih medali perak BWF World Championships tahun 1991 di Kopenhagen. Ditahun berikutnya Susi Susanti berhasil mendulang medali emas di Olimpiade Barcelona 1992 dan medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996. Setelah itu ada Mia Audina yang mendapatkan julukan “Si Anak Ajaib” karena menjadi pemain penentu kemenangan Indonesia saat menjuarai Piala Uber tahun 1994 dan 1996. 

Dengan kondisi prestasi yang sangat jauh berbeda, tentunya ini pertanda bahwapada sektor ini Indonesia sudah jauh tertinggal dibelakang. Mencari bibit baru sektor tunggal putri adalah salah satu cara untuk menemukan pemain unggul yang dapat bersaing dipentas bulutangkis tunggal putri dunia.  Seleksi Nasional (Seleknas) tunggal putri yang dilakukan oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) diharapkan dapat menjadi solusi untuk lambatnya perkembangan pebulutangkis tunggal putri di Indonesia. “Semoga dengan masuknya pemain-pemain muda ini ke Pelatnas, dapat memperkuat sektor tunggal putri di masa datang, stock pemain tunggal putri saat ini masih minim. Kami berharap ada kompetisi pada saat latihan dan bertanding sehingga prestasinya bisa lebih bagus,” ujar Rexy Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI saat diwawancarai oleh bulutangkisnews. Selain mengadakan Seleknas, PBSI juga mengadakan degradasi pemain tunggal putri jika tidak menunjukkan kemajuan prestasi yang telah ditargetkan oleh PBSI.

Selain mencari bibit baru dalam sektor tunggal putri, sudah menjadi kewajiban PBSI dalam mengembangkan skill para pemainnya yang ada di Pelatihan Nasional (Pelatnas) hingga mengadakan pelatihan dengan program yang terstruktur. Semangat juang para pemain dinilai juga menjadi faktor kemenangan pada suatu pertandingan, karena akan menjadi kendala jika pemain mempunyai kemampuan teknik yang lengkap tanpa didukung motivasi tinggi untuk memenangi pertandingan. Hal itu menunjukkan bahwa tidak hanya pelatih yang berperan dalam mengembangkan pemain, tetapi kemauan dari pemain itu sendiri.

Deni Prasetiyo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *