lpmindustria.com, Jakarta – Dinamika sosial politik merupakan peristiwa yang sukar untuk diterjemahkan. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi korban yang paling dirugikan dari setiap pergolakan sosial politik elite penguasa. Melihat kondisi yang kian rumit dan semrawut, golongan muda dalam hal ini mahasiswa mulai merapatkan barisan untuk membela masyarakat tertindas. Salah satu langkah yang dilakukan mahasiswa adalahmembentuk Dewan Mahasiswa (Dema), yang ikut serta melakukan pembelaan terhadap rakyat saat Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974. Saat itu, mahasiswa memperjuangkan kemandirian bangsa dengan melakukan demonstrasi anti penanaman modal asing yang berakhir dengan kericuhan tragis, sehingga pimpinan pergerakan mahasiswa ditangkap.

Dema menjadi sebuah organisasi pergerakan mahasiswa di tahun 1965-1978. Sepak terjang Dema dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga eksekutif dan fungsi senat, menjadi sebuah momok menakutkan bagi Pemerintah Orde Baru (ORBA). Namun, di akhir tahun 1978, pemerintah dengan tindakan represifnya (baca: mengekang) mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Kebijakan ini seolah mengebiri mahasiswa kritis dan idealis untuk membela masyarakat dan mahasiswa. Hal itu dikarenakan keberadaan Dema digantikan oleh Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang lebih berorientasi menjadi humas pemerintah dan kampus.

Kematian Dema tentu tidak menjadi akhir dari kematian jiwa kritis dan idealispara mahasiswa. Buruknya sistem penyerapan aspirasi membuat mahasiswa membentuk Senat Mahasiswa sebagai bentuk perlawanan. Namun, organisasi ini tidak bertahan lama karena fungsinya yang dipersempit oleh pemerintah. Terlepas dari itu, dibentuklah Komite Sentral Mahasiswa (KOSMA) sekitar tahun 1998-an yang tetap berakhir dengan pembubaran. Setelah Peristiwa Reformasi 1998, lahirlah lembaga eksekutif mahasiswa dengan kekuatan super body yang bebas menjalankan seluruh kegiatannya secara independen. Lembaga eksekutif ini dinamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sesuai dengan Kepmendikbud No. 155/U/1988 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.

BEM adalah organisasi tertinggi mahasiswa di perguruan tinggi. BEM berperansebagai organisasi intra kampus yang menaungi seluruh aktivitas kemahasiswaan dikampus. Sejatinya, BEM berfungsi sebagai sarana dan wadah untuk menampung aspirasi mahasiswa. Aktivitas BEM dewasa ini memang sangat banyak dan beragam. BEM yang dahulu menjadi poros pergerakan pemikiran kritis dan idealis mahasiswa, kinikian luntur tergerus oleh sibuknya kegiatan akademik perkuliahan.

Dengan membawa label BEM, mereka bertindak seolah-olah menjadi pioner perubahan, padahal tidak ada perubahan berarti yang mahasiswa rasakan. Memang tidak selamanya BEM melanggar janjinya. Kebenaran janji BEM kiranya telah terbukti, bahwa wadah aspirasi yang mereka janjikan telah penuh dengan aspirasi-aspirasi mahasiswa yang membutuhkan bantuan BEM. Wadah aspirasi memang telah terisi penuh, namun entah mengapa goresan aspirasi mahasiswa di dalam wadah tersebuttak kunjung sampai di telinga warga elite kampus, hanya ditumpuk hingga berdebu. Lalu sampai kapan masalah ini berakhir? Sampai mahasiswa melupakan bahwa aspirasinya sudah menjadi dongeng sedih, dan lebih memilih untuk menjadi mahasiswa pasif yang jenuh akan tindak lanjut.

Tidak etis memang, jika kita mengatakan bahwa BEM hanya dapat berjanji tanpa bisa menepati.  Saat ini lembaga eksekutif mahasiswa tersebut adalah salah satu organisasi yang produktif memberikan wadah untuk pengadaan kegiatan mahasiswa. Patut diapresiasi, bahwa kini BEM di Indonesia memiliki banyak program kerja bagi mahasiswa di kampus. Sebagian mahasiswa juga merasa senang untuk bergabung dan memeriahkan acara yang dibuat oleh lembaga eksekutif mahasiswa tersebut. Namun, disinilah letak keluguan BEM saat ini. Mereka seolah menjelma menjadi Badan Event Mahasiswa dikarenakan pengadaan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi utamaBEM.

Sangat disayangkan jika program kerja BEM hampir menyerupai program kerja dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Perlu dipahami bahwa ke-eksekutif-an BEM harus disertakan dengan program-program kerja yang berdampak besar bagi mahasiswa yang mereka pimpin. Ada baiknya sebelum BEM menentukan program kerja, harusdiselaraskan berdasarkan fungsi utama lembaga eksekutif kampus. Hingga kini fungsi utama lembaga eksekutif sebagai penyalur aspirasi mahasiswa, pembela kepentingan mahasiswa (advokasi) dan forum koordinasi serta komunikasi, masih belum diprioritaskan. Wahai Badan Eksekutif Mahasiswa saat ini, apakah kalian sudahmemahami akan fungsi utama kalian yang seharusnya? Kami mahasiswa butuh bantuan kalian, bukan butuh kegiatan-kegiatan kalian yang tidak berdampak besar bagi kami. Sangat keliru, jika keberhasilan BEM hanya ditentukan dari  seberapa tebal proposal kegiatannya, namun tipis manfaat bagi mahasiswanya.

Muhammad Evan Hanif

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *