lpmindustria.com – Kebutuhan energi listrik di Indonesia kian meningkat. PLTN merupakan salah satu media alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia.Oleh karena itu, pemerintah mulai melakukan beberapa persiapan agar Nuklir dapat diterima dan digunakan di Indonesia.

Rencana pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia layaknya laut yang pasang surut. Hal ini dikarenakan masih menuai  pro dan kontra di masyarakat. Disatu sisi mereka beranggapan bahwa nuklir merupakan energi alternatif yang cocok untuk kebutuhan energi listrik yang terus meningkat. Anggapan ini diperkuat dengan hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga riset Sigma Research tentang pembangunan PLTN di Indonesia. Pada Survei tersebut didapatkan hasil persentase masyarakat yang setuju sebanyak 75.3%. Lalu, sisanya masyarakat berpandangan skeptis (Re : Kurang Percaya) terhadap pembangunan PLTN. Kekhawatiran akan dampak kebocoran reactor nuklir seperti di Chernobyl (Ukraina), dan Fukushima (Jepang) menjadi penyebabnya.

Gagasan tentang nuklir sebenarnya sudah lama muncul, bahkan Ir. Soekarno mengemukakan pendapatnya bahwa tenaga nuklir sangat penting untuk keperluan dalam dan luar negeri. Tahun 1961, Indonesia berhasil membangun reaktor nuklir pertama yang diresmikan langsung oleh Ir. Soekarno. Reaktor nuklir ini digunakan untuk kepentingan riset dan pelatihan. Tak sampai disitu, Indonesia kembali mengoperasikan reaktor nuklir yang diberi nama Reaktor Kartini dengan daya 100 Kilo Watt (KW). Perlu diketahui bahwa reaktor nuklir berbeda dengan PLTN. Reaktor nuklir merupakan salah satu unsur yang harus tersedia dalam pembangunan PLTN.

Sadar akan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang banyak dan berkualitas di bidang nuklir, tahun 1980-an pemerintah mulai membuka Jurusan dibidang nuklir. Mulai dari Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada, Jurusan instrumentasi Nuklir dan Proteksi Radiasi di bagian Fisika Universitas Indonesia, dan Pendidikan Ahli Teknik Nuklir di Yogyakarta (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir).

Gagasan tentang pembangunan PLTN dimulai dari terbentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan diadakannya sebuah seminar di Karangkates, Jawa Timur pada tahun 1975 oleh BATAN dan Departemen PUTL. Salah satu hasilnya adalah keputusan bahwa PLTN akan dikembangkan di Indonesia. Setelah melakukan beberapa studi tentang lokasi, maka diputuskan Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menjadi lokasi yang paling ideal dan akan menjadi tempat pembangunan PLTN.

Berdasarkan hasil studi yang diadakan BATAN dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), seperti dilansir oleh situs pemerintah Kabupaten Bangka Barat (14/03/2011). Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 Giga Watt (GW) di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GW di tahun 2025.

Melihat hasil studi tersebut, diperlukan energi alternatif guna memenuhi kebutuhan energi listrik di masa mendatang. Membangun PLTN dapat menjadi solusi efektif untuk menangani kebutuhan tersebut. Perlu disadari nuklir merupakan sumber energi yang aman, bersih, dan ekonomis. Namun, membutuhkan teknologi tinggi untuk mengelolanya. Pandangan masyarakat mengenai nuklir dapat diminimalisir dengan cara persiapan yang matang dari pengembangan teknologi nuklir serta sosialisasi kepada masyarakat. Dengan terciptanya penerapan teknologi nuklir di Indonesia, maka kebutuhan energi listrik di masa mendatang dapat tercukupi. Selain itu, Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain dalam pengimplementasian teknologi nuklir.

                                                                                    Akhdan Makarim Z

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *