Malam tersenyum ketika meninggalkan mentari, namun mentari bersedih saat malam meninggalkannya. Sapaan hangat tak selalu dengan bahasa yang diungkapkan, namun hanya sekadar senyuman pun bagi mentari itu merupakan suatu kebahagiaan untuknya. Mentari bersedih sambil menahan tangisannya ketika melihat malam meninggalkannya. Malam tersenyum saat meninggalkan mentari, karena malam tak mungkin menetap terus-menerus, manusia pun butuh mentari.

Suatu keputusan sulit ketika malam ragu, ingin meninggalkan mentari atau tidak. Namun, memang sudah kewajiban malam untuk meninggalkan mentari. Malam ingin mentari juga sebagai sesuatu yang berarti untuk manusia. Senyuman hangat sang malam selalu teringat di benak mentari. Mentari teramat sedih dan selalu terkenang akan senyum sang malam. Namun apa daya, hanya tangisan mentari yang mewakilinya. Dibalik senyuman malam, ada kesedihan yang tak terungkapkan. Ada jiwa yang membisikkan  bahwa raga sang malam tak ingin meninggalkan mentari. Apa daya malam tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika waktu mentari menemani bumi berakhir, mentari pun bersedih. Namun ketika mentari tahu bahwa malam akan datang, mentari pun merasa senang. Seperti biasanya, malam datang dengan senyuman hangatnya. Senyuman yang membuat perasaan mentari merasa begitu berbunga-bunga. Hal yang mentari dan malam inginkan adalah menemani bumi secara bersama-sama. Namun apa daya, mentari dan malam sudah ditakdirkan untuk saling bergantian menemani bumi. Tak mungkin bisa menemani bumi secara bersama-sama. Begitulah ketika Tuhan sudah mentakdirkan sesuatu. Ketika Dia tidak meridhainya, semua harapan ingin bersatu, tak akan bersatu sampai kapanpun itu.

Erta Darwati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *