lpmindustria.com– Mengolah sampah dapat memberikan penghasilan tersendiri bagi warga Griya Lembah Depok, Jawa Barat. Lewat Bank Sampah PokLili, warga diajak untuk mengumpulkan , memilah, dan mengolah sampah organik maupun anorganik menjadi barang berguna yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Kelompok Peduli Lingkungan atau biasa disingkat dengan PokLili adalah gerakan yang diprakarsai oleh kelompok ibu — ibu yang peduli dengan keberlangsungan kondisi lingkungan di sekitarnya. Djuniawan Wanitarti, selaku Ketua Kelompok Peduli Lingkungan, menjelaskan bahwa PokLili sudah dibentuk sejak tahun 2008 dan saat ini mempunyai basecamp di Griya Lembah Depok Blok B1 Nomor 5, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Gerakan ini bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan. Selain itu, PokLili juga memberikan pencerdasan mengenai pengolahan sampah. Karena menurut penggagas Bank Sampah PokLili, sampah yang ada di lingkungan dapat diolah sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi. “Sampah jika diolah dengan benar, maka akan menghasilkan nilai ekonomis,” ujar Djuniawan Wanitarti saat ditemui di basecamp PokLili.

Warga yang berada di sekitar Bank Sampah PokLili sudah memiliki pengetahuan dalam memilah sampah, sehingga pengelolaan sampah di PokLili sangat teratur. Sampah organik diolah menjadi kompos dan ada pula yang menjadi biogas. Sedangkan untuk sampah anorganik, Bank Sampah PokLili memisahkan sampah yang dinilai dapat diolah menjadi kerajinan.

Awalnya PokLili masih menggunakan teknologi lama, yakni Teknologi Keranjang Takakura. Keranjang Takakura merupakan salah satu hasil temuan Koji Takakura yang berasal dari Jepang. Selain itu, teknologi keranjang Takakura sangat ramah lingkungan karena dapat dibuat dengan kardus bekas. “Keranjang Takakura dapat difungsikan sebagai tempat penyimpanan sampah sisa sayuran, sisa nasi, dan sisa buah. Dengan teknologi keranjang Takakura, sampah tersebut dapat diolah menjadi pupuk kompos,” jelas Ibu Rum sebagai Pengelola Bank Sampah PokLili.

Produk yang ditawarkan oleh Bank Sampah PokLili sangat beragam, ada pula produk — produk kerajinan yang dijual dengan harga mulai dari Rp. 5000,-. “Produk yang ditawarkan yaitu gantungan kunci, tas, tempat tisu, tutup galon, dompet, sajadah, taplak meja, dan masih banyak lagi. Semua produk ini sangat bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,” ujar Ibu Rum. Metode pemasaran produk PokLili dilakukan dengan cara mulut ke mulut dan melalui pameran yang mengundang PokLili sebagai peserta. Bank Sampah PokLili tidak memiliki target khusus dalam penjualan produknya. Hal ini karena landasan utama PokLili yaitu untuk mengurangi jumlah sampah, adapun economic benefit atau keuntungan hanya sebagai tambahan saja. “Untuk pendanaan kegiatan operasional PokLili berasal dari hasil penjualan kerajinan produk,” tambah Ibu Rum.

PokLili telah banyak mengadakan workshop untuk berbagai kalangan dan komunitas. Selain itu kalangan media, pelajar, atau mahasiswa juga sering mendatangi PokLili untuk sekadar belajar atau riset mengenai lingkungan. “Pok Lili juga berkoordinasi dengan BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kota Depok, misalnya dengan pendataan perkembangan bank sampah dan menjadi narasumber dalam sosialisasi dan seminar,” ungkap Ibu Rum. Sampai saat ini PokLili masih aktif untuk mengampanyekan gerakan peduli lingkungan. Tujuannya yakni agar semua masyarakat Indonesia memiliki budaya untuk menjaga lingkungan sekitarnya.

Faiz Hafizh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *