lpmindustria.com – Banyaknya sampah yang ada di lingkungan membuat Edy Fajar Prasetyo memiliki ide untuk membuat suatu produk dari sampah. Edy juga memberdayakan masyarakat sekitar dalam proses produksi barang daur ulangnya.

Pemandangan sampah yang berserakan di lingkungan masih terlihat umum di Indonesia. Hal itu tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang mayoritas masih membuang sampah sembarangan. Namun, bagi Edy mahasiswa S1 Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganggap sampah ini sebagai masalah yang serius. Berawal dari kegelisahannya terhadap sampah di sekitar kampus, Edy berpikir bagaimana caranya untuk merubah karakter masyarakat setempat. Banyaknya ibu rumah tangga yang kurang produktif, membuat Edy ingin mereka memiliki alternatif pemasukan keuangan sendiri dari EBI BAG.

EBI BAG (Eco Business Indonesia) merupakan produk yang berasal dari sampah plastik dan kemudian diolah agar sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Selain itu, bagi Edy penggunaan nama EBI memiliki makna tersendiri. “Makna asal nama EBI yaitu Eco Business Indonesia. Terinspirasi memberikan nama itu, karena saya ingin membuat trend green business di Indonesia. Selain itu, sedikit kisah dari nama EBI tersebut. Inisial E nya diambil dari nama saya yakni Edy, BI nya disini adalah Bank Indonesia yang telah memberikan pendanaan ketika kami lolos program assessment untuk grand entrepreneur. Maka dari itu, ide pertama mucul nama EBI juga bisa dikaitkan dengan Edy dan Bank Indonesia, “ jelas Edy. Adapun, untuk nama BAG nya sendiri berasal dari produk awal yang dimunculkan, yakni produk tas.

Edy memiliki alasan mengapa produk yang pertama kali muncul adalah sebuah tas. “Jika dianalisis dari segi market nya, perempuan lebih banyak memiliki barang — barang kerajinan dan daya belinya lebih tinggi dibandingkan dengan laki — laki. Selain itu, perempuan biasanya punya tas lebih dari satu. Sedangkan laki — laki kalau rusak baru diganti. Nah dari situ kita melihat produk tas untuk segmen perempuan lebih tepat,” tutur Edy. Tidak hanya tas, EBI BAG juga membuat produk lain seperti karikatur sampah, bando, bros, dan dompet dengan berbagai ukuran. Selain itu, penggunaan jumlah sampah untuk satu buah produk juga dijelaskan pada website EBI BAG.

Dalam menjalankan bisnis EBI BAG, Edy dibantu beberapa rekannya yakni Alfiatus Syifa, Ida Ayu, Nadya Ahsanul, Nindy, dan Ibu Eli sebagai tim produksi. Tim produksi adalah pengrajin atau mitra binaan yang disebut ranger. Adapun, pemasaran produk EBI BAG dilakukan dengan cara online dan offline. Untuk pemasaran online melalui media sosial dan website, sedangkan offline memanfaatkan pameran sebagai wadahnya. Lalu, porsi hasil penjualan dibagi menjadi 70 % dan 30 %, dimana 70 % untuk mitra binaannya dan 30 % untuk pengembangan perusahaan.

Pada acara pengabdian masyarakat yang diadakan Universitas Dr. Moestopo beberapa waktu yang lalu, yang didalamnya Edy berlaku sebagai pembicara, Ibu Muayyah menjelaskan urutan dari proses produksi EBI BAG disela-sela praktik membuat tas dari sampah rumah tangga. Prosedur pembuatan EBI BAG yang pertama, gunting dan lebarkan bungkus kopi bekas pakai. Kedua, lipat bungkus kopi dengan memperhatikan gambar pada bungkus kopi yang nantinya akan menjadi motif tas. Ketiga, gunting sisa bahan yang tidak terpakai lagi. Keempat, lipatan tadi tekuk menjadi 2 dengan bentuk memanjang. Kelima, buat kembali lipatan dengan bungkus kopi yang baru, lalu sambungkan 2 lipatan bungkus kopi dengan cara melintang. Keenam, ulangi langkah diatas hingga membentuk rantai. Ketujuh, setelah 1 rantai jadi, buat kembali rantai selanjutnya lalu digabung dengan cara ditumpuk keatas. Kedelapan, ulangi langkah ke-7 hingga membentuk seperti dompet atau tas, lalu sambung bagian bawah benang dan bagian atas sleting.

Edy berharap program ini akan terus berlanjut dan bisa menginspirasi banyak orang. Ia juga berkeinginan untuk memiliki marketplace yang khusus untuk produk daur ulang. Selain bisnis EBI BAG, Edy memiliki program CLBK (Cerdas Luar Biasa Kreatif). Ia menerima siapapun yang ingin bergabung dalam programnya tersebut. “Bagi siapapun yang ingin mengajar, setiap hari minggu kita ada kegiatan belajar dari CLBK dengan anak — anak di taman baca. Selain itu, bagi yang memiliki passion dibidang desain bisa juga bergabung” tutup Edy.

Alif Alvian

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *