World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia, telah mengadakan Diskusi Konservasi (DisKo) mengenai kondisi dugong saat ini. Ada beberapa yang perlu diketahui oleh masyarakat mengenai peran dugong di lautan dan aturan-aturan untuk melestarikannya.

Sabtu (30/9), WWF-Indonesia telah melaksanakan DisKodi Jakarta Creative Hub, Graha Niaga Thamrin Lt. 1, Jakarta. Tema yang diangkat pada DisKo kali ini ialah “Ada Apa dengan Dugong?”.  Program yang sudah diadakan sejak tahun 2015 ini, menjadi pertama kali diadakan di Jakarta. Pada tahun-tahun sebelumnya, WWF-Indonesia mengadakannya di Rumah Panda, Bandung. “Ini merupakan kali pertama kita mengadakan DisKo di Jakarta. Sebelumnya, kami mengadakannya di Bandung,” ujar Sani selaku pembawa acara DisKo. Pada DisKo kali ini pun, peserta yang mendaftar berjumlah 200 peserta. Namun, dibatasi untuk hadir pada acara tersebut.

Acara yang dimulai sejak pukul 16.00 ini, berisi materi pengenalan dugong, habitat, jenis makanan dugong dan kondisinya di Indonesia saat ini. Materi kali ini dipaparkan oleh Sheyka N. Fadela selaku Marine Species Program WWF-Indonesia. Di awal materi, Sheyka menyampaikan bahwa dugong bukanlah jenis ikan, melainkan salah satu jenis mamalia laut. Sebab, banyak dari masyarakat Indonesia mengenal mamalia laut satu ini sebagai salah satu jenis ikan. Dugong yang merupakan anggota ordo Sirenia ini hanya terdapat di Indonesia. Walaupun begitu, ada anggota Sirenia lain seperti manatee yang terdapat di Amerika. Perbedaan mendasar antara dugong dan manatee terdapat pada bentuk fisiknya, seperti ekor dugong yang berbentuk ekor ikan dan manatee yang berbentuk kipas. Meski begitu, keduanya dikenal dengan sapi laut yang dapat menyuburkan seagrass. “Manfaaat adanya dugong di seagrass sama seperti sapi. Dugong bisa menggemburkan atau menaikkan tanah subur yang tidak terdapat dipermukaan ketika sedang makan lamun,” ungkap Sheyka N. Fadela.

Sheyka juga menyampaikan, bahwa dugong bisa ditemukan di laut dangkal dengan kedalaman 1−10 meter. Selain itu, biasanya dugong ditemukan sendiri dan tidak bersama pasangan atau sejenisnya. Keberadaan dugong di padang lamun sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup ekosistem di dalamnya. Sebab, ketika dugong makan di padang lamun, ia akan menaikkan tanah subur ke atas permukaan dan meningkatkan kualitas nutrisi yang terdapat pada ladang lamun. Dengan begitu, akan banyak ikan-ikan yang datang ke padang lamun. “Ikan-ikan yang akan datang antara lain, kakap merah, kakamba, penyu dan baranang,” tutur Sheyka.

Meskipun begitu, kondisi dugong pada saat ini memprihatinkan. Banyak laporan yang didapat oleh WWF-Indonesia, tentang kasus dugong yang terdampar dan dibunuh, terjerat jaring nelayan dan dipelihara masyarakat. Salah satu contoh kasusnya, yaitu di Desa Ransiki, Manokwari, Papua Barat. “Pada saat itu, ada yang memelihara bayi dugong yang induknya sudah meninggal. Ketika diminta pemerintah agar bayi dugong dilepaskan, warga yang memelihara meminta uang sebanyak Rp 15.000.000. Pada akhirnya, bayi dugong tersebut mati,” papar Sheyka. Selain itu, adanya mitos mengenai air mata dugong membuat masyarakat memburu dugong untuk mendapatkan air matanya.

Mengenai tindakan untuk melindungi dugong saat ini, sebenarnya pemerintah telah membuat peraturan tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang terdapat di Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 1999 dan Undang-Undang No. 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan tersebutlah yang menjadi dasar untuk melindungi satwa liar seperti dugong. Selain itu, WWF-Indonesia pun memberikan panduan untuk melindungi dugong. “Masih ada tindakan yang bisa kita lakukan, pertama menjadi wisatawan bijak dan menghargai peraturan wisatawan tiap daerah. Kedua, hindari membeli daging, air mata, taring dan bagian tubuh dugong lainnya. Ketiga, partisipasi di dalam kegiatan konservasi seperti riset dan edukasi mengenai aturan konservasi,” jelas Sheyka.

Muhammad Abdul Hakim Faqih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *