lpmindustria.com – Harian Kompas telah salah mengira bahwa Sekolah Tinggi Manajemen Industri Indonesia (STMII) Jakarta sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang dicabut perizinannya oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ialah Politeknik STMI Jakarta. Menanggapi hal tersebut, Kemenperin telah meminta klarifikasi kepada Harian Kompas.

Jumat, 13 Oktober 2017, Harian Kompas menerbitkan pemberitaan mengenai Pemerintah Cabut Izin 25 PTS melalui Koran Kompas dan laman Kompas.id. Pada artikel tersebut, mengatakan bahwa sejak 2016, ada 25 PTS yang dicabut perizinannya oleh Kemenristekdikti. Demi menguatkan pemberitaan, Harian Kompas menelusuri 25 PTS tersebut, salah satunya ialah Sekolah Tinggi Manajemen Industri Indonesia (STMII) Jakarta. Namun, Harian Kompas malah mendatangi Politeknik STMI Jakarta yang sebelumnya dikenal Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI). Padahal maksud Kemenristekdikti ialah STMII Jakarta, yang berlokasi di Jalan Tanjung Duren Barat III, Jakarta Barat.

Pada isi pemberitaan tersebut, juga terdapat kutipan dari mahasiswi Politeknik STMI Jakarta yang mengeluh karena tidak dapat mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), sebab ijazah tidak diakui negara. Selain itu, adanya kutipan Pembantu Direktur (Pudir) 1 menambahkan kerisauan dari mahasiswa Politeknik STMI Jakarta. “Pembantu Direktur I Politeknik STMI Jakarta Ridzky Kramanandita menyatakan tidak tahu-menahu pencabutan izin operasional itu,” dikutip dari harian Kompas.

Pada isi pemberitaan tersebut, Harian Kompas mengatakan bahwa Politeknik STMI Jakarta merupakan PTS. Padahal, Politeknik STMI Jakarta merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah naungan Kemenperin RI. Pihak Pudir I pun telah mengeluarkan klarifikasi mengenai informasi pada Harian Kompas di laman www.stmi.ac.id. Melalui pernyataan tersebut, Pudir I mengatakan bahwa pihak Kemenperin RI, yakni Setia Utama selaku Kepala Biro Humas Kementerian Perindustrian akan melayangkan permintaan agar Kompas meluruskan pemberitaannya.

Kemudian, tepat pada Sabtu, 14 Oktober 2017, Harian Kompas telah menerbitkan artikel berjudul Pencabutan Izin PTS Mahasiswa Pihak yang Paling Dirugikan, melalui Koran Kompas dan Laman Kompas.id. Melalui artikel itu, Kompas meluruskan pemberitaannya. “Dalam berita tertulis, yang dicabut izinnya adalah STMI Jakarta yang kemudian berganti nama menjadi Politeknik STMI Jakarta. Menurut Setia, STMII dan STMI merupakan Perguruan Tinggi yang berbeda,” tulis klarifikasi harian Kompas. Selain itu, ada kabar bahwa lulusan Politeknik STMI Jakarta tidak bisa mendaftar CPNS. “Jika ada yang terkendala tes CPNS, kemungkinan mahasiswa itu lulusan 2011 dan 2012, karena tahun 2008─2012 belum ada yang diakreditasi selain program studi Teknik Manajemen Industri (TMI),” tutur Ridzky Kramanandita.

Pemberitaan seperti ini memang sudah ada sejak tahun 2016, sehingga banyak mahasiswa yang menjadi khawatir terhadap legalitas Politeknik STMI Jakarta. Namun, status legalitas Politeknik STMI Jakarta sudah diakui oleh BAN-PT. Terbukti dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) 1325/SK/BAN-PT/Akred/PT/V/2017 pada Mei 2017 dengan akreditasi B. “Berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT), program studi dan ijazah Politeknik STMI Jakarta dengan kode PT 435002 adalah legal. Maka dari itu, pernyataan seorang mahasiswa bahwa ijazah tidak diakui negara adalah tidak benar. Lulusan yang akan mendaftar CPNS tetap diakui ijazahnya,” tutur Setia Utama, melalui klarifikasi harian Kompas. Hal itu membuktikan bahwa Politeknik STMI Jakarta merupakan perguruan tinggi yang masih legal dan terakreditasi.

Ary Yogatama

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *