lpmindutria.comProduksi mobil di Australia tengah mengalami krisis. Selain Ford, pabrikan otomotif seperti Toyota dan Holden juga menutup pabrik mereka yang berada di Australia pada bulan Oktober ini. Penutupan pabrik tersebut menyebabkan ribuan pekerja kehilangan mata pencahariannya.

Perusahaan Holden akan menutup pabriknya di Adelaide, Australia Selatan pada tanggal 20 Oktober 2017. Akibat dari penutupan ini, ada 994 orang yang terkena dampak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Seperti dilansir dari laporan ABC, jumlah karyawan yang di-PHK tersebut akan menambah daftar pengangguran dari perusahaan mobil di Australia.

Penutupan pabrik Holden ini akibat dari kerugian yang cukup besar. Selama tiga tahun berturut – turut mulai dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014, Holden telah mengalami kerugian sebesar $962 juta. Namun, dua tahun sebelum Holden menutup pabriknya, mereka meraup keuntungan sebesar $128 juta pada tahun 2015 dan $152,8 juta ditahun 2016.

Sebelum Holden mengabarkan akan menutup pabriknya, tanggal 3 Oktober 2017 lalu pabrikan mobil asal Jepang yakni Toyota juga menutup pabrik mereka di Altona, Australia. Adapun, kabar penutupan pabrik Toyota telah diumumkan sejak Februari 2017. Pada tahun 2013 Toyota sudah mengalami kerugian hingga $437 juta, nomor dua terbesar setelah Holden. Akibat dari penutupan pabrik Toyota tersebut, sekitar 2.500 orang menjadi pengangguran.

Kandasnya Holden dan Toyota pada bulan Oktober ini menjadi tanda berakhirnya pabrik mobil di Australia. Sebelum mereka, Ford, produsen mobil asal Amerika Serikat telah lebih dulu mengibarkan bendera putih. Pabrik mereka yang terletak di Broadmeadows dan Geelong ditutup pada Oktober tahun lalu. Sama halnya seperti Toyota dan Holden, Ford juga mengalami kerugian sebesar $1,05 miliar sejak tahun 2011 – 2015.

Dampak tutupnya Toyota sudah diprediksi Geyle Tierney, Menteri Pelatihan dan Keterampilan Victoria. Menurutnya dampak dari tutupnya Toyota ini akan lebih besar daripada tutupnya Ford. Sebab, jumlah mantan pekerja Toyota lebih banyak dibandingkan dengan Ford dan Holden. “Akan ada ratusan bahkan ribuan orang yang mencari pekerjaan ke pasar buruh disaat yang sama,” ungkap Tierney seperti dilansir dari ABC.

Matinya industri pabrik mobil di Australia berdampak besar pada perekonomian Negeri Kangguru itu. Menurut cacatan Adelaidenow, salah satu faktor penyebab matinya industri ini adalah tarif pajak rendah yang diterapkan di Australia untuk mobil impor. Dampaknya harga mobil impor jadi lebih murah daripada mobil yang dibuat oleh pabrik mobil Australia.

Walaupun telah ditutup, eksistensi merek – merek seperti Toyota, Ford, atau Holden akan tetap ada, namun bukan sebagai produk yang dibuat di Australia. Selain itu, ribuan mantan pekerja dari industri mobil akan menjadi permasalahan yang dihadapi Australia. Namun, politisi federal Australia menyatakan bahwa semuanya akan baik – baik saja, karena masih ada bidang selain otomotif yang memerlukan keterampilan para pekerja tersebut. “Politisi federal mengatakan semua akan baik – baik saja karena hilangnya pekerjaan didunia Otomotif akan digantikan dengan pekerjaan lain yang juga memerlukan skill tinggi, walaupun itu semua belum terjadi,” ujar Paul Difelice, Serikat Pekerja Manufaktur Australia, kepada ABC .

Oktario Tommy Saputra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *