lpmindustria.com – Limbah kopi yang bersifat asam berpotensi menjadi sumber penyakit. Tim Peneliti Coffee For Social Welfare (CFW) Universitas Jember berupaya untuk mengatasi maslah limbah kopi dengan mengolahnya menjadi briket (blok bahan bakar).

Indonesia terkenal sebagai penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia dan pengekspor kopi robusta terbesar ke-2 di dunia. Namun dalam proses produksi kopi tentunya dapat menghasilkan limbah seperti cangkang kopi atau kulit kopi. Efek yang ditimbulkan dari limbah kopi yakni dapat mencemari udara, sungai, dan tanah. Untuk menangani masalah tersebut, Tim Peneliti Coffee For Social Welfare (CFW) Universitas Jember berinisiatif mengolah limbah kopi agar bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. “Limbah kopi itu bersifat asam, sehingga tidak bagus untuk tanah dan berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Biasanya masyarakat yang berada di sekitar limbah kopi sering sakit-sakitan, sehingga perlu ada upaya mengolah limbah dengan baik dan membawa berkah bagi masyarakat sekitar,” tutur Soni Sisbudi, Anggota Tim Peneliti Coffee For Social Welfare (CFW), kepada okezone.com.

Dosen dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember itu bersama mahasiswanya berupaya agar limbah kopi dapat dijadikan bahan bakar dan dapat digunakan di masyarakat. “Limbah kopi dapat digunakan sebagai bahan bakar, bahan bakar berupa briket berbahan dasar kulit kopi. Proses pembuatannya cukup mudah yakni limbah kulit kopi dikeringkan hingga kadar airnya dibawah 12 persen,” jelas Soni Sisbudi.

Setelah limbah kopi dikeringkan, lalu ukurannya diperkecil dan dicampurkan dengan grajen kayu (baca: serbuk kayu) atau arang sekam yang sudah diolah dengan lem berbahan ketela. Kemudian limbah kopi dimasukkan ke mesin pencetak lalu dikeringkan kembali. Soni menambahkan untuk membuat bahan bakar tersebut tidak memerlukan biaya yang besar.  Biaya untuk membuat satu kilogram briket (baca: blok bahan bakar) hanya memerlukan Rp 6.500 saja.

Bahan bakar ini selain ramah lingkungan juga dapat mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga di masyarakat. “Setiap kilogram bisa untuk memasak nasi 1 kilogram, masak air dan masak lauk pauk selama 8 jam, sehingga lebih hemat 25 persen dari total biaya gas bersubsidi dan sangat membantu mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga,” ujarnya seperti dilansir tirto.id. Tidak hanya itu, Soni dan tim nya juga berhasil memproduksi kompor hemat energi yang bahan bakarnya menggunakan limbah kulit kopi. Kompor tersebut akan diproduksi massal untuk dibagikan atau dijual dengan harga murah kepada masyarakat sekitar perkebunan kopi. “Tidak hanya kulit kopi, ranting dan daun kopi pun bisa diproses sebagai bahan bakar kompor yang kami produksi. Api yang dihasilkan cukup besar sehingga bisa digunakan untuk rumah tangga ataupun usaha kecil seperti para penjual gorengan,” tambahnya. Ia berharap kompor buatannya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kopi. Selain itu, Soni dan tim nya akan membimbing masyarakat agar bisa memproduksi kompor dan briket secara mandiri. 

Achmad Adi Surachman

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *