lpmindustria.com – Mass Rapid Transit (MRT) dinilai menjadi solusi kemacetan yang melanda Ibu kota Jakarta. Namun, terdapat ironi dibalik proses pembangunan MRT tersebut seperti lahan sengketa dan sepinya pengunjung di pusat perbelanjaan Fatmawati.

Proyek MRT adalah proyek yang diyakini sebagai solusi kemacetan di DKI Jakarta. Proyek MRT pertama kali dicanangkan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie pada tahun 1986. Dalam perancangannya, proyek MRT sempat terhenti selama kurang lebih delapan belas tahun. Kemudian, perancangan proyek ini kembali dilakukan pada masa kepemimpinan Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, proses pembangunan proyek MRT baru dilaksanakan pada oktober 2013 saat DKI Jakarta dipimpin oleh Gubernur Jokowi.

Pembangunan proyek MRT Jakarta dimulai dengan membangun jalur MRT Fase I sepanjang kurang lebih 16 kilometer dari Terminal Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. Jalur tersebut memiliki 13 stasiun dan 1 Depo. MRT sendiri dirancang untuk dapat menampung 173.400 penumpang dengan total rute yang akan diselesaikan selama 30 menit dan jarak antar kereta setiap lima menit sekali. Hal tersebut dipercaya akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan.

Sejak dimulai pada tahun 2013 lalu, pembangunan proyek MRT sudah dalam penyelesaian tahap satu. “Tahap satu per September kemarin sudah 80,15 persen, terdiri pembangunan bawah tanah (underground) 90 persen, dan pembangunan layang (elevated) 70 persen,” jelas ‎ William Sabandar, Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Dalam situs resmi PT MRT Jakarta, Pemerintah dan PT MRT Jakarta sendiri sedang berusaha merampungkan proyek ini sampai Maret 2019.

Meskipun demikian, terdapat beberapa masalah dalam proses pembangunan proyek MRT seperti sengketa lahan di Jalan Haji Nawi kawasan Fatmawati, Jakarta. Menurut William terdapat tiga lahan yang masih bersengketa. Hal itu karena masih ada gugatan yang sedang di proses di Mahkamah Agung. Selain sengketa lahan, pembangunan proyek MRT juga berdampak pada matinya usaha kecil dan menengah yang berada di sepanjang Jalan Raya Fatmawati.

Seperti dilansir dari trito.id, hampir semua toko di titik pembangunan MRT tidak beroperasi lagi. Penyebabnya sejak ada penyempitan jalan yang hanya bisa dilintasi satu mobil dan berimbas pada hilangnya lahan parkir di depan toko. Pusat – pusat perbelanjaan di jalan itu pun terkena efek yang sama. Tiga pusat perbelanjaan seperti ITC Fatmawati, Lotte Mart (di pertigaan Jalan Cipete Raya) dan Plaza Mebel sepi pengunjung. Bahkan saking sepinya, seperti terjadi di Plaza Mebel, beberapa penyewa ruko memutuskan angkat kaki dan memindahkan usaha mereka. “Mulai sepi ketika proyek pembangunan tiang pancang dilakukan. Dulu, sebelum ada proyek, masih normal – normal saja. Bahkan saat ini, ada satu toko di Plaza Mebel yang buka tapi barangnya tidak laku,” ujar Sudrajat, pengelola kompleks Pertokoan Plaza Mebel. Ia juga manambahkan, bahwa omset penjualan mebel turun hingga 50 persen.

Melihat hal tersebut baik Pemerintah ataupun PT MRT Jakarta, masih tetap fokus dengan target penyelesaian proyek ini. Sehingga pembangunan proyek MRT tetap dilanjutkan meskipun belum ada solusi pasti yang ditawarkan pemerintah mengenai permasalahan yang ada. Saat ini, PT MRT Jakarta sedang mematangkan kontrak konsultan untuk menggarap basic engineering design pada proyek MRT fase II.

Krisdiastuti

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *