lpmindustria.com – Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara (MACAN) merupakan museum seni modern dan kontemporer yang menyajikan karya seni dari benua Asia hingga benua Amerika. Terdapat sekitar 90 karya seni dari 70 seniman berbakat  yang ditempatkan di berbagai ruang museum.

Museum MACAN merupakan salah satu museum seni modern dan kontemporer di Indonesia. Museum yang berlokasi di Wisma Akr, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini baru diresmikan awal bulan November tahun 2017. Museum tersebut merupakan perwujudan visi dari Haryanto Adikoesoemo selama satu dekade yang bermimpi mendirikan ruang seni pameran di Jakarta. Dalam rangka mendukung visi dari Haryanto Adikoesoemo, Yayasan Museum MACAN beserta tim profesionalnya mendirikan suatu museum yang diberi nama Museum MACAN. “Museum yang dibuka untuk publik ini adalah sebuah realisasi dari visi yang ayah saya miliki selama lebih dari 10 tahun, dan diwujudkannya oleh Yayasan Museum MACAN dan sebuah tim professional yang dipimpin oleh Aaron Seeta,” tutur Fanessa Adikoesoemo selaku Chairwoman Yayasan Museum Macan.

Terdapat 90 karya seni yang disajikan oleh Museum Macan. Karya seni tersebut berasal dari 70 seniman ternama didunia, setengah diantara senimannya berasal dari Indonesia, seperempat berasal dari Asia, dan sisanya berasal dari Amerika dan Eropa. Nina Hidayat selaku staf komunikasi museum MACAN memaparkan untuk seniman Indonesia yang paling senior di Museum MACAN ialah Raden Saleh. “Salah satu lukisan Raden Saleh merupakan lukisan yang paling tua di dalam pameran, lukisan tersebut dibuat pada tahun 1835. Bukan hanya Raden Saleh seniman asal Indonesia yang karya lukisannya terpajang di Museum MACAN, namun karya lukisan dari Sujoyono juga turut dipamerkan,” tutur Nina Hidayat. Beralih dari Indonesia, beberapa karya lukis seniman yang berasal dari China seperti Cai Guo Qiang dan Wang Guangyi juga terpajang di Museum ini.

Museum MACAN ini bertemakan seni berubah dunia berubah. Tema tersebut diambil berdasarkan pengaruh kejadian di dunia yang mampu mempengaruhi ekspresi artistik seni. “Dunia berubah seni berubah merupakan arti bahwa kejadian-kejadian di dunia ini mempengaruhi ekspresi artistik dari seni itu sendiri,” jelas Nina Hidayat. Secara garis besar, Museum MACAN terbagi atas empat bagian berdasarkan perbedaan waktu periode karya seni tersebut diciptakan. Empat bagian tersebut terdiri dari Land Home People (1800an-1945), Independence and After (1945-1965), Struggles Around the Form (1965-1998), dan The Global Soup (1998-seterusnya). Tidak hanya menyajikan karya seni, Museum MACAN pun memiliki beberapa program untuk para pengunjung. “Setiap akhir pekan kami mengadakan diskusi seni yang diisi oleh beberapa seniman,” tambah Nina.

Land Home People
Independence and After

Selain dari hal penyajian karya seni, dekorasi dan penempatan isi museum yang apik dan modern menunjukkan bahwa Museum MACAN berbeda dari museum-museum lainnya. “Menarik banget museum ini, karena masyarakat secara umum hanya mengetahui museum itu kuno. Namun, museum ini berbeda, museum ini dikemas secara modern,” tutur Helga yang berprofesi sebagai freelance photographer. Helga pun memaparkan bahwa isi dari museum ini sangat kompleks sehingga museum ini bisa dinikmati dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

Linda Rohmata Sari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *