lpmindustria.com – Kurang maksimalnya perbaikan sarana dan prasarana Masjid Nurul Ilmi disebabkan oleh kurangnya dana dari pihak DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dan Politeknik STMI. Pihak kampus akan mengupayakan perbaikan tersebut apabila ada anggaran dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan anggaran sisa di akhir tahun 2017.

Sejak awal tahun 2017, pihak kampus telah melakukan perbaikan beberapa sarana dan prasarana di Politeknik STMI. “Perbaikan sebenarnya dilakukan sejak awal tahun ini. Mulai dari perbaikan laboratorium, komputer, dan sarana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),” ujar Dedy Trisanto selaku Pembantu Direktur 2 Politeknik STMI. Perbaikan tidak hanya dilakukan pada fasilitas yang menunjang seluruh kegiatan akademik, tetapi juga pada fasilitas keagamaan seperti yang ada di Masjid Nurul Ilmi. “Sekarang sudah tersedia mikrofon baru sebagai pengganti mikrofon yang telah rusak dan kamera closed-circuit television (CCTV) di tempat wanita,” ungkap Rofan Frenansya selaku ketua Ikatan Remaja Masjid Nurul Ilmi (IRMANI).

Menurut beberapa mahasiswa, perbaikan sarana dan prasarana masjid dirasakan belum semuanya terpenuhi. “Kondisi lantai tempat wudu wanita yang kotor dan licin, mading di tempat wanita yang tidak berfungsi, matinya salah satu kipas angin, dan cat masjid yang telah pudar,” kata Mutiara Larashaty selaku mahasiswa Politeknik STMI. Rofan juga menambahkan bahwa kondisi kamar mandi di tempat pria kurang berfungsi maksimal dan hilangnya penutup lemari Al-Qur’an.

Kurangnya dana yang tersedia menjadi salah satu kendala dalam melakukan perbaikan. “Sumber alokasi dana untuk masjid sampai saat ini  hanya dari DKM. Namun dana dari DKM masih kurang karena dana hanya dari pemasukan infak masjid setiap hari jum’at dan kotak tahunan masjid,” tutur Andi Bachtiar Wadeng selaku ketua DKM Nurul Ilmi. Selain infak masjid, terkadang alumni Politeknik STMI dan pihak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga turut memberikan bantuan. Anggaran untuk perbaikan masjid sebenarnya tidak hanya dari DKM, tetapi juga dari pihak kampus. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan anggaran tersebut tepakai untuk keperluan lain. “Padahal di awal tahun kita telah menganggarkan untuk masjid. Repotnya anggaran kita terbatas, jadi harus melihat yang lebih prioritas dahulu. Contohnya kemarin ada banding akreditasi prodi TIO, akhirnya dana terserap lagi ke sana,” tegas Dedy.

Meskipun anggaran lebih diprioritaskan ke akademik, namun pihak STMI tidak mengesampingkan keperluan yang lain, “Setelah perbaikan sarana KBM selesai, kita akan menyisihkan anggaran untuk sosial. Sosial dalam artian di sini adalah masjid. Contohnya kemarin kita telah lengkapi masjid dengan CCTV,” ungkap Dedy. Beliau juga menambahkan bahwa sebelumya sudah ada pembicaraan untuk pengecatan masjid dan perbaikan tempat wudu. Namun hal tersebut belum dilaksanakan karena terkendala dari desakan para dosen yang berkaitan dengan masalah rusaknya infocus kelas , ditambah sound system dan infocus utama aula lantai 7 yang bermasalah.

Banyaknya perbaikan pada sarana dan prasarana masjid, maka pihak kampus sedang berupaya untuk mendapatkan anggaran dari pihak lain. Namun tidak menutup kemungkinan jika anggaran tersebut kembali digunakan untuk keperluan akademik. “Sekarang kita memang sedang menunggu tambahan anggaran dari dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kita akan melihat masalah masjid kembali, tetapi prodi ABO sendiri minta kebutuhan untuk laboratorium. Nah nantinya, apakah anggaran untuk masjid akan terbagi lagi atau tidak,” tutup Dedy.

Aliya Nur Fathiya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *