lpmindustria.com – 25 November merupakan momentum untuk mengenang pahlawan tanpa tanda jasa, Guru. Namun, sudahkah mereka diperlakukan secara manusiawi terkhusus guru honorer?

Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghormati jasa pahlawannya, tak terkecuali guru. Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Bagaimana tidak, pendidikan yang bermutu pada suatu bangsa dipikul perannya, sungguh mulia dirinya. Ia pencetak generasi penerus, tanpanya kebodohan bagai buih di lautan. Ia merupakan panutan siswa-siswinya, mengajarkan setiap sikap leluhur yang menjunjung tinggi nilai Pancasila. Namun, sudahkah pemerintah mengimbangi jasa guru dengan kesejahteraan yang mereka dapatkan, terkhusus guru honorer.

Berdasarkan laporan Education Efficiency Index, dari 30 negara yang masuk dalam survei mengenai gaji guru, Swiss merupakan puncak tertingi dengan nilai Rp 950 juta pertahun. Indonesia menduduki peringkat buncit dengan gaji Rp 39 juta pertahun. Gaji guru PNS berkisar Rp 1,4 juta–Rp 5,6 juta sesuai golongan kepegawaiannya. Berbeda dengan guru honorer, surat dari pengurus besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kepada Presiden RI, rata-rata penghasilan guru non-PNS pada 2012 adalah Rp 200 ribu.

Nasib guru honorer semakin kabur bahkan terkubur, pemerintah hanya mampu berucap janji tanpa realisasi. Ungkapan pemerintah untuk menjadikan guru honorer menyandang status PNS guna meningkatkan kesejahteraan, hanya bualan belaka. Geram dengan sikap pemerintah, aliansi guru honorer pun sering mengadakan demonstransi guna mengangkat martabatnya, tak hanya di ibu kota bahkan di sudut provinsi, di Kota Serang, Banten salah satunya. Ratusan honorer menuntut janji politik Wahidin Halim dan Andika Hazrumy yang sempat berjanji akan menyejahterakan dan menyelesaikan persoalan pegawai honorer hingga tuntas. Bukan hanya kasus menuntut janji, bahkan di Medan, Sumatera Utara sejak Januari 2017 gaji guru honorer tak kunjung cair.. 

Terbesit pertanyaan yang memilukan muncul dalam benak saya. Masihkah mereka memiliki peran dalam dunia pendidikan? Seberapa butuhkah dunia pendidikan terhadap mereka? Lantas, mengapa mereka tak dimanusiawikan? Seperti kita ketahui, banyak dari mereka mengantongi ijazah sarjana, tetapi gaji mereka hanya menjadi bahan ketawa. Jika kita bandingkan dengan seorang buruh yang hanya menyandang tingkat Sekolah Dasar, tetapi memiliki gaji sekitar Rp 1 juta, ironis.

Namun, mengapa mereka masih bertahan bertahun-tahun, bahkan sampai puluhan tahun meski mereka tak mengantongi kesejahteraan hidup yang layak. Tentu semua ini tentang kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, meski tak cukup dengan hanya mengandalkan gaji guru honorer untuk menyambung hidup. Menjadi multitalenta adalah hal yang lumrah bagi guru honorer saat ini, seperti mengajar dua mata pelajaran yang berbeda, bahkan banting setir dari seorang guru menjadi tukang ojek demi memenuhi kebutuhan hidup. Tak hanya itu, pengabdian mereka terhitung sampai bertahun-tahun membangun loyalitas dalam diri mereka hingga menjadi pengajar sudah mendarah daging dalam diri mereka

Bangsa Indonesia kini harus menyejahterakan kehidupan guru, karena merekalah yang memikul tujuan bangsa Indonesia yang termuat dalam UUD 1945 alinea ke-4 salah satunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka dari itu, sudah sepatutnya penggerak dalam dunia pendidikan diperhatikan kesejahteraannya.

Linda Rohmata Sari

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *