lpmindustria.com – Kedatuan Sriwijaya atau Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah ada di nusantara. Kerajaan ini juga pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah diseluruh dunia, tepatnya pada abad ke-7 sampai abad ke-13

Pada tanggal 3 November sampai 28 November 2017, Museum Nasional membuat acara yang bertajuk Kedatuan Sriwijaya. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat mengenai masa keemasan dari Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya yang berdiri pada abad ke-7 ini memiliki cerita sejarah yang panjang, salah satunya sejarah mengenai perdagangan rempah-rempah. “Event ini diadakan untuk memperkenalkan sejarah Kerajaan Sriwijaya yang besar, karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya merupakan pusat dari perdagangan rempah-rempah di dunia,” ujar Muhammad Salfian selaku pemandu dalam acara Kedatuan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya awalnya merupakan perkampungan yang didirikan oleh Dapunta Hyang. Hal itu dapat dilihat dari Prasasti Kedukan Bukit, prasasti tersebut menjelaskan tentang Dapunta Hyang yang mendirikan sebuah desa bernama Sriwijaya. Seiring berjalannya waktu perkampungan ini berkembang  menjadi suatu kerajaan, yang saat ini dikenal sebagai Kerajaan Sriwijaya. “Kerajaan Sriwijaya itu awalnya hanya perkampungan yang didirikan oleh Dapunta Hyang, lalu terus berkembang menjadi Kedatuan atau Kerajaan Sriwijaya,” ungkap Karina Widiastuti Mahasiswa Universitas Indonesia Program studi Sejarah. Selain itu, di dalam prasasti tersebut juga menjelaskan bahwa Dapunta Hyang memliki ribuan pasukan yang mahir dalam pertarungan darat maupun dilaut.

Kala itu Kerajaan Sriwijaya dikenal dunia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah terbesar. Berbagai macam bangsa datang ke Sriwijaya, seperti China, Arab, Persia dan masih banyak lagi.  “Para pedagang dari seluruh dunia berbondong-bondang datang ke Sriwijaya karena komoditi utama yang paling mahal ada disini,” sambung Karina Widiastuti. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Kerajaan Sriwijaya untuk memungut pajak setiap kapal yang datang. “Jadi pada masa itu pendapatan utama Sriwijaya didapat dari pajak, setiap pedagang luar yang datang pasti akan langsung dikenakan pajak oleh pihak sriwijaya,” tutur Muhammad Salfian. Selain sebagai pusat dagang, Kerajaan Sriwijaya juga memiliki armada perang yang cukup besar. Salah satu armadanya diambil dari Suku Laut atau penduduk asli Pulau Sumatera. “Suku laut bisa membuat senjata sendiri, berperang,  bertahan hidup dilaut, dan keahlian berlayar yang luar biasa. Jadi pada masa itu daerah laut sriwijaya sangat aman, karenakan yang menjaga kelautannya adalah suku yang hidup di laut.” ungkap Karina Widiastuti.

Suasana Acara Kedatuan Sriwijaya di Museum Nasional

Kerajaan Sriwijaya sendiri memiliki Pulau Run, yang mana harga rempah-rempah di pulau tersebut sangat mahal.  “Satu genggam rempah pala kala itu setara dengan 1 kilogram emas pada masa sekarang,” ujar Karina Widiastuti. Saat Belanda datang ke nusantara, Belanda ingin mendapatkan Pulau Run, tujuannya untuk mengeruk seluruh rempah pala yang ada di pulau tersebut. Awalnya penduduk Pulau Run sempat memberikan perlawanan kepada Belanda, namun akhirnya Belanda membantai habis penduduk asli Pulau Run. “Apapun Belanda lakukan demi pala, termasuk melawan sekutunya sendiri yaitu Inggris. Jadi kekayaan hasil alam di nusantara sudah melimpah sejak zaman dahulu, dan sekarang bagaimana kita memanfaatkan kekayaan alam itu sendiri, ” tutup Karina Widiastuti.

Pridi Nurwanto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *