lpmindustria.com – Pada suatu hari, Sang Pencipta tengah memerhatikan alam semesta dari tempatnya di atas langit yang tinggi. Dari banyak hal di alam semesta, ada satu hal yang paling menarik perhatian Sang Pencipta. Hal tersebut ialah cara manusia mengelola tempat tinggalnya, seperti yang pernah ditanyakan oleh penduduk langit lainnya ketika pertama kali manusia diciptakan.

Dengan saksama, Sang Pencipta melihat manusia di bumi saat itu. Di satu kota yang telah hancur karena kekacauan yang terjadi sebelumnya. Mulai dari kekacauan yang disebabkan alam seperti banjir besar dan gempa bumi, sampai kekacauan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Sang Pencipta telah menyaksikan lembar sejarah manusia dari masa ke masa. Semuanya hanya menampilkan sifat keserakahan dan haus akan darah serta peperangan.

Ilustrasi

Sang Pencipta memerhatikan ada seseorang pemuda  dengan pakaian lusuh sedang duduk di antara bangunan-bangunan kota. Sebelum kota tersebut menjadi sangat kacau, pemuda itu merupakan salah satu pejuang nilai-nilai keadilan. Tidak ada satu waktu pun yang ia habiskan selain memikirkan nasib rakyat kota tersebut. Para pemimpin di sana yang sangat serakah dan memberikan penderitaan kepada rakyatnya, tidak luput dari kritikan-kritikannya. Satu hal yang ingin ia dapatkan, sebuah keadilan bagi rakyat-rakyat kecil. Namun semua itu telah berlalu, bagi otaknya yang kecil saat ini hanya berpikir bagaimana ia bisa hidup setiap harinya. Ia pun berpikir di antara bangunan-bangunan yang telah mati ini, pasti masih banyak barang-barang yang bisa di jual dan ia gunakan untuk kehidupannya.

Kemudian, ia mulai mencari sisa-sisa barang yang masih bisa digunakan atau dijual untuk memenuhi kebutuhannya. Saat itu, ia melihat ada satu kedai roti di ujung kota yang menarik perhatiannya. Menurutnya pasti toko tersebut memiliki banyak barang yang masih bisa dijual. “Ini kesempatan ku untuk bisa hidup hari ini,” ungkap pemuda tersebut. Lalu ia memasuki kedai roti tersebut, kedai itu sudah sangat berantakan. Ketika pemuda itu tengah mencari makanan, ia melihat ada seorang anak kecil sedang mengambil makanan yang sepertinya masih layak untuk dikonsumsi. Saat anak kecil itu akan meninggalkan kedai tersebut, pemuda itu segera mengejar anak laki-laki itu dan menangkapnya.

“Apa yang telah kau lakukan di dalam kedai roti itu?”

“Maafkan aku kak, aku pikir kedai ini sudah tidak ada penghuninya. Lagi pula, aku mengenal pemilik kedai ini. Ia adalah laki-laki serakah yang juga suka menipu harga roti yang ia jual kepada pembelinya. Aku pikir, tak masalah jika aku mengambil roti di sini bukan,” ujar anak kecil tersebut.

Mendengar penjelasan anak kecil itu, sang pemuda merasa kesal. Ia berpikir bagaimana bisa anak kecil ini bisa berkata demikian. Lalu, sejenak ia teringat bahwa dirinya pun membutuhkan makanan untuk hidup hari ini. “Kalau begitu, tak masalah bukan jika aku mengambil roti-roti ini dari mu. Sepertinya kau senang mencuri dari kedai roti ini,” Kemudian, ia merampas roti tersebut dan mendorong anak kecil itu ke dalam kedai roti yang begitu berantakan. Seketika anak kecil itu menangis dan berusaha untuk mengejarnya. Tetapi ketika ia keluar kedai, pemuda tersebut sudah tidak terlihat.

Sang Pencipta menyaksikan itu semua dengan saksama. Lalu Sang Pencipta mmemanggil Sang Maut. Kemudian, mereka pun berjalan di antara taman-taman yang mengalir sungai-sungai susu yang indah di bawahnya. Tak ada penampakan yang lebih indah dibanding tempat para penduduk langit ini.

Muhammad Abdul Hakim Faqih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *