lpmindustria.com – Pembangunan industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan dua hal yang dapat terlihat progress-nya jika suatu bangsa mampu menjadikan sumber daya manusianya sebagai penggerak dalam pengelolaan sumber daya alam. Kini, salah satu tantangan terbesar Indonesia dalam pembangunan industri ialah masih kurangnya proses pengembangan inovasi produk atau dikenal Research and Development (R&D).

Indonesia merupakan suatu bangsa besar yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) berlimpah di setiap daerahnya. Hal itu menandakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menyejahterakan negara dan bangsanya melalui SDA tersebut. Namun, Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Kadarsyah Suryadi mengatakan bahwa suatu negara akan maju, jika ekonomi dan industrinya maju. Akan tetapi, keduanya akan maju jika suatu negara dapat menguasai energi, bukan sekadar memiliki energi, tetapi juga mampu mengelolanya. “Banyak negara di dunia yang tidak memiliki energi, tetapi mereka bisa menguasai energi di tempat-tempat lain. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdidik merupakan kunci penting untuk kemajuan industri. Kemudian yang kedua ialah spirit untuk mengakses energi,” tambah Prof. Kadarsyah.

Pada tahun 2017, sumbangan tenaga kerja yang ada di sektor industri telah mencapai 17 juta orang atau 14% dari total tenaga kerja Indonesia di semua sektor. Tenaga kerja memiliki peranan yang sangat besar dalam membangun industri dan meningkatkan perekonomian nasional. “Perekonomian nasional saat ini dapat tercermin melalui beberapa hal, antara lain penyerapan tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat, dan pendapatan negara,” jelas Airlangga Hartanto selaku Menteri Perindustrian saat menghadiri Focus Group Discusssion “Membangun Industri Nasional Berkelanjutan” di Hotel Borobudur, Jakarta.

Berkat usaha dari tenaga kerja, industri, dan pemerintah, kini  pertumbuhan industri nasional telah unggul dibandingkan pertumbuhan ekonomi di triwulan ke-3. Terbukti bahwa kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap industri pengolahan telah menduduki angka 224,9 triliun rupiah. “Industri nasional kita ini telah tumbuh dengan baik, seperti industri logam dasar tumbuh 10,60%, industri makanan dan minuman 9,49%, industri mesin dan perlengkapan 6,35%, industri alat angkut 5,63%, serta industri nonmigas 5,49% ,” papar Airlangga Hartanto.

Ilustrasi Industri Migas

Dengan pertumbuhan industri nasional yang sudah semakin membaik, bukan berarti industri bangsa ini harus merasa jemawa (baca: congkak). Masih banyak tugas bangsa ini yang mesti segera dikerjakan, terlebih mengenai kesiapan Indonesia dalam menghadapi era Industry 4.0 (four point zero). Tantangan industri nasional kini lebih dititikberatkan pada brand awareness (baca: kesadaran merek) yang masih kalah saing dari negara lain. Tak hanya itu, Indonesia juga harus mampu mengembangkan dan menguatkan pengembangan inovasi produk (R&D), serta meningkatkan jaringan pemasaran dan volume produksi. “Banyak negara di ASEAN, Taiwan, Korea, Cina, dan Jepang yang sangat memperkuat proyek Research and Development (R&D). R&D mereka kuat karena didukung oleh tiga pihak, yakni lembaga pendidikan tinggi yang menanggung 2% untuk R&D, pemerintah 30%, dan industri menampung 65%,” jelas Prof. Kadarsyah.

Pengembangan produk merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mempertahankan produk lokal di pasar global. Dengan adanya pengembangan produk, industri dapat melakukan analisis terkait siklus hidup produknya sehingga dapat menyimpulkan bahwa produknya tersebut harus ditambahkan inovasi atau dibuat produk baru yang lebih baik. Pengembangan produk pun dapat menekan biaya produksi serta meningkatkan kualitas penjualan produk itu sendiri. Menurut data World Bank, pada tahun 2000 PDB negara Cina telah mencapai 954 US dollar, empat belas tahun kemudian telah mencapai 7.500 US dollar. Itu disebabkan oleh sumbangan R&D yang mencapai 1,5% dari PDB, sedangkan Indonesia baru mencapai 0,8%. “Indonesia masih kurang dalam R&D. Saya tegaskan kepada indutri bahwa inovasi teknologi merupakan kunci penggerak pembangunan industri yang berkelanjutan,” tutur Prof. Kadarsyah.

Perguruan tinggi dari UGM, UI, ITS, Unpad, dan ITB telah mendapat dukungan dari pemerintah untuk menyelenggarakan Pusat Unggulan Iptek (PUI) berskala nasional. Tujuannya ialah agar perguruan tinggi di Indonesia dapat membantu industri dalam melakukan pengembangan produk. Research inovasi dapat diperkuat dengan adanya infrastruktur dan peralatan modern yang mengarah pada Industry 4.0, yakni otomasi dan teknologi digital. “Jadi, kami mengundang kepada industri, silakan kirim R&D kepada perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Kalau ada hal yang sekiranya bisa disenergikan untuk R&D ini, kami menjamin hasilnya pun akan dikembalikan kepada industri yang bersangkutan,” tutup Prof. Kadarsyah.

Ary Yogatama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *