lpmindustria.com – Pihak koperasi menjelaskan bahwa salah satu penyebab dari tidak aktifnya ruang fotokopi Politeknik STMI Jakarta yakni tidak adanya operator yang mengoperasikan mesin fotokopi.  

Ruang fotokopi yang berada di lantai dasar (basement) Gedung A Politeknik STMI Jakarta terlihat tidak beroperasi lagi sejak awal semester ganjil 2017. Penyebabnya yakni karena tidak adanya operator yang mengoperasikan mesin fotokopi. Selain itu, sempat terjadi pergantian sistem pengelolaan jasa ini, yang dimana awalnya dikelola oleh pihak Koperasi Politeknik STMI Jakarta kemudian berganti menjadi bagi hasil dengan pihak kedua sebagai pengelola langsung. “Kita akui bahwa pengelolaan fotokopi agak sulit dan menghadapi kendala. Pertama kita mengelola fotokopi sendiri dalam arti diatur oleh koperasi dengan mempekerjakan seorang karyawan bernama Ujang. Namun, beberapa bulan kemudian ia berhenti. Jasa fotokopi lalu dilanjutkan oleh salah satu karyawan kampus dengan sistem bagi hasil dengan pihak koperasi, akan tetapi hanya bertahan beberapa bulan saja,” Tutur Atang Sugiono selaku Ketua Koperasi Politeknik STMI Jakarta.

Kondisi mesin fotokopi yang dimiliki oleh pihak koperasi keadaannya 90% baik, terhitung sejak awal jasa ini dibuka. Walaupun mesin sudah tidak digunakan pada beberapa bulan ini, mesin tersebut masih layak pakai jika ruang fotokopi kembali dioperasikan. “Mesin tetap diletakkan di ruang fotokopi itu, hanya saja tidak tersambung dengan aliran listrik dan tinta kami dikosongkan,” jelas Atang.

Mesin Fotokopi

Pihak Koperasi Politeknik STMI Jakarta juga berencana ingin mengoperasikan kembali jasa fotokopi ini.  “Kegiatan jasa fotokopi ini akan ditargetkan beroperasi kembali diawal tahun 2018 tepatnya bulan Januari,” jelas Atang. Bilamana telah dibuka kembali, pihak koperasi ingin memperluas pemasarannya melalui bekerjasama dengan beberapa perusahaan swasta di sekitar kampus Politeknik STMI Jakarta. Serta pihak koperasi juga akan menambahkan jam operasional jika dibutuhkan nantinya. “Saya ingin mengajak kantor sebelah kerjasama dengan cara sistem fotokopi antar, karena jika bisnis fotokopi yang biasa saja kurang meyakinkan. Lalu jam operasional mungkin bisa ditambahkan, namun saya harus membuat kesepakatan dan izin terlebih dahulu ke bagian tata usaha dan fasilitas serta keamanan,” ungkap Atang. Sistem pengelolaan yang ingin diterapkan oleh pihak koperasi rencananya akan terbagi menjadi dua, yakni pengelolaan langsung dan bagi hasil dengan pihak lain. “Ada 2 kesepakatan, pertama jika untuk orang yang multitalent mau saya gaji saja. Kedua pembagian hasil dengan 60% koperasi dan 40% pihak pengelola, atau 50% koperasi dan 50% pihak pengelola itu juga tidak apa apa. Saya juga tidak enak, karena usaha ini 3 bulan tidak beroperasi,” terang Atang.

Selama usaha ini tidak beroperasi, dampaknya cukup terasa bagi mahasiswa Politeknik STMI Jakarta. “Menurut saya, ketika adanya jasa fotokopi ini sangat memudahkan mahasiswa ketika hendak memfotokopi dokumen atau tugas, karena saya tidak perlu keluar area kampus jika ingin memfotokopi,” ujar Ariefien Satriaji mahasiswa Teknik Industri Otomotif 2016. Menyikapi hal ini, mahasiswa yang membutuhkan jasa fotokopi sedikit memberikan masukan agar jasa fotokopi dapat lebih baik lagi. “Kalau bisa lebih baik lagi, disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa seperti pengerjaannya yang cepat supaya tidak lama menunggu,” harap Irfan Saiful mahasiswa Teknik Industri Otomotif 2016.

Ahmad Raka Zulfikar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *