lpmindustria.com – Berdasarkan arahan dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kepada Politeknik STMI Jakarta untuk menerapkan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama enam bulan. Oleh karena itu, pihak kampus harus melakukan berbagai persiapan demi terlaksananya program tersebut.

Politeknik STMI Jakarta terus berupaya menjadi pelopor untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja berkompeten di sektor industri. Dengan demikian, kurikulum yang diterapkannya pun harus bisa mengacu kepada kebutuhan dunia industri saat ini. Salah satu kurikulum yang disesuaikan dengan industri adalah program Praktik Kerja Lapangan (PKL). Program PKL merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa. Dengan adanya program ini, mahasiswa diharapakan mampu menerapkan ilmu yang didapat selama perkuliahan untuk digunakan dalam praktik kerja di industri.

Sehubungan dengan program PKL, maka Politeknik STMI Jakarta akan menerapkan program PKL selama enam bulan. Program PKL selama enam bulan tersebut merupakan kebijakan baru sesuai dengan arahan dari Pusdiklat Kemenperin. Hal ini juga disesuaikan oleh keinginan beberapa industri agar mahasiswa melaksanakan PKL selama enam bulan. “Jadi, yang pertama memang arahan dari Pusdiklat, bahwa kampus harus menerapkan program PKL selama enam bulan bahkan sampai satu tahun. Kemudian saya juga bertanya kepada industri mengenai idealnya magang di perusahaan, dan perusahaan pun memang meminimalkan magang selama enam bulan,” ungkap Ridzky Kramanandita, Pembantu Direktur (Pudir) I Bidang Akademik.

Terkait kebijakan program magang selama enam bulan, beberapa Program Studi (Prodi) sudah menerapkan kebijakan tersebut. Prodi tersebut antara lain, Prodi Teknik Industri Otomotif (TIO), Sistem Informasi Industri Otomotif (SIIO), dan Teknik Kimia Polimer (TKP). Menurut Muhammad Agus selaku Kepala Prodi (Kaprodi) TIO, kebijakan ini dijalankan atas dasar permintaan industri yang mengharuskan PKL selama enam bulan. Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu menyerap ilmu yang didapat selama PKL.

Sedangkan untuk Prodi SIIO menerapkan kebijakan ini dengan membaginya menjadi dua Kerja Lapangan (KL), “Kita sudah menjalankannya dengan menerapkan dua Praktik Kerja Lapangan yaitu KL 1 dan KL 2. KL 1 sendiri untuk melakukan pengamatan di perusahaan, KL ini dilakukan di antara semester tujuh dan delapan dalam waktu satu bulan, sedangkan KL 2 untuk memberikan usulan dari hasil pengamatan sebelumnya dan juga membuat Tugas Akhir (TA). KL 2 dan TA ini dimulai pada semester delapan, sehingga waktunya satu semester penuh. Dengan begitu, Prodi SIIO sebenarnya lebih dari enam bulan untuk kerja lapangan,” ungkap Jacob Saragih, Kaprodi SIIO.

Senada dengan Prodi SIIO, Prodi TKP juga sudah menerapkan program PKL enam bulan. Program enam bulan ini dibagi menjadi beberapa kegiatan, seperti penelitian, kerja lapangan, dan penyusunan laporan. “Pertama, mahasiswa akan melakukan praktik kerja di pabrik selama dua bulan, kemudian melakukan penelitian di lembaga penelitian atau pabrik sekitar 2-3 bulan, dan yang terakhir tahap pelaporan. Jadi semua tahap tersebut kurang lebih membutuhkan waktu enam bulan,” jelas Roosmariharso, Kaprodi TKP.

Berbeda dengan ketiga prodi lainnya, saat ini Prodi ABO belum bisa menerapkan program PKL selama enam bulan. “Saat ini, PKL enam bulan sulit untuk dilaksanakan oleh mahasiswa Manajemen Bisnis Otomotif (MBI). Program ini dirasa kurang matang terkait akan dijalankan di semester tujuh atau delapan,” ungkap Mulyono, Kaprodi ABO. Beliau juga menambahkan bahwa apabila program tersebut dijalankan di semester delapan maka tidak memungkinkan, karena telah digunakan untuk menyusun TA.

Sampai saat ini, pihak kampus tengah melakukan beberapa persiapan untuk membantu mahasiswa agar dapat melaksanakan PKL enam bulan di industri. Persiapan yang dilakukan salah satunya, yaitu terus menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan yang terjalin melalui Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif & Koperasi Industri Komponen Otomotif (PIKKO KIKO). “Saat ini baru bekerjasama dengan perusahaan yang ada di PIKKO KIKO saja dan juga masih mengatur jadwal terkait waktu PKL-nya,” ujar Sakri Widhianto, Kepala Association Business Goverment Community (ABGC). Hal ini pun dibenarkan oleh Ridzky Kramanandita. Beliau mengatakan bahwa untuk kerjasama dengan perusahaan, pihak Politeknik STMI Jakarta melalui direktur yang akan menjalin kesepakatan dengan berbagai industri.

Ruang PIKKO KIKO di Politeknik STMI Jakarta

Pada pelaksanaannya, program PKL selama enam bulan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam pelaksanannya, yakni mahasiswa bisa mendapatkan ilmu yang lebih matang dalam proses PKL, serta dapat memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada industri dalam waktu enam bulan tersebut. “PKL enam bulan ini bertujuan agar mahasiswa bisa mendapatkan ilmunya. Jika program PKL singkat, maka mahasiswa tidak akan mendapatkan apa-apa. Contohnya seperti perubahan attitude, karena perusahaan sangat disiplin mengenai waktu. Sehingga mahasiswa akan dibiasakan dengan kedisiplinan tersebut,” ungkap Muhammad Agus. Sedangkan kekurangan dalam pelaksanaan program PKL enam bulan, yaitu masih ada beberapa industri yang belum menerima mahasiswa untuk PKL selama enam bulan.

 Aditya Pratama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *