lpmindustria.com – Salah satu warisan budaya yang dimiliki Indonesia adalah batik. Namun tak bisa dipungkiri, jumlah pembatik di seluruh pelosok negeri ini semakin berkurang. Terbukti, pembatik yang terlihat selama ini mayoritas sudah berusia lanjut. Berangkat dari hal tersebut, sejumlah aktivis tergerak untuk membuat suatu destinasi wisata edukasi membatik.

Batik yang kita kenal merupakan warisan budaya tak benda milik Indonesia yang di akui oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Tanpa kita sadari, sampai saat ini batik sebagai warisan berada pada titik kritis. Tentunya hal tersebut menggerakkan Budi Darmawan dan Budi Dwi Hariyanto serta teman-teman yang lain untuk membentuk Kampoeng Batik, dimana dalam kampung batik tersebut terdapat para pengrajin muda batik dan berbagai kegiatan membatik. Saat ini, Kampoeng Batik Palbatu yang terletak di Jalan Palbatu IV no. 17 Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan menjadi destinasi wisata edukasi membatik bagi wisatawan. “Kami melihat bahwa batik sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki Indonesia dan sudah diakui dunia saat ini sangat bergantung pada generasi kedepannya. Bahwa warisan budaya itu harus di lestarikan.  Maka kami mengelola suatu kampung yang dapat menjadi alternatif destinasi wisata edukasi membatik, itulah Kampoeng Batik Palbatu,” tutur Budi Dwi Hariyanto selaku penggagas Kampoeng Batik Palbatu.

Pada prosesnya, tidak mudah menjadikan Kampoeng Batik Palbatu sebagai tempat wisata edukasi membatik. Sempat menghadapi berbagai kendala, namun semua itu tidak menggetarkan semangat dari penggagas Kampoeng Batik Palbatu tersebut. “Tahun 2011, kami sudah mendeklarasikan kampung batik ini. Tentunya pada saat itu kami sudah berkordinasi dengan pejabat daerah setempat, baik RT maupun RW dan berbagai tokoh penting masyarakat. Namun tidak ada satupun dari mereka yang menyambut dan mendukung. Bahkan sampai saat ini, pemerintah belum melirik keberadaan kami,” tutur Budi Darmawan selaku penggagas Kampoeng Batik Palbatu. Akhirnya dengan tekad yang kuat, terbentuklah Rumah Batik Palbatu pada tanggal 2 Oktober 2013. Rumah Batik Palbatu ini difungsikan sebagai workshop sekaligus gerai untuk para pembatik. Sehingga kegiatan membatik dapat dilakukan di Rumah Batik Palbatu. “Bertepatan pada hari batik tanggal 2 Oktober 2013, kami bangun Rumah Batik Palbatu. Disinilah seluruh kegiatan membatik dilakukan. Rumah Batik Palbatu ini juga menjadi pintu masuknya Kampoeng Batik Palbatu,” ungkap Budi Dwi Hariyanto.

Rumah Batik Palbatu

Misi melestarikan batik menjadi landasan Kampoeng Batik Palbatu untuk terus memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa betapa pentingnya warisan budaya yang di miliki bergantung pada generasi saat ini. “Utamanya kita mengedukasi seluruh masyarakat Indonesia tentang batik terkhusus warga Palbatu sendiri, agar kedepannnya mampu melestarikan warisan budaya tersebut,” jelas Budi Dwi Hariyanto. Budi Darmawan juga menambahkan bahwa seiring berjalannya waktu, batik akan lepas status menjadi bukan warisan budaya Indonesia apabila tidak ada pembatiknya. Ditambah dengan keadaan saat ini adalah banyak sekali batik yang dibuat dengan cara printing dengan orientasi ke arah komersil. Pada hakikatnya, batik itu adalah proses pembuatannya dengan membuat titik-titik pada kain hingga menjadi pola atau gambar. Perlu ditekankan disini, batik adalah proses pembuatannya bukan hasil yang sudah jadi. Maka dari itu, Kampoeng Batik Palbatu melalui Rumah Batik Palbatu berkeinginan untuk membentuk kader-kader penerus pembatik muda yang saat ini sudah mulai luntur keberadaannya.

Warga Palbatu sendiri merasa bangga sekaligus beruntung karena dapat menjadi contoh untuk seluruh masyarakat luas bahwasannya penting sekali melestarikan budaya batik dengan cara tetap terus membatik. Disamping itu juga, kegiatan membatik yang dilakukan dapat menambah taraf ekonomi pembatik, khususnya warga Palbatu. “Kami bangga bisa ikut serta melestarikan budaya batik. Sembari melestarikan batik, kami bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil penjualan karya-karya batik yang sudah kami buat. Apalagi disini seluruh alat dan bahan sudah disiapkan. Sangat memudahkan dan meringankan kami,” ungkap Erina selaku salah satu pembatik warga Palbatu. Rumah Batik Palbatu menerapkan sistem bahwa warga yang membatik tersebut adalah mitra dari Rumah Batik Palbatu, bukan buruh atau pekerja yang selama ini kita lihat kebanyakan. “Warga yang membatik disini adalah sebagai mitra. Kami sudah menyiapkan apapun yang dibutuhkan untuk membatik. Warga juga kita libatkan apabila ada acara pameran, launching, ataupun sebagai asisten pengajar dalam rangka melestarikan batik,” tutup Budi Dwi Hariyanto.

Lukman Sabil Akmal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *