lpmindustria.com – Pagi itu aku terbangun oleh dering alarm yang membisingkan telinga. Kicau burung yang biasa menyambutku di pagi hari, kini berubah menjadi deru kendaraan yang melaju kencang mengejar waktu yang terus lari menjauh. Sinar matahari yang setiap pagi berontak masuk ke rumahku melewati sela-sela ventilasi, kini terhalang oleh gedung bertingkat milik pengusaha tambun itu. Semua telah berubah, pikirku sembari menatap gedung bertingkat yang seakan ingin menggapai langit bumi.

Aku teringat kembali pada masa kecilku, saat aku bermain bola di lahan yang sekarang berdiri beton kokoh milik si rakus. Kemana anak kecil itu bermain sekarang? Ketika lahan bermain mereka dirampas oleh mereka yang haus akan kekayaan. Rasanya kutipan yang berbunyi “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” tidaklah salah. Terbukti, kini aku tinggal di gang sempit sisa lahan pemberian pengusaha itu. Mungkin ia masih memiliki akal sehat dan sedikit hati nurani, apa jadinya bila ia tidak memberikan sedikit lahannya untuk kami? Mungkin kami yang tinggal di pemukiman kumuh ini harus memangkas tembok rumah untuk membuat jalan agar bisa lalu lalang.

Ilustrasi Kesenjangan Sosial

Tiba-tiba bunyi klakson kendaraan milik tetangga menyadarkanku dari lamunan ini. Kini aku telah siap bergelut dengan pengguna jalan lain untuk menjadi budak korporasi. Aku tekan starter motor untuk menyalakannya “Ayo kita berangkat melki,” begitulah ku namai motor merah tua produksi tahun 2000-an ini. Sesampainya di depan gang sempit rumahku, terlihat para buruh berdiri ringkih menunggu angkutan umum di halte sudut jalan.

Roda motorku mulai berputar kembali untuk menghantarkanku ke tempat kerja. Sepanjang jalan, aku melihat pembangunan infrastruktur yang tak kunjung selesai. Hal tersebut membuat ruas jalan semakin sempit yang berdampak pada pemadatan volume kendaraan. Mereka yang tidak sabar karena sudah terlambat bekerja membunyikan klakson sekencang-kencangnya agar pengguna jalan lain lebih cepat bergerak.

“Ini gila,” gerutuku. Kenapa kami di negara sendiri seperti sapi perah bagi mereka, para pengusaha yang mayoritas adalah warga negara asing. Mereka yang berdalih dapat menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin, memeras keringat kami dengan tidak manusiawi. Pemerintah pun seolah-olah tutup mata akan hal ini. Upah minimum pekerja yang ditetapkan pemerintah dianggap mampu membayar keringat kami yang tidak bisa mengalir lagi karena makin kerasnya tuntutan kerja.

Kami seperti budak di negara sendiri, sistem pendidikan yang ditetapkan pemerintah mengajarkan kami untuk bisa diterima bekerja bukan untuk menerima pekerja. Inikah yang disebut negara berkembang? Aku rasa ini adalah penjajahan di era modern yang didukung oleh pemerintah.

Alif Rhino Alvian

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *