lpmindustria.com – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KEMRISTEKDIKTI) melakukan sosialisasi Draf Peraturan Menteri mengenai Organisasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi pada Kamis (14/12) di Hotel Aston Bekasi. Sosialisasi ini turut dihadiri oleh tiga puluh tujuh perguruan tinggi naungan KEMRISTEKDIKTI dari berbagai wilayah di Indonesia.

KEMRISTEKDIKTI membentuk tim yang diketuai oleh Arman Nefi untuk membuat Draf Peraturan Menteri mengenai Organisasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi. Arman Nefi mengatakan bahwa organisasi kemahasiswaan harus mendapatkan dasar hukum yang jelas. Menurutnya keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) nomor 155 / U / 1998 tentang pedoman umum organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi, dinilai sudah tidak bisa menjadi pedoman mahasiswa dalam berorganisasi. “Setelah kami mengkaji lagi mengenai kemendikbud 155 / U / 1998 ternyata banyak pasal-pasal yang sudah ketinggalan zaman dan dinilai sudah tidak efektif lagi,” ucap Arman Nefi yang pernah menjabat sebagai Pembina Kemahasiswaan di Universitas Indonesia (UI).

Arman Nefi menambahkan bahwa munculnya draf peraturan menteri tentang organisasi kemahasiwaan berasal dari ketidakjelasan mengenai status dari keputusan KEMENDIKBUD nomor 155 / U / 1998. “Adanya lompatan hierarki peraturan di bidang kemahasiswaan mengakibatkan keputusan ini hanya mengatur yang umum-umum saja dan ditambah tidak semua statuta perguruan tinggi mengatur mengenai organisasi kemahasiswaan,” jelas Arman Nefi.

Draf organisasi kemahasiswaan ini pun ditanggapi dengan kritis oleh perwakilan perguruan tinggi yang datang pada sosialisasi tersebut. Muhammad Yunasri Ridho perwakilan dari Universitas Negeri Makasar (UNM) mengatakan bahwa draf dari KEMRISTEKDIKTI harus tetap mempertahankan prinsip yang dianut oleh Keputusan KEMENDIKBUD nomor 155 / U / 1998 pada pasal dua. “Karena pasal dua merupakan roh atau semangat kami untuk berorganisasi. Selain itu kami setuju jika  keputusan KEMENDIKBUD 155 / U / 1998 harus direvisi, karena kami melihat ada beberapa hal yang masih jauh dari kebutuhan kami di lembaga kemahasiswaan,” ujar Muhammad Yunasri Ridho sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dari UNM.

Draf KEMRISTEKDIKTI

Banyak sekali pandangan mahasiswa yang berbeda dengan pandangan tim KEMRISTEKDIKTI. Ardhy Rasi Wardana Presiden Mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung mengatakan draf yang disosialisasikan oleh KEMRISTEKDIKTI sama dengan draf yang ditolak oleh tiga perguruan tinggi yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada pada kala itu. “Dahulu pada tahun  90-an abang-abang kita telah berjuang sampai dengan tahun 1998 dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri nomor 155 / U / 1998,” ujar Ardhy Rasi Wardana. Menurutnya history tidak bisa dilupakan begitu saja dan sesuai dengan UU No. 12 Tahun 2012, yang mengatakan bahwa mahasiswa dianggap manusia dewasa yang seharusnya tidak ditahan ruang geraknya seakan-akan mahasiswa tidak bisa membuat keputusan sendiri.

Wahid perwakilan dari Institut Pertanian Bogor mengatakan sesuai dengan UU No. 12 bahwa otonomi setiap kampus telah tercantum di setiap statuta perguruan tinggi. “Lebih baik pemerintah mengatur statuta setiap perguruan tinggi saja dari pada membuat peraturan menteri yang baru,” ungkap Wahid. Perwakilan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) juga menambahkan bahwa tidak ada urgensitas yang mendorong untuk dikeluarkannya peraturan menteri yang baru. “Ketika apa yang ingin kita capai adalah apa yang dibutuhkan mahasiswa, maka lebih baik dalam membuat peraturan ini pihak pemerintah harus melibat mahasiswa didalamnya,” tegas Miqdad Ramadhan perwakilan dari UNJ.

Menanggapi banyak kritikan dari perwakilan mahasiswa, Ketua Tim Pembentukan Draf yakni Arman Nefi mengatakan pihaknya akan melakukan pengkajian ulang kembali dan diusahakan nanti untuk melibatkan peran mahasiswa di dalamnya. “Kami tegaskan sekali lagi, peraturan ini tidak ada maksud yang terselubung dibaliknya apalagi niat untuk membatasi gerak mahasiswa kami hanya ingin membantu mahasiswa itu saja,” tutup Arman Nefi.

Oktario Tommy Saputra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *