lpmindustria.com – Mampu menciptakan inovasi baru merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi setiap orang. Lebih membanggakan jika inovasi tersebut berdampak positif bagi masyarakat. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa Politeknik STMI Jakarta, mereka berhasil menciptakan produk ramah lingkungan.

Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa Politeknik STMI Jakarta telah mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten. Lomba tersebut bertemakan Industrial Engineering Event Of Innovation (INDTENTION) 2017 yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. Politeknik STMI Jakarta merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang mengikuti perlombaan tersebut, diwakili oleh Tim Abaro yang anggotanya terdiri dari Alvaro Naufal Mahdi, Bagus Parwanto, dan Romli Hamdani. Mereka menciptakan produk inovasi berupa helm sepeda yang terbuat dari limbah kertas dan diberi tambahan sein di bagian belakang helm.

Perlombaan dengan tema INDTENTION ini dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama yaitu pembuatan poster, poster tersebut berisi desain dan keunggulan produk. Tim dari Politeknik STMI Jakarta lolos tahap penilaian poster dengan meraih peringkat ke-3 dari 10 tim yang lolos. Selanjutnya tahap kedua yaitu pembuatan mini proposal, mini proposal ini berisi latar belakang produk. Pada tahap ini, Alvaro dan kawan-kawan meraih peringkat ke-1 dari 7 tim yang lolos. Tujuh tim yang lolos, yaitu 1 tim dari Politeknik STMI, 2 tim dari Universitas Indonesia (UI), 2 tim dari UNTIRTA, 1 tim dari Universitas Brawijaya (UB), dan 1 tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahap terakhir, yaitu final stage.  Pada tahap ini tim dari Politeknik STMI tidak mendapatkan hasil yang maksimal, hal tersebut karena kurangnya persiapan.

Poster Helm Ramah Lingkungan

Meskipun Tim Abaro tidak meraih predikat juara pada perlombaan ini, tetapi produk yang mereka ciptakan sangat inovatif. Inovasi ini mereka ciptakan karena melihat beberapa permasalahan yang ada. “Alasan kami menciptakan produk ini, berawal dari keprihatinan saya saat melihat banyaknya sampah kertas yang ditimbun sejak SD hingga bangku kuliah di rumah teman saya,” ujar Romli, salah satu peserta lomba. Romli juga menambahkan bahwa mulai bertambahnya fasilitas bagi pengendara sepeda yang disediakan pemerintah sehingga keselamatan menjadi fokus mereka dalam mengembangkan produk ini.

Fungsi utama dari helm ini adalah sebagai Alat Pelindung Diri (APD) bagi para pengguna sepeda. Selain itu, tambahan sein pada bagian belakang sepeda dapat memudahkan pengendara untuk memberitahu orang lain yang berada dibelakang pengendara ketika ingin berbelok. Cara kerjanya pun tidak sulit, “Awal mula powerbank yang sudah ditempatkan pada helm dinyalakan dengan menekan tombol power. Jika ingin mengaktifkan sein, gunakan control yang ada di bagian stang. Kemudian cara menyalakannya, tekan A untuk kanan dan B kiri,” jelas Alvaro. Bagus juga menjelaskan mengenai perawatan alat ini, menurutnya perawatan alat ini cukup mudah. Cara perawatan bagian luar helm, cukup dilap saja dengan kain basah. Sedangkan cara pengecasannya cukup disambungkan dengan konektor handphone.

Proses pembuatan helm sepeda ini juga mengalami beberapa hambatan. “Hambatan dalam pembuatan produk ini ada di proses pengeringan bubur kertas yang membutuhkan waktu lama karena pengaruh cuaca. Kemudian mencari powebank 12 Volt, yang harganyapun di atas 300 ribu. Masalah selanjutnya di relay. Karena sein seharusnya berkedip sehingga harus menggunakan relay, tetapi dari kami sendiri hanya mempelajari dasarnya saja di mata kuliah listrik dan elektronika,” jelas Romli.

Kelanjutan dari produk ini nantinya akan dikembangkan oleh tim Abaro untuk dilombakan kembali bahkan kedepannya ingin masuk tahap produksi massal dan dipatenkan. “Dari pembimbing inginnya kita melanjutkan lagi. Penginnya diproduksi bahkan dipatenkan, pembimbing minta untuk diperbaiki dan nantinya ingin dibuatkan cetakan saat laboratorium sudah selesai diperbaiki. Setelah itu baru ke Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk dipatenkan. Proyek ini akan dilanjutkan, mungkin akan diturunkan ke adik kelas sebagai penerus pengembangan produk ini,” ungkap Alvaro. Dahrul Hudayah, selaku pembimbing tim Abaro juga mengungkapkan, bahwa kampus mendukung penuh kegiatan tersebut. Reaksi dari direktur cukup bangga dan mengapresiasi. Direktur juga berniat untuk memfasilitasi, baik dari segi pembimbing maupun transportasai serta mengganti biaya pendaftaran.

Jika dilihat dari kelebihan dan kekurangan produk, pembimbing dari tim Abaro ini memiliki tanggapan sendiri. “Kelebihan yang utama adalah original dan inovatif, karena sebelumnya di perlombaan-perlombaan seperti ini belum pernah ada yang mengangkat ide seperti ini.  Dibandingkan dengan peserta lain mungkin ide-idenya sudah pernah dilombakan bahkan sudah ada produksi masalnya. Namun, ide yang diangkat oleh mahasiswa politeknik STMI Jakarta cukup inovatif dan original itupun bahkan penilaian dari dewan juri seperti itu,” tutur Dahrul. Beliau juga mengatakan, bahwa kelemahaan utama pada pembuatan produk ini adalah  kurangnya bimbingan dari dosen Politeknik STMI Jakarta.  Hal tersebut menyebabkan kurang siapnya  hampir di segala aspek, mulai dari kenapa produk itu dipilih dan kenapa produk itu didesain dengan ukuran sedemikian.

Meskipun produk ini masih dalam bentuk prototype, kedepannya harus tetap dikembangkan sehingga bisa menjadi produksi massal. “Untuk pengembangannya mungkin bisa dilanjutkan oleh adik kelasnya. Menurut saya, bisa juga melibatkan jurusan Teknik Kimia Polimer (TKP) karena mereka lebih fokus terhadap bahan, khususnya polimer. Tidak menutup kemungkinan akan dihasilkan produk yang lebih baik,” tutur Dahrul. Selain itu, diharapkan dari dosen bisa membimbing dari segala aspek, baik dari desain dan biaya produksi. Hal yang paling mendasar dari desain itu sendiri adalah penyediaan  mold atau cetakan.

Alif Ridho Alvian

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *