lpmindustria.com – Proses pengadaan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) seharusnya dimulai saat penerimaan mahasiswa baru. Namun, sampai saat ini sebagian mahasiswa angkatan 2015 dan 2016 di Politeknik STMI Jakarta belum memiliki KTM. Hal tersebut dinilai merugikan mahasiswa karena KTM dibutuhkan dalam memenuhi persyaratan seperti pengajuan beasiswa dan sebagainya.

Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) adalah sebuah kartu tanda pengenal yang dimiliki oleh setiap mahasiswa. Keberadaan KTM dirasa penting bagi mahasiswa karena sebagai bukti serta identitas mahasiswa tersebut. Fungsi KTM sering dijadikan sebagai syarat dalam beberapa hal seperti pengajuan beasiswa, internship (baca: magang), serta pendaftaran event atau lomba-lomba tertentu. Proses pengadaan KTM ini seharusnya dimulai sejak Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Namun, hingga saat ini KTM Politeknik STMI Jakarta bagi sebagian mahasiswa angkatan 2015 dan 2016 belum juga rampung.

Proses pengadaan KTM yang cukup lama ini menuai banyak keluhan dari kalangan mahasiswa, terkhusus angkatan 2016. Beberapa dari mahasiswa, mengeluhkan proses pembuatan KTM yang terkesan lama dan dipersulit. “Sebenarnya saya sudah ke lantai satu untuk mengurus pembuatan KTM, tetapi selalu ditolak. Alasannya selalu tidak ada petugas yang mengambil foto. Padahal saat saya menanyakan pada teman-teman yang lain, orang yang saya temui adalah petugas fotonya,” tutur Okta mahasiswa angkatan 2016. Selain merasa dipersulit dalam pembuatannya, ia juga merasa dirugikan karena belum memiliki KTM. “Kalau saya pribadi merasa sedikit dirugikan, apalagi saya juga termasuk mahasiswa yang aktif. Ketika saya akan mengikuti event di kampus lain, seperti contohnya ingin mengikuti kejuaraan, kemudian ada syarat fotokopi KTM. Saat itu saya belum memiliki KTM, akhirnya panitia memberikan kelongggaran, saya cukup memberikan tanda bukti pernah mendaftar di kampus dan slip pembayarannya. Selain itu, dampak merugikaan lainnya yakni ada yang menawari kerja part time. Tapi syarat utamanya terdapat fotokopi KTM. Hal tersebut benar-benar merugikan,” jelas Okta.

Menurut Dedy Trisanto selaku Pembantu Direktur 2 Politeknik STMI Jakarta, untuk pembuatan KTM itu sebenarnya terdapat dua bagian yang terkait, bagian akademik dan bagian umum. Bagian akademik bertugas memberikan data ke bagian umum, lalu bagian umum bertugas untuk melakukan pencetakan KTM. Selain itu, kendala dalam proses pengadaan KTM tersebut yakni pengumpulan informasi data mahasiswa yang ingin membuat KTM. Dedy juga menjelaskan bahwa dalam hal ini, pihak kampus membutuhkan bantuan untuk pengumpulan data tersebut. “Pertama kami memang kesulitan untuk mengumpulkan informasinya. Dalam artian, angkatan berapa saja dan siapa saja yang belum mendapatkan KTM. Mungkin kami disini juga butuh bantuan dari Himpunan atau dari BEM untuk mengumpulkan data tersebut. Karena memang keterbatasan staf kita yang bekerja di bagian umum dan akademik,” jelas Dedy Tristanto.

Ilustrasi KTM

Keterlambatan KTM ini diakui oleh Dedy Trisanto karena kurangnya sosialisasi dan inisiatif dari setiap mahasiswa. Alur pembuatan KTM sendiri seharusnya dimulai dari mahasiswa mengajukan pembuatan KTM kepada pihak prodi (program studi). Setelah itu, pihak prodi mulai melakukan pegajuan kepada pihak akademik, kemudian bagian akademik memberikan informasi data mahasiswa tersebut kepada bagian umum untuk dilakukan pencetakan. “Proses mencetak itu di bagian umum dan kalau pendataan itu di bagian akdemik. Mungkin nanti akan dibantu oleh prodi dan himpunan yang akan memberikan data. Kendala di pihak kampus yakni staf untuk pengumpulan informasi tersebut. Walaupun memang secara inti itu masuk kedalam fungsinya akademik dalam mengumpulkan informasi, tetapi kalau kita ditugaskan kepada akademik ya mereka pun kesulitan untuk itu,” tambah Dedy.

Hingga saat ini pembuatan KTM masih dalam proses penyelesaian. Disisi lain, pihak kampus juga sedang mencoba kerja sama dengan Bank Mandiri dalam pencetakan KTM tersebut. “Kita ingin menjalin kerjasama dengan Bank Mandiri untuk pencetakan. Jadi pihak kampus sekarang, sedang mencoba membuat MoU ke Bank Mandiri agar KTM tersebut bisa digunakan sebagai proses pembayaran layaknya ATM. Seperti sistem corporate branding atau co-branding nantinya,” jelas Dedy.

Krisdiastuti

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *