lpmindustria.com – Sjafruddin Prawiranegara adalah seorang pejuang kemerdekaan, yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Gubernur Bank Indonesia. Ketika menjabat di pemerintahan Indonesia, Sjafruddin pernah memberikan kebijakan untuk mengatasi inflasi saat itu. Kebijakan yang dilakukan adalah pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas. Akibat dari hal tersebut nilainya menjadi separuh, maka dari itu kebijakan ini dikenal dengan kebijakan moneter Gunting Sjafruddin. Selain itu, Sjafruddin pun pernah menjabat sebagai Ketua (setingkat presiden) Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Sebelum Sjafruddin menjadi Ketua PDRI, terjadi peristiwa sejarah yaitu Agresi Militer II. Pada saat itu, Belanda menculik Presiden dan Wakil Presiden. Hatta sebagai Wakil Presiden telah menduga dirinya akan ditahan Belanda. Sehingga, ia segera memberi mandat kepada Sjafruddin untuk melanjutkan pemerintahan agar tidak terjadi kekosongan pemerintahan. Kemudian beridirilah PDRI dengan periode 22 Desember 1948 – 13 Juli 1949. Pemerintahan ini juga disebut dengan Kabinet Darurat. Setelah itu, ibukota Republik Indonesia yang saat itu adalah Yogyakarta telah dikuasai, Belanda berungkali menyiarkan bahwa Republik Indonesia telah bubar. Akibat dari Agresi Militer II, membuat dunia internasional mengecam Belanda.

Sjafruddin Prawiranegara

Pada sisi lain, pasukan Indonesia tidak pernah berhasil dikuasai. Hal itu memaksa Belanda menghadapi Republik Indonesia di meja perundingan. Perundingan itu menghasilkan Perjanjian Roem-Royen. Setelah Persetujuan Roem-Royen ditandatangani, pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet pemerintahan. Pada sidang tersebut, Hatta menjelaskan tiga hal. Salah satunya tentang terjadinya Persetujuan Roem-Royen, secara formal Sjafruddin Prawiranegara menyerahkan kembali pemerintahan ke tangan Soekarno.

Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa Sjafruddin pernah menggantikan Soekarno sebagai ketua pemerintahan. Ia melaksanakan mandat dari Hatta untuk membentuk PDRI. Sjafruddin menolak disebut sebagai presiden, walaupun waktu itu menjadi kepala pemerintahan dan memiliki sejumlah menteri. Sjafruddin mengatakan lebih suka menyebutnya sebagai ketua PDRI, bukan Presiden PDRI. Dalam berbagai buku sejarah pun, tidak pernah tertulis nama Sjafruddin Prawiranegara sebagai Presiden Indonesia. Namun, nama Sjafruddin Prawiranegara tidak bisa dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia. Peranannya sangat besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Andaikan kala itu ia tidak menjalankan mandat dari Soekarno, maka akan terjadi kekosongan pemerintahan. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah mengakui Sjafruddin Prawiranegara sebagai presiden. Karena faktanya Sjafruddin pernah menjadi kepala pemerintahan Republik Indonesia.

Muthia Zahra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *