lpmindustria.com – Peran Forum Lembaga Mahasiswa Perindsutrian Indonesia (FLMPI) sebagai wadah aspirasi bagi seluruh mahasiswa Politeknik STMI Jakarta, kurang dirasakan oleh sebagian mahasiswa. Minimnya sosialisasi dan hubungan yang terjalin antar FLMPI dengan mahasiswa diduga menjadi penyebab utama terjadinya kesalahpahaman tersebut.

Winda Wulan Sari adalah seorang mahasiswi semester 3 jurusan Administrasi Bisnis Otomotif  (ABO) di Politeknik STMI Jakarta. Terlihat rasa lelah dari raut wajah Winda saat ditemui di gedung A lantai 5. Saat itu, Winda baru saja mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) untuk semester 4. Ketika ditanya mengenai FLMPI, Winda nampak kebingungan dengan serangkaian pertanyaan yang diajukan. Sebagai mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi, Winda  mengaku tidak begitu mengetahui peran FLMPI serta kinerjanya. “Sejujurnya, saya tidak tahu tentang FLMPI serta kurang merasakan pengaruhnya,” tutur Winda mengakui ketidaktahuannya. Winda hanya mengetahui saat ia pertama kali kuliah, FLMPI mendatangi setiap kelas untuk merekrut anggota baru. “Saat sosialisasi awal hanya masuk ke kelas-kelas saja, setelah itu saya tidak tahu lagi,” tuturnya.

Tak hanya Winda, mahasiswi lain dari jurusan Teknik Industri Otomotif (TIO), Halimah Anggraini, angkatan 2015 pun merasakan hal yang sama. Halimah mengaku belum merasakan kinerja dan program kerja dari FLMPI di Politeknik STMI Jakarta. Wanita berkerudung ini menjawab sepengetahuannya ketika ditanya mengenai FLMPI. “Setahu saya itu organisasi, sekumpulan orang yang interaksinya luas mencakup semua kampus Kemenperin,” ujar Halimah.

Logo FLMPI

Kedudukan FLMPI bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) memiliki peran untuk menampung aspirasi mahasiswa agar dapat disampaikan ke Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat). FLMPI memiliki dua agenda besar untuk menyalurkan segala rekomendasi dari mahasiswa ke Pusdiklat, yaitu dalam Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) dan Munas (Musyawarah Nasional). Rakoornas diselenggarakan pada enam bulan periode awal kepengurusan FLMPI, sedangkan Munas enam bulan setelahnya. Dalam rakoornas, BEM dan FLMPI mengevaluasi, menampung serta menyampaikan aspirasi yang telah terkumpul selama enam bulan terakhir.  “Setelah Rakornas, kami buat suatu wadah yaitu Munas. Kami hadirkan Pusdiklat dan Direktur untuk menyampaikan rekomendasi yang dianggap perlu untuk kedepannya. Munas ini juga diadakan pelantikan dan pergantian kepengurusan,” jelas Prayoga Noer Tamtomo selaku Presiden Mahasiswa Politeknik STMI Jakarta. Pada tahun 2018, Rakoornas akan dilaksanakan di Medan, sedangkan Munas akan diadakan di Makassar. Selain itu, sembilan kampus di bawah naungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga telah mengadakan Rakernas (Rapat Kerja Nasional) pada hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018 bertempat di STTT, Bandung. Rakernas tersebut membahas rencana yang akan dilakukan untuk enam bulan kedepan.

Penyampaian rekomendasi tersebut tidak memiliki karakteristik tersendiri. Jika rekomendasi tersebut menyeluruh dan dianggap berguna bagi kampus, serta berkaitan dengan apa yang sudah dikonsepkan pasti akan direalisasikan. Adapun, dalam penyampaiannya terdapat alur tersendiri. “Kemarin kita sudah tanya rekomendasi dari KBM, semua rekomendasi yang sudah kita dapat langsung kita koordinasikan dengan Presma. Setelahnya, langsung kita sampaikan kepada Pak Direktur terkait rekomendasi yang disetujui untuk diajukan ke Pusdiklat. Saat munas, kita sampaikan kepada Pusdiklat. Dari Pusdiklatnya nanti akan mempertimbangkan kembali,” jelas Firel selaku Koordinasi Kampus FLMPI Politeknik STMI Jakarta.

Untuk membantu terealisasinya rekomendasi ini, FLMPI berperan mengusulkan rekomendasi perbaikan ke Pusdiklat agar Pusdiklat memberikan respon terhadap rekomendasi tersebut. “Tentunya sifatnya mengusulkan rekomendasi untuk perbaikan. Mereka juga harus paham kondisi nyata sekarang. Dalam penyampaian rekomendasi juga ada kajian-kajian dan yang pasti mereka berdiskusi lalu disampaikan ke Pusdiklat rekomendasinya sebagai umpan balik ke Pusdiklat. Istilahnya mereka sebagai mata dari Pusdiklat,” tutur DR. Mustofa, S.T., M.T. selaku Direktur Politeknik STMI Jakarta. Semua rekomendasi yang sudah disampaikan saat Rakornas maupun Munas selalu di-follow up oleh Presma dan FLMPI. “Setelah mengajukan rekomendasi, kita tetap follow up bagaimana tindak lanjutnya. Untuk follow up nya terkadang tentatif, tergantung dengan pak direktur. Dalam satu bulan pasti ada follow up,” ujar Firel. Namun menurut direktur Politeknik STMI Jakarta langkah follow up yang dilakukan FLMPI kurang. “Seharusnya FLMPI mengawal hasil rekomendasi yang sudah disampaikan secara periodik setiap tiga bulan. Selain itu, rekomendasi tersebut tidak hanya disampaikan secara lisan tetapi juga tertulis,” jelas Pak Mustofa.

Selama menjalankan tugasnya, beberapa mahasiswa merasa kinerja FLMPI belum maksimal. Hal tersebut sangat disayangkan, karena komunikasi antara mahasiswa dengan FLMPI seharusnya tetap terjaga dengan baik. Kedepannya diharapkan FLMPI lebih mempublikasikan hasil kerja ke seluruh mahasiswa Politeknik STMI Jakarta agar mahasiswa bisa mengetahui segala perkembangan yang terjadi di kampusnya. “Mungkin harapannya kalau ada hasil kerja dari FLMPI, lebih dipublikasikan ke mahasiswa. Jadi, mahasiswa tahu apa saja hasil kerja dari FLMPI,” tutur Herly Frisdiansyah selaku mahasiswa jurusan SIIO (Sistem Informasi Industri Otomotif) angkatan 2015.

Alisya dan Laila

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *