“Apa kamu yakin untuk berhenti dan tidak melanjutkan semua ini?” tanyaku kepada seorang wanita kurus berkerudung hitam di hadapanku.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Apa sudah kamu pikirkan baik-baik mengenai dampak dari keputusanmu?” tanyaku lagi kepadanya.

“Sudah,” katanya.

“Baiklah, aku bisa apa kalau seperti itu. Semoga jalan yang diberikan Tuhan kepadamu lebih indah dari saat ini. Aku juga berharap kamu tetap bisa menjadi sahabatku ya,” kataku. Kemudian dia berpamitan kepadaku untuk pulang.

Dia tersenyum kepadaku sebelum pergi. Senyum yang menggambarkan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun dari matanya, aku bisa melihat bahwa dia dilanda banyak permasalahan. Aku mengerti bagaimana perasaannya saat ini, terpaksa melepaskan pendidikan hanya karena ketiadaan biaya. Sungguh ironis menurutku, mengingat pendidikan adalah hal yang amat penting.

Ilustrasi Pendidikan Dengan Biaya

Sahabatku sudah pergi, tubuhnya menghilang jauh dari pandanganku. Sahabatku sudah memutuskan untuk berhenti. Akupun memutuskan untuk duduk di bangku terdekat, meluruskan pikiran yang masih belum paham akan kejadian hari ini. Hembusan angin meniup kerudung biruku dan membawa pikirku melayang menuju beberapa jam lalu.

Ponselku berdering kencang membangunkan diriku. Di layarnya tertera nama seorang yang aku kenal, sahabatku rupanya. Tanpa rasa bersalah karena telah mengganggu tidurku, dia meminta aku segera bersiap ke kampus untuk menemaninya mengurus beberapa berkas. ‘kurang ajar!’ gerutuku dalam hati. Aku baru saja tidur 3 jam yang lalu karena harus begadang mengerjakan tugas organisasi, dan dengan seenaknya dia memerintahku. Terpaksa aku menurutinya karena dia sahabatku, akupun bergegas mandi dan bersiap ke kampus.

Sesampainya di kampus aku mengikuti instruksinya di telepon tadi yaitu, menemuinya di kantin. Betul saja aku bisa langsung melihat seorang gadis kurus mengenakan baju biru tua bermotif dan tas cokelatnya yang sudah menjadi sebuah ciri khas. Aku hampiri dia yang sedang duduk di bangku dengan meja panajang tertunduk sembri memainkan ponselnya.

“Hei! Untuk apa kamu mengganggu tidurku dan menyuruhku datang kesini?” tanyaku.

“Sebenarnya aku ingin mengurus berkas penting,” ucapnya.

“Berkas apa? Memangnya ada perintah atau pemberitahuan langsung dari kampus untuk melakukan sesuatu?” tanyaku lagi, aku sungguh tidak paham apa maksud sahabatku ini.

“Tidak. Aku akan mengurus berkas pengunduran diri,” katanya kemudian menunduk.

“Kamu akan berhenti kuliah? Kenapa? Apa tidak ada pilihan lain?” tanyaku beruntut. Ini sebuah hal yang mengejutkan bagiku.

Dia menghela nafas, kemudian menjelaskan dari awal hingga akhir kepadaku. Rupanya bukan tanpa alasan dia berhenti bekuliah, tetapi karena masalah ekonomi keluarganya. Menurutnya, apabila dia melanjutkan kuliahnya, ia akan membebani ayahnya. Dia sadar bahwa dirinya adalah anak tertua dan harus mengalah kepada adik-adiknya. Meskipun begitu, dia tidak serta merta menyerah tanpa usaha. Sebelum memutuskan berhenti, diapun sudah mencoba berbagai upaya seperti mencari beasiswa dan berbagai bantuan pendidikan untuk melanjutkan kuliahnya. Namun, pada akhirnya nihil, dia tetap harus mengalah dan berhenti kuliah.

Sahabatku ini anak yang baik dan rajin dalam setiap pelajaran di kelas. Bahkan karena kesibukanku, tidak jarang aku meminta catatan darinya. Tugas-tugas dan ujian dari dosen juga selalu dia kerjakan dengan baik. Begitupun setiap kali dia melakukan presentasi di kelas, penjelasannya bagus dan mudah dipahami teman-teman lainnya. Akupun kini tidak bisa melakukan banyak hal ketika sahabatku sendiri terpaksa berhenti kuliah.

Krisdiastuti

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *