lpmindustria.com – Tepat pada hari ini 30 November tahun 2000 lahirlah seorang anak laki-laki bernama Muhammad Omar Baskoro, putra dari Edi Baskoro dan Rina Ekawati. Ia terlahir di keluarga sederhana yang mungkin bisa dibilang cukup. Namun, semua itu hanyalah latar belakang belaka ia tetap menjalani hidup tanpa memandang status keluarganya, ia tak pernah malu dalam berteman dengan teman lainnya. Seperti halnya laki-laki pada umumnya, Omar gemar bermain sepakbola, namun talenta yang ia miliki melebihi teman-teman sebayanya.

Ilustrasi Bola

Suatu ketika saat ia berumur 12 tahun dan sedang bermain bola dengan teman-teman yang lainnya, tiba-tiba datang seorang pria yang sudah berumur 35 tahun menghampirinya. “Kaukah yang bernama Muhammad Omar Baskoro?” tanya pria itu. “Ya saya orang itu pak, ada apa gerangan?”, tanpa penjelasan apapun pria itu hanya mengucapkan “Datanglah esok ke Stadion 10 November Surabaya.”. Omar bingung apa maksud ucapan pria itu dan langsung melanjutkan untuk bermain bola dengan temannya.

Hari sudah sore Omar tak kunjung pulang, ibunya mencemaskan ia yang tidak biasanya pulang sampai sore begini. Ayah Omar pun pulang dan Omar belum juga pulang, mendengar Omar belum pulang ayahnya pun langsung bergegas ke lapangan untuk mencari Omar dan ditemukanlah ia sedang di kerumuni teman-temannya terkapar karna terkilir kakinya. Melihat hal itu ayah Omar panik dan langsung membawa omar pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ibu Omar kaget melihat anaknya di bopong ayahnya seperti itu. Dengan cepat ibu mengambil obat-obatan yang dibutuhkan.

Dan diketahui bahwa saat Omar bermain bola tadi ia terkena tackle dari temannya yang menyebabkan ia terkilir. Saat ia diobati oleh ibu dan ayahnya Omar bercerita bahwa ia di datangi seorang pria dan memberitahunya untuk datang ke stadion esok hari. Ayah dan ibu Omar menanyakan maksud dari pria itu namun Omar tidak bisa menjelaskan karna ia tak tahu maksud pria itu. Sampai akhirnya Omar pun memutuskan untuk mendatangi pria itu esok hari.

Keesokan harinya sepulang sekolah Omar yang memang tidak luput dari atribut sepakbolanya pergi ke stadion untuk memastikan apa maksud dari pria itu kemarin, sesampainya ia di stadion, Omar melihat banyak anak seumuran ia sedang berlatih atau lebih tepatnya sedang mengikuti seleksi. Omar mencari pria yang mendatangi ia kemarin hari, dan terlihatlah pria itu. Omar bergegas menghampiri pria itu, dan berkatalah pria itu “Oh, hai Omar akhirnya kau datang jugya. Bersiaplah untuk mengikuti seleksi ini.”. Dengan bingung Omar bertanya “Seleksi apa yang saya ikuti ini pak?”, pria itu menjawab “Ini adalah seleksi untuk tim Surabaya U-14 di kompetisi seluruh Indonesia, perkenalkan nama saya Hartono pelatih Surabaya U-14.”. Dengan perasaan yang masih tidak percaya Omar pun bersiap untuk mengikuti seleksi tersebut dan ia menjalani seleksi dengan sangat baik.

Saat yang ditunggu pun tiba, coach Hartono menyebutkan nama-nama yang lolos seleksi untuk masuk tim Surabaya U-14. Namun, nama Omar belum juga terpanggil dan tersisa satu nama lagi untuk masuk ke tim “Muhammad Omar Baskoro” itulah nama terakhir yang disebutkan coach Hartono dalam penentuan tim. Dengan perasaan senang Omar pun lompat-lompat kegirangan dan mengucap syukur kepada Tuhan. Ia pulang dan menceritakan semua yang ia alami tadi kepada ayah dan ibunya. Mendengar hal itu ayah Omar tidak setuju jika Omar mengikuti tim Surabaya U-14 karna menurutnya Omar harus fokus untuk belajar. Namun disatu sisi ibunya sangat mendukung untuk Omar mengikuti tim tersebut karna ia berfikir bahwa itu adalah prestasi non akademik yang didapat oleh Omar.

Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang akhirnya Omar diijinkan untuk mengikuti tim Surabaya U-14 dalam kompetisi seluruh Indonesia. Akhirnya Omar menjalani pertandingan-pertandingan yang ada dan selalu menjadi pemain kepercayaan coach Hartono di lini depan. Ia pun berhasil membawa tim Surabaya U-14 menjuarai kompetisi tersebut. Dan disinilah awal karir ia di persepakbolaan Indonesia.

Omar dewasa kini telah menjadi bintang dan menjadi buah bibir di surat kabar maupun di masyarakat. Karena prestasi ia bersama timnas Indonesia di piala dunia 2019 yang membuat ia menjadi ikon baru anak muda Indonesia. Kini ia tergabung dalam klub sepakbola Jakarta Metropolitan, sebuah klub besar ibukota yang diisi oleh pemain-pemain yang kebanyakan bergabung membela timnas yang meloloskan Indonesia ke piala dunia 2019.

Masih teringat diingatannya 5 tahun yang lalu saat ia harus melewati seleksi untuk masuk ke tim senior di kotanya lahir yakni Surabaya FC, ia harus melewati 5 tahapan. Di hari pertamanya mengikuti seleksi ia bertemu dengan seorang anak pejabat pengurus sepak bola Indonesia/PSSI, yang dengan sombongnya berkata “Hei kalian semua lihatlah aku, aku akan dipastikan lolos seleksi ini tanpa harus bersusah payah seperti kalian nantinya. Karena ayahku seorang pejabat PSSI.”. Di dalam hati Omar berbicara “Sombongnya ia, hanya karena ayahna seorang pejabat PSSI ia bisa berkata seperti itu, ia belum tahu karena banyak pemain yang lebih bertalenta yang bisa lolos ketimbang mengandalkan kekuasaan ayahnya.”. Di hari itu tes pun dimulai dan dibuka oleh pelatih kepala tim Surabaya FC yang juga mantan pelatih Omar di Surabaya U-14 coach Hartono.

Dan yang paling ia tidak bisa lupakan adalah disaat tes tahap ketiga yang ia hadapi. Dimana tes tersebut mengharuskan para calon pemain dibagi menjadi dua tim, saat pengumuman tim tersebut nama Omar tercantum bersama anak yang menyombongkan diri itu. Omar pun sedikit agak kecewa, namun dengan pikiran yang jernih ia berkata dalam hati “Mungkin ia bisa menjadi partner main ku yang baik.”. Di saat sebelum pertandingan dimulai Omar berkata pada anak itu “Berilah umpan kepadaku, akan ku selesaikan di kotak penalti.”. Namun dengan sombongnya ia membalas “Siapa diri kau? Bisa-bisanya kau mengatur diriku, akan kuselesaikan sendiri di kotak penalti, aku akan menjadi satu-satunya pemain terbaik di tim ini.”. Walaupun anak itu berkata seperti itu Omar tetap percaya bahwa anak itu pasti akan memberikan bola padanya. Namun pemikiran Omar berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Saat ia tidak terkawal pemain lain dan meminta bola pada anak itu, anak itu malah membawanya sendiri dan kehilangan bola karna tidak bisa melewati pemain lawan. Dengan perasaan kesal Omar menghampiri anak itu sambil mendorong dan berkata “Hei apakah matamu sudah buta tidak melihatku bebas tak terkawal pemain lain? Ini tim bukan hanya kau yang bermain di tim ini!”. Anak itu balik mendorong dan berkata “Karena akulah yang terbaik di tim ini dan aku tidak butuh kalian semua!”. Mereka pun saling dorong, namun bisa di lerai oleh pemain lainnya.

Saat sebelum babak kedua di mulai, Omar mengarahkan kepada teman-teman timnya untuk bermain dengan kerja sama yang baik dan selalu mengarahkan bola kepada kawan yang tidak terkawal, dan ia menambahka untuk tidak memberi bola kepada anak sombong itu sampai tim ini unggul 2 angka. Permainan pun dimulai dan semua berjalan sesuai rencananya timnya bermain dengan kerjasama yang baik dan mampu unggul 2 angka dari tim lawan, dan ia menyumbangkan satu gol dan satu umpan pada proses gol kedua. Merasa terpinggirkan anak sombong itu menghampiri Omar dan berkata “Mengapa aku tidak pernah diberi bola? Padahal posisiku selalu menguntungkan.”. Omar membalas “Itu karena kau berkata kau tidak butuh kami, dan kami bermain sebagai satu tim bukan seorang. Jika kau ingin mendapatkan bola bermainlah sebagai tim yang utuh jangan ego menguasaimu.”. Anak itu pun berkata “Oke, aku akan bermain layaknya sebuah tim yang utuh, maafkan aku jika tadi aku bermain dengan egoku.”. Mendengar perkataan itu Omar pun sering memberinya bola dan dengan kerjasama mereka timnya pun bisa unggul 5 angka, dengan begitu pemikiran Omar pun benar ia bisa menjadi partner yang baik. Setelah pertandingan usai ia baru mengetahui bahwa nama anak itu adalah Dimas Drajat.

Seleksi pun telah usai dilaksanakan, saat dimana untuk mengetahui siapa-siapa saja yang akan lolos untuk membela tim Surabaya tersebut. Nama demi nama telah disebutkan termasuk nama Dimas Drajat yang sekarang menjadi teman dekat Omar, namun namanya pun belum disebut hingga satu nama terakhir yang lolos seleksi tim itu. Dan nama terakhir yang disebut pelatih kepala adalah “Muhammad Omar Baskoro,” perasaan senang dan bangga dirasakan oleh Omar karna impian untuk membela tim kotanya lahir dan tim favorit ayahnya pun terwujud. Ia langsung memberi tahu ayahnya bahwa ia telah lolos masuk tim kota Surabaya dan ayahnya pun berpesan,“Jadilah pemain yang selalu ingat bagaimana proses menjadi jauh seperti itu, jangan sekali-kali bermain dengan ego sendiri. Dan jadilah pemain yang selalu di teladani lawan dan kawan.” Mendengar kata-kata ayahnya tersebut membuata Omar termotivasi untuk selalu bermain lebih bagus lagi dan terus belajar dari kekurangannya.

Tiga tahun sudah ia bermain bersama tim kota Surabaya, namanya sudah dikenal banyak orang karena penampilan bagus yang ditunjukannya bersama parner terbaiknya yakni Dimas Drajat. Ia sudah menjadi pemain terbaik liga Indonesia tiga kali berturut-turut dan menjadi pencetak gol terbanyak selam dua kali. Dan tim yang ia bela sudah dua kali menjadi juara liga Indonesia dan satu kali menjadi runner up. Dengan begitu tawaran untuk bermain di tim yang lebih bagus pun berdatangan, termasuk tim ibukota Jakarta. Tawaran itu membuat Omar bingung harus memilih bertahan atau bermain di tim lain, ia masih berpikir akan kawan satu tim yang ada di tim Surabaya terutama Dimas Drajat. Di satu sisi ia juga harus mengembangkan karir sepakbolanya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada akhirnya, dengan berat hati ia harus meninggalkan tim kota kelahirannya untuk bergabung ke tim ibukota Jakarta, yakni Jakarta Metropolitan. Mendengar hal itu teman-teman satu tim hingga staf pelatih kecewa akan hal itu, namun mereka berpikiran semua pemain pasti akan mengembangkan karirinya. Tak lupa Omar berpesan kepada teman dekatnya Dimas Drajat “Hei kawan maafkan aku tidak bisa bermain bersamamu lagi di tim ini, tapi aku yakin suatu saat nanti kita bisa bermain bersama di tim nasional Indonesia dan membawa timnas Indonesia menjadi juara dunia. Bermainlah selayaknya tim, dan jangan mementingkan ego, itulah pesanku padamu.”. Dimas pun berkata “Iya kawan suatu saat nanti kita akan bermain bersama dan mengejutkan dunia, ya aku akan terus bermain seperti tim yang utuh tanpa mementingkan ego.”. Mereka pun berpelukan sebagai tanda perpisahan mereka.

Di tim Jakarta Metropolitan nama Omar semakin melambung tinggi hingga saat ada seleksi untuk timnas Indonesia yang disiapkan untuk piala dunia 2019, namanya tercantum didalamnya. Perasaan bangga yang ternilai karena bisa mendapatkan kesempatan untuk membela Negara di kancah dunia. Disaat para pemain dikumpulkan, Omar melihat wajah seseorang yang tak asing baginya. Dan benar saja itu adalah Dimas Drajat kawan lama di tim Surabaya ternyata juga masuk daftar pemain timnas yang disiapkan untuk piala dunia. Dengan perasaan senang Omar menghampirinya dan berkata “Akhirnya impian kita terwujud, kita bisa bersama di timnas Indonesia ini dan kita harus mewujudkan mimpi kita selanjutnya yakni mengejutkan dunia dengan prestasi kita.” Omar pun membalas “Ya aku tidak akan pernah lupa akan mimpi kita itu.” Akhirnya tim pun diberangkatkan ke Argentina untuk melakukan pertandingan piala dunia, disana timnas Indonesia mendapat hasil yang bagus yakni lolos grup sebagai juara grup. Hasil itu didapat berkat duet emas Omar dan Dimas yang membuat orang-orang terpukau dengan penampilan mereka. Saat Indonesia masuk semifinal dan harus berhadapan dengan tuan rumah Argentina, Omar dihadapkan dengan mafia sepakbola yang menginginkan Indonesia mengalah dengan Argentina sebagai gantinya ia akan dibayar lebih dari hadiah yang diberikan jika ia menjuarai piala dunia. Omar sempat kaget dan agak bingung menerima hal tersebut atau tidak, karena ia berpikir bahwa dia akan menjadi kaya dengan sesaat. Namun ia tersadar akan pesan ayahnya agar menjadi pemain yang selalu di teladani lawan dan kawan, dan ia juga tidak ingin melukai hati rakyat Indonesia. Pada akhirnya Indonesia pun juara piala dunia 2019 dengan Muhammad Omar Baskoro sebagai pemain tebaiknya.

Muhammad Aulia Irfan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *