Suara-suara itu membuyarkan lamunan ku. Bising sekali, aku paham kata-kata mereka. Namun, tidak untuk maknanya. Tak setuju, tentu. Batin berkata bahwa perkataan itu salah. Hanya saja banyak dari kami yang mendengarnya seperti lantunan nada yang indah. Menghipnotis dan memaksa berkata, “Ya mereka benar, kita turuti saja mau mereka,”

Ilustrasi

Sekali lagi, Aku nyatakan tidak setuju dengan suara-suara itu. Namun mau bagaimana? Bersuara pun tak bisa. Ya, Aku adalah mahasiswa dengan keterbatasan. Masyarakat menyebut Ku sebagai Si Bisu. Tentu tidak ada yang ingin memahami bahasa Ku dan teman-teman seperti diriku. Aku adalah mahasiswa di kampus perguruan tinggi di bawah Kementerian Usaha. Ya, usaha apa saja lah. Asal bapak dan ibu merasa senang. Kampus ku ini unik. Tidak banyak yang kampus yang memiliki kebijakan seperti ini. Kebijakan yang membuat kami senang. Karena hanya kampus ini yang menerima mahasiswa tuna rungu. Kami para tuna rungu berkuliah di sana. Meski dengan segala keterbatasannya.

Kampus kali ini lucu. Sudah tahu bahwa mahasiswanya ini tuna rungu semua. Kami ini perlu fasilitas penunjang dalam belajar, pak. Tolong lah, mengerti. Perlu ketika di laboratorium dengan alat bantu dengarnya. Bahasa khusus untuk berkomunikasi dengan dosen. Namun, kenapa dosen-dosen di sini tidak ada yang mau mengerti bahasa kami?

Aku dan teman-teman yang memahami sudah berusaha mengingatkan pihak kampus. Kalau teriak-teriak atau bersuara kami tidak bisa. Tidak mungkin jelas. Kami ini kan tuna rungu. Apa ini tujuan kampus kami dari awal menerima? Biar kami menjadi mahasiswa siap kerja tanpa banyak menuntut. Toh, kalau tuna rungu yang menuntut tidak akan dianggap. Atau kasarnya seperti kata masyarakat. Pendapat Si Bisu tidak akan berpengaruh.

Perlu mengingatkan seperti apa lagi pak? Aku dan teman-teman sepandangan pun sudah menulis. Menulis bahasa yang kalian mengerti. Bukan lagi suara-suara sumbang ataupun gerak tangan tak jelas dari Si Bisu ini. Namun kalian masih saja tak pedulu.

“Sudah, kamu ini tidak tahu apa-apa. Bapak lebih tahu dan sudah hidup lebih dahulu dari kamu,”

Suatu ketika kau berkata seperti itu, tapi kita berbeda pak. Aku ini Si Bisu yang membutuhkan fasilitas untuk pengembangan diri. Kami punya keterbatasan. Apa ini memang nasib sebagai mahasiswa di bawah kementerian ya? Sudah menjadi keharusan hanya membuat Bapak dan Ibu senang saja.

Muhammad Abdul Hakim Faqih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *