lpmindustria.com – Menelisik cerita kota Jakarta yang tiada habisnya. Kali ini, Kampung Penas Tanggul, Cipinang Besar Selatan punya cerita sendiri. Berawal dari inisiatif seorang pemuda, kampung tersebut kini berwarna seperti layaknya pelangi dan bebas dari rokok.

Pemukiman di bantaran sungai sering sekali dipandang kumuh dan tidak tertata. Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya benar, dan telah dibuktikan oleh warga Kampung Penas Tanggul. Bermula dari salah satu pemuda setempat, Nobby Sail Andi Supu beserta enam orang lainnya pergi ke Yogyakarta. “Kami melakukan analisis sosial, studi tobacco control, dan advokasi yang didampingi oleh LSM FAKTA (Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Warga Kota Jakarta). Disana pun, kami melihat langsung keadaan kawasan Kali Code (warna-warni) dan Desa Umbulharjo (bebas asap rokok). Terbesit, mengapa tidak dicoba saja di Jakarta?,” tutur Nobby pemuda yang juga berkuliah di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Setelah pulang dari Jogja, mereka memaparkan hasil kunjungannya kepada warga setempat. Akhirnya warga pun setuju dengan inisiatif membangun Kampung Warna-Warni dan Bebas Rokok.

Pembangunan Kampung Warna-Warni dan Bebas Rokok dimulai secara bertahap dari tanggal 12 Maret 2017. Tahap pertama, biaya pembangunan berasal dari suka rela oleh warga setempat. “Kami sepakat bahwa tiap warga patungan sebesar Rp20.000,-. Kemudian, setelah dana terkumpul dimulai dengan membangun gapura dan pengecatan tembok. Hasil sisa uangnya diputar kembali untuk mengadakan kegiatan bazar. Dari hasil keuntungannya digunakan untuk meneruskan pengecatan hingga ujung pos hansip,” jelas Nobby. Tahap kedua, mengganti pagar bantaran sungai yang tadinya terbuat dari bambu menjadi besi. Pembangunan pagar tersebut memakan waktu hingga dua minggu.

Akses Masuk Kampung Penas Tanggul

Selain itu, dalam mewujudkan kampung bebas rokok diperlukan sosialiasi agar masyarakat paham tentang bahaya rokok. Bentuk sosialisasi dimulai ketika Nobby dan teman-teman mendatangkan salah satu korban perokok pasif. Kemudian, warga pun mulai tergerak hatinya. Kini, lingkungan dalam, teras, dan jalanan kampung setempat sudah steril dari rokok. Akan tetapi, untuk menegakkan aturan tersebut pun juga perlu upaya keras. Pengawasan dilakukan langsung oleh ibu-ibu dan anak-anak setempat. Awalnya, sanksi hanya sekadar teguran langsung. Kemudian setelah bulan November 2017, tiap orang yang ketahuan merokok di jalan akan dikenakan denda sebesar harga satu bungkus rokok yang dihisap. “Mungkin untuk menegur terkadang polisi-polisi disini (para ibu dan anak) kurang tegas. Tapi kami selalu berusaha dengan memberikan masukan,” kata Nobby.

Jual beli rokok pun masih ada di warung-warung setempat. Bedanya, terjadi penurunan penjualan karena warga sekitar hanya membeli rokok satuan. Tiap warga pada akhirnya merasa sungkan bila membeli atau merokok dengan bebas. Budaya malu pun tumbuh beriringan dengan begitu saja. Manfaat yang dirasakan tidak hanya dirasakan oleh perokok pasif. “Saya merasa bahwa dengan adanya kampung warna-warni bebas rokok ini dapat melindungi para ibu dan anak-anaknya, apalagi di rumah. Berhenti merokok membuat badan bugar,” kata Joko, mantan perokok aktif.

Nobby (Kiri) dan Joko (Kanan)

Keberadaan kampung ini pun dijadikan percontohan bagi kampung lainnya di Jakarta, bahkan hingga mancanegara. Terdapat beberapa negara yang telah berkunjung ke kampung ini, seperti dari Hungaria, Jepang, Thailand, dan Australia. Adapun, peran pemerintah dalam mendukung eksistensi kampung ini direalisasikan dengan pemberian 24 tempat sampah dan beberapa karung media tanam dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Namun, pembangunan Kampung Warna-warni baru memasuki tahap ketiga ini terkendala dengan biaya. Belum ada bantuan langsung berupa dana dari pihak pemerintah, bantuan dana hanya dari pihak LSM dan program CSR perusahaan. “Sampai saat ini kita masih menunggu. Semoga pemerintah bisa turut andil langsung dalam pembangunan Kampung Penas Tanggul,” harap Nobby.

Imas Listyaningsih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *