Judul buk: Gadis Jakarta (A’dzrau Jakarta)

Penulis: Najib Kaelani

Penerjemah: Pahrurroji Muhammad Bukhori

Penerbit: Navila

Gadis Jakarta adalah buah karya dari seorang novelis Mesir, Najib Kaelani. Beliau pernah mengalami masa-masa sulit di penjara akibat tuduhan terlibat sebagai anggota al-Ikhwan al-Muslimin. Lebih dari 70 novel dan cerita yang pernah beliau tulis memiliki gaya penulisan yang khas, setiap karyanya mengandung nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan cinta. Salah satu karyanya yang mendapatkan penghargaan adalah Ath-Thariq At-Thawil (Jalan Panjang), sebuah novel tentang perang dunia kedua. Beliau mendapatkan penghargaan tersebut ketika masih menjadi seorang tahanan.

Novel Gadis Jakarta adalah sebuah novel berlatar belakang  sejarah Indonesia yaitu saat terjadinya pemberontakan pada 1965. Dikisahkan seorang gadis anak dari salah satu anggota Masyumi, Fatimah yang berjuang melawan ketidakadilan. Fatimah adalah seorang mahasiswi jurusan sastra di salah satu universitas di Jakarta. Suatu ketika datanglah Az Zaim ke kampus Fatimah untuk menjadi pembicara dalam sebuah pertemuan ilmiah. Az Zaim adalah seorang pemimpin “Partai” dan seorang pejabat penting. Kala itu Az Zaim seperti biasa menyampaikan kata-kata andalannya yang berisi tentang keadilan, kesetaraan dan lain-lain. Sebuah omong kosong yang terus ia gunakan untuk memperdaya rakyat.

Saat Az Zaim sudah selesai dengan pidatonya, majulah Fatimah menyanggah semua perkataan Az Zaim. Dengan berani Fatimah menyampaikan argumentasinya tentang kesetaraan dan keadilan. Mulai dari sanalah adu argumen dan pergolakan politik dimulai. Usai pertemuan tersebut Az Zaim mengundang Fatimah untuk datang ke kantornya. Rupanya Az Zaim berniat untuk menundukkan Fatimah. Az Zaim kemudian meminta Fatimah agar mau menjadi istrinya. Namun Fatimah menolak tawaran tersebut dan. Penolakan Fatimah membuat Az Zaim geram. Ia berencana untuk menjatuhkan Fatimah.

Fitnah-fitnah disebarkan dimana-mana, nama Fatimah tercoreng akibat tuduhan-tuduhan tidak mendasar yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu. Hal itu membuatnya bersedih, lalu ia ceritakan masalahnya itu kepada sang ayah, Haji Muhammad Idris. Sang ayah pun tak henti-hentinya menyemangati putrinya. Tak hanya penderitaan tersebut yang telah direncanakan oleh Az Zaim. Az Zaim bahkan berani menculik ayah Fatimah, beliau dipenjara dan disiksa. Di rumah Fatimah amat gelisah, tidak tahu kemana ayahnya menghilang. Benar-benar cobaan berat bagi Fatimah.

Hati Fatimah semakin gundah. Disaat genting tersebut muncul Abdul Hasan yang merupakan kekasih Fatimah. Abdul Hasan menawarkan diri untuk mencari ayah Fatimah. Namun ia kehilangan jejak, Abdul Hasan pun pulang dengan hasil nihil. Sampai pada akhirnya ditemukan sepucuk surat di depan pintu rumah Fatimah. Surat tersebut berisi kabar tentang Haji Muhammad yang tengah berada di dalam penjara. Hal ini membuat Abdul Hasan semakin geram, ia membuat salinan surat tersebut dan kemudian meyebarkannya. Akibat ulahnya itu ia pun ditangkap polisi. Fatimah menjadi semakin kalut, akhirnya ia memberanikan diri datang ke “Partai” tempat Az Zaim berada untuk meminta bantuan. Namun Az Zaim mengacuhkan Fatimah.

Disaat “Partai” berkuasa, Indonesia menjadi sebuah Negara yang kacau, kesengsaraan dan penderitaan dimana-mana. Disisi lain Fatimah terus berjuang untuk membebaskan ayah dan kekasihnya. Hingga akhirnya tibalah hari keruntuhan “Partai” yang dipimpin oleh Az Zaim. Az Zaim akhirnya ditangkap dan para tahanan “Partai” dibebaskan, termasuk didalamnya Haji Muhammad dan Abdul Hasan. Namun hal bahagia tersebut diiringi dengan kesedihan, Fatimah meninggal terkena peluru nyasar.

Secara keseluruhan novel Gadis Jakarta sangat baik. Novel ini layak untuk dibaca. Meski berlatar belakang pada masa pemberontakan namun semangat perjuangan yang diajarkan masih dapat diterapkan pada masa sekarang. Walaupun penulis belum pernah ke Indonesia, namun tulisannya seakan ia pernah datang ke Indonesia pada zaman itu.

Lailla Nur Viliansah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *