lpmindustria.com – Neuroscience dalam dunia pendidikan membantu memahami fungsi otak dan bagaimana cara otak bekerja. Neuroscience dapat memacu dan meningkatkan fungsi kognitif pada otak anak.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak hanya mempengaruhi pola hidup manusia tetapi juga berdampak pada ilmu-ilmu pengetahuan yang ikut berkembang, salah satunya adalah Neuroscience. “Neuroscience merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari anatomi, biokimia, biologi molekular, dan fisiologi dari saraf dan sistem saraf. Ilmu ini berkaitan dengan farmakologi, psikologi, dan kedokteran,” ucap Carla Rosalyn selaku mahasiswa tingkat akhir di Surya University sekaligus pembicara dalam seminar Biotechnology Neuroscience Surya University di Kemendikbud RI. Neuroscience menjelaskan secara sciencetific bagaimana sebenarnya cara otak manusia bekerja. “Jadi otak manusia itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mungkin selama ini kita berpikir kalau suka sama orang berarti hati yang bertindak, sebenarnya itu otak manusia yang bekerja,” tambahnya.

Penjelasan Neuroscience oleh Pembicara

Dalam dunia pendidikan sebenarnya banyak hal yang masih dapat dipertanyakan sehingga neuroscience mencoba untuk membuka rahasia dari otak manusia. Salah satu penelitian neuroscience yang terkenal dan sampai saat ini masih dikerjakan yaitu mengenai bagaimana cara memetakan sistem saraf yang ada di otak untuk menggali fungsi neuronnya satu per satu. Penelitian tersebut dikerjakan oleh Human Brain Project. Meskipun setiap neuronnya saling berkaitan tetapi masing-masing neuron memiliki  fungsi yang spesifik. “Di dunia pendidikan hal-hal seperti Alzheimer masih menjadi pertanyaan, kenapa bisa Alzheimer dan bagaimana cara menanganinya, juga kenapa ada anak autis dan sebagainya,” ujar Carla Rosalyn.

Penerapan Neuroscience terbagi menjadi tiga berdasarkan rentang usia, yaitu anak usia balita, anak-anak, dan remaja. Pada usia balita, fokusnya adalah Number Sense sebagai dasar dari kemampuan matematika seseorang. Number Sense terletak di Parietal Lobe (dibaca: bagian otak besar yang terletak diatas kepala) yang sudah ada pada manusia sejak lahir. Pada perkembangan otak, Number Sense sudah aktif sejak umur enam bulan yang nantinya akan sensitif terhadap angka. Selama perkembangannya, sampai kurang lebih enam puluh tahun akan terjadi pembentukan cabang-cabang di otak yang nantinya akan menghubungkan satu neuron dengan neuron lainnya. Hal ini yang akan membuat fungsi kognitif yang semakin lama semakin sempurna. Number Sense harus dilatih untuk membentuk logika matematika pada anak sehingga nantinya akan familiar terhadap angka. “Ada orang yang semakin tua semakin bijak, itu karena otaknya semakin banyak memiliki cabang sehingga saling berkaitan satu sama lain. Jadi nalarnya sudah jalan dan punya keseimbangan emosional yang lebih baik,” ungkap Carla Rosalyn.

Lalu, saat usia memasuki 4 tahun, otak yang paling berkembang adalah bagian Lobus Frontal dan Lobus Parietal yang berhubungan dengan perkembangan fungsi kognitif. Pada Neuroscience ada suatu penelitian yang bernama Mirrror Neuron System. Mirror Neuron System adalah sekelompok neuron yang mencerminkan suatu tindakan mengamati perilaku, lalu muncul respon imitasi dan pemahaman. “Seperti Children see, children do. Biasanya para orangtua itu cenderung mengajarkan anaknya untuk meniru perilaku dia, misalnya coba angkat tangannya, terus dia ikutin,” ujar Elvita Sari mahasiswa tingkat akhir di Surya University yang juga pembicara dalam seminar.

Neuroscience di Indonesia masih terdengar sangat baru. Salah satu hal terhambatnya penerapan Neuroscience dalam dunia pendidikan, yaitu masih belum banyaknya orang yang mengenal apa itu Neuroscience. “Neuroscience untuk sekarang ini masih sangat baru di Indonesia, belum banyak orang yang mengenal Neuroscience,” ujar  Carla Rosalyn. Selain itu, riset Neuroscience yang masih terbatas di Indonesia, menjadikan penerapan Neuroscience belum maksimal di Indonesia.

Astri Oktaviani

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *