lpmindustria.com – Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan, masih terdapat anak yang tidak dapat mengenyam nikmatnya bangku pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Yayasan Himmata hadir sebagai tempat belajar bagi kaum marginal.

Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Himmata (Pemerhati Masyarakat Marginal Kota) merupakan lembaga sosial masyarakat yang menampung 400 lebih anak jalanan dan anak tidak mampu yang ingin sekolah. Bisa dibilang PKBM Himmata  sama dengan sekolah formal lainnya. Seperti diungkap Sarkono, ketua Yayasan Himmata, dengan niat yang baik dan tekad kuat untuk mencerdaskan anak bangsa, PKBM Himmata akhirnya mampu memberikan pendidikan kepada 400 anak yang kurang beruntung.

Yayasan Himmata terdiri dari 7 kelas, jenis pendidikan yang disuguhkan terdapat dua jenis, yaitu khusus reguler yang meliputi SD, SMP, SMA dan non-reguler yang mencangkup Paket C. Waktu pelaksanaannya dibagi menjadi dua waktu, yakni pukul 07:00 – 12:00 untuk SD, kemudian dilanjutkan pukul 13:00 – 17:00 untuk SMP dan SMA

Lingkungan sekolah tidak begitu luas, namun fasilitas yang ada sudah cukup untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, terbukti dengan adanya Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer, Laboratorium Pembuatan Sabun Cair, Laboratorium Mesin Jahit, serta sanggar dan motor baca masyarakat. Sama seperti pada sekolah umumnya, Himmata juga mendukung proses pengembangan karakter atau pemetaan minat dan bakat, seperti ekstrakurikuler yang dilakukan khusus setiap hari sabtu. Fitriyani sebagai salah satu murid kelas 12 beranggapan, dengan banyaknya kegiatan yang ada tak heran jika siswanya menuai prestasi hingga se-jabodetabek.

Saat Yayasan Himmata mengadakan Acara

Pengajar yang ada merupakan relawan yang berasal dari alumni Himmata dan beberapa guru profesional dibidangnya. Pihak pengelola mencari para relawan yang ikhlas hati untuk mau mengajar tanpa pamrih. Saat ini terdapat sekitar 30 tenaga pengajar, namun pihak Himmata masih merasa kurang pengajar yang sesuai dengan bidang linier akademiknya. Pemerintah pun baru melirik keberadaan Himmata pada tahun 2008, dan langsung memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Yayasan Himmata juga mendirikan sebuah asrama atau semacam rumah singgah khusus untuk menampung anak jalanan. Fitriyani sendiri menceritakan bahwa Himmata sudah seperti keluarga baginya, karena tenaga pengajar di Himmata bisa dipanggil sebagai kakak atau ayah. Yanti sebagai penduduk sekitar, cukup mendukung akan adanya program yayasan Himmata, dan terus mendorong anaknya untuk terus bersekolah. “Mendukung, namanya buat sekolah,” tuturnya, Syahrudin bersuara yakni, bukan dengan hanya melihat kondisi ke belakang atau sekarang, tetapi  kita harus melihat kedepan bagaimana harus lebih baik “Semoga kepercayaan ini semakin baik, khususnya untuk masyarakat sekitar,” tandas Syahrudin.

Febe Aruan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *