lpmindustria.com – Politeknik STMI Jakarta sepertinya tengah memilih calon mahasiswa baru yang lebih berintegritas. Tahapan tes wawancara ditambahkan dalam proses  Penerimaan Mahasiswa Baru (Penmaba) Politeknik STMI Jakarta. Tes wawancara dinilai akan mengetahui motivasi dari setiap calon mahasiswa Politeknik STMI Jakarta.

 Pada penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019, Politeknik STMI Jakarta memberlakukan tahapan baru untuk menyeleksi calon mahasiswa, yakni Tes Wawancara. Alasan diterapkannya tahapan wawancara ini untuk melihat Motivasi calon mahasiwa yang ingin berkuliah di Politeknik STMI Jakarta. Tes wawancara ini diberlakukan atas arahan langsung Direktur Politeknik STMI Jakarta, dan diawasi oleh Pembantu Direktur (Pudir) 3 bidang Kemahasiswaan. Tim pewawancara dalam tahapan tes wawancara dilakukan oleh Direktur, setiap Pudir, dan setiap Kepala Prodi (Kaprodi). “Untuk tes wawancara diarahkan langsung oleh Direktur, tujuannya untuk mengetahui motivasi mereka berkuliah,” tutur Ridzky Kramanandita selaku Pudir 1 Politeknik STMI Jakarta. Selain untuk mengetahui motivasi dari tiap tiap calon, Politeknik STMI pun mendambakan mahasiswa yang lebih elok (dibaca: bagus) dari tahun sebelumnya. “Sebenarnya dari dahulu ingin dilakukan, untuk mendapatkan mahasiswa yang bagus itu perlu,” ujar Emanuel Pasti Bangun selaku Pudir 3 Politeknik STMI Jakarta.

Pertanyaan yang dilontarkan pada saat proses wawancara Penmaba hanya mencakup pendekatan antara pihak kampus dengan calon mahasiswa. Selain sebagai pendekatan, Pudir 3 menambahkan, proses wawancara dapat memudahkan pihak kampus melihat kondisi fisik calon mahasiswa. “Seperti menanyakan tentang kesanggupan mahasiswa seperti apa, apakah memiliki masalah keluarga, dsb. Selain itu, kita juga menanyakan hal apakah calon mahasiswa perokok atau menggunan narkoba atau tidak,” tutur Emanuel Pasti Bangun.

Namun, adanya tahapan wawancara tidak termasuk dalam komponen penilaian, hanya sebagai data pendukung bagi kampus. “Untuk penilaian tetap menggunakan tes tertulis, wawancara hanya sebagai data pendukung saja. Jika tes tertulis dirasa kurang tetapi motivasi calon mahasiswa besar, mungkin itu bisa menjadi pertimbangan. Tetapi tetap tidak ada penilaian secara khusus dalam tes wawancara,” ucap Rizky Karamandhita.

Proses wawancara dilaksanakan selepas ujian tertulis usai pada hari yang sama. Calon mahasiswa digiring kedalam kelas untuk selanjutnya diwawancarai satu persatu. Tim Pewawancara yang sudah disebutkan merupakan top management kampus Politeknik STMI Jakarta. Namun, tim pewawancara pun mengisyaratkan bahwa idealnya pewawancaranya merupakan orang-orang yang paham tentang psikologi. “Idealnya memang psikolog yang melakukan interview, jadi mereka tahu karakter dari mahasiswa,” ucap Ridzky Karamandhita. Data informasi lebih lanjut mengenai teknis wawancara dalam penerimaan mahasiswa baru masih kurang. Salah satu Panitia Penmaba enggan untuk memberikan informasi mengenai hal terkait.

Kendala yang dihadapi Politeknik STMI Jakarta dalam memberlakukan tahapan wawancara ini yaitu, calon mahasiswa baru yang akan diwawancara lebih banyak dari pada pewawancara. Hal ini tentu berbeda dengan ujian tertulis yang hanya memerlukan setidaknya dua pengawas dalam ruang ujian. “Pewawancara jumlahnya sangat berbeda dengan calon mahasiswa yang akan diwawancarai,” kata Emanuel Pasti Bangun.

Linda Rohmata Sari

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *