Sore itu aku terdiam, duduk didepan barisan boneka yang sedang membaca buku. Usiaku 7 tahun kala itu, main belajar-belajaran dengan aku sebagai gurunya dan empat boneka sebagai muridnya. “Cukup sampai disini ya, besok kita lanjutkan lagi belajarnya. Kalian boleh pulang.”, ucapku saat mulai bosan dengan permainan ini. Aku membereskan buku dan boneka itu kembali ke tempatnya semula. Bagiku permainan ini sangat menyenangkan, aku bebas melakukan apapun tanpa ada orang lain yang melihatnya. Tidak akan ada yang protes jika aku melakukan kesalahan. Aku bebas.

Sore itu ternyata belum usai. Aku mendengar seorang perempuan berteriak, tepat didepan kamarku. Aku membuka pintu dan keluar. Terlihat Ibuku sedang menempelkan telepon ditelinganya dan tangan satunya memegang dada. Terlihat sesak. Terlihat sakit. Aku hanya memandang, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Ibuku terlihat lelah, berusaha mencari sandaran. Ia terlihat tidak sanggup berdiri lagi. Tak lama kakakku datang, menuntun ibu untuk duduk disofa. Setelah itu, ibu kehilangan kesadaranya.

Sore itu ibu pingsan sekitar lima menit, setelah bangun Ia hanya menatap ke dua anaknya. Pandangannya kosong, tapi aku tahu pikirannya penuh. Aku tahu Ia sedih. Aku tahu Ia sedang merangkai kata-kata. Ia menarik nafas dalam-dalam. Aku rasa itu tarikan nafas paling dalam yang pernah ku lihat. Matanya mulai berair. Bibirnya bergetar. Ia menarik nafas untuk kedua kalinya. Bibirnya mulai terbuka, tapi tetap bergetar pelan. “Sekarang kalian cuman punya ibu, jangan nyusahin ibu ya.”, ibu tersenyum, tapi air mata menetes di pipinya.

Sore itu aku tak tahu apa yang terjadi. Malamnya aku sakit. Malam itu aku tak paham, tapi aku rasa setengah hidupku ada yang hilang. Kepalaku sangat pusing. Aku demam. Aku menggigil. Ibuku sampai heran, padahal sore tadi aku baik-baik saja. Bahkan saat ibu dan kakak menangis, mataku tak mengeluarkan air setetespun. Sekarang aku sadar, aku sangat lama untuk merespon sesuatu. Sekalinya merespon, malah berlebihan.

Esoknya aku mulai paham. Tak ada lagi telepon dari ayah di sore hari. Tak ada lagi yang menanyakan sudah sejauh mana bacaan Al-Qur’an ku. Tak ada lagi yang pulang diakhir bulan dan membawakan sekardus coklat. Ayah hilang, tapi kenangannya tidak. Terkunci didalam kotak dan kuncinya ikut hilang bersama Ayah.

Hanifati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *