lpmindustria.com – Kala itu suasana mencekam di kota membuat siapapun yang berada disana ikut merasakan pedih, sedih dan amarah campur aduk jadi satu didalamnya. Angin bertiup melambai diikuti dengan rasa dingin menusuk. Bukan hanya karena kota berada di tengah pegunungan, namun ada kisah tersembunyi yang mendukung latar suasana semakin mencekam.

Riyana kembali memfokuskan pikirannya dalam-dalam dengan dahi yang mengerut dan mata terpejam kuat selama beberapa menit. Kini sorot matanya terlihat memandang sekeliling dengan nafas tak karuan. Terlihat jelas raut wajah terkejut dan bingung bercampur aduk pada wajah oriental milik Riyana. Dilihatnya keramaian yang justru membuat orang terperangah bingung. Anak-anak yang berlarian, pasar tradisional yang penuh sesak oleh warga, dan lalu lalangnya kereta kuda semua seperti ada di negeri Belanda dimana pakaian, postur badan dan wajah menggambarkan bahwa mereka bukan orang pribumi. Ada keganjilan di benak Riyana saat itu, wajah semua orang di sini terlihat kosong tanpa ekspresi, dingin dan datar.

Animasi

Riyana mencoba melangkahkan kakinya mengelilingi kota, tentunya dalam diam dan bingung. Semakin Riyana melangkahkan kakinya jauh memasuki kota, semakin sesak dadanya merasakan suatu kondisi kesedihan dan penderitaan. Riyana berhenti  di suatu rumah bergaya eropa yang entah mengapa menarik Riyana untuk mendekat tanpa sadar. Dari kejauhan, Riyana dapat melihat ada tiga orang anak laki-laki berumur kisaran enam sampai sembilan tahun sedang bermain bersama seorang gadis yang Riyana duga adalah pengasuh ketiganya. Tanpa sadar senyum tipis Riyana mengembang. Beberapa menit Riyana sibuk memperhatikan mereka hingga sorot matanya menyiratkan tatapan terkejut setengah mati dimenit setelahnya. Di hadapannya terlihat beberapa lelaki memasuki paksa rumah dengan membawa pistol. Suasana berubah tak karuan di kota tersebut. Semua orang berlari ketakutan diikuti jeritan pilu yang samar-samar semakin terdengar. Riyana kembali memperhatikan ketiga anak tersebut, “Duar… Duar… Duar…” bunyi tembakan membabi buta terdengar jelas. Riyana terpaku mematung dan tanpa sadar meneteskan air mata. Ketiga anak yang membuat Riyana tersenyum beberapa menit lalu kini tergeletak tak berdaya dihadapannya. Seorang lelaki dan dua orang perempuan yang diyakini Riyana adalah orangtua dan pengasuh dari ketiga anak itu disiksa dengan amat sadis. Dipukuli, dilecehkan, tak diberi ampun dan nafas sedikitpun. Hanya tangisan dan rintihanlah yang bisa dikeluarkan mereka “sakit… tolong… sakit… ampuni kami… sakitt..”.

Riyana berlari tanpa arah. Air matanya tak bisa ia kontrol dan terus mengalir tanpa ampun. Selama ia berlari, banyak pembantaian, pemerkosaan, pemaksaan yang ia lihat. Air mata, rintihan, teriakan, semua campur aduk  mewakili perasaan mereka. Kota yang beberapa menit lalu nampak damai kini berubah menjadi kota yang penuh ketegangan dan kekejaman dalam sekejap. Berlari dan berlari, hanya itu yang ada difikiran Riyana. Pergi, hanya itu keinginan terkuatnya saat ini hingga Riyana melihat satu titik cahaya yang semakin dekat semakin jelas hingga Riyana terbangun disebuah ruangan yang Riyana kenal sebagai ruang tamu miliknya. Nafasnya masih tak karuan menandakan rasa terkejut serta peluh membasahi dahi, wajah dan tubuh tinggi semampainya.

Hari berlalu sejak mimpi buruk yang dialaminya seminggu lalu. Kini Riyana memutuskan untuk berjalan-jalan disebuah tempat wisata bersejarah yang terlihat apik dan modern ditengah kota sepulang ngampus. Riyana memilih sebuah gedung bersejarah yang memang belum pernah ia kunjungi. Gedung dengan cat berwarna putih dan paduan warna cream jadi pilihan destinasi wisatanya kali ini. Seperti biasa ia mengelilingi seisi museum dengan antuasias yang tergambar dari raut wajahnya. Hingga pada akhirnya, langkahnya terhenti pada sebuah lukisan besar yang menjadi daya tarik diruangan kali ini. Lukisan kuno bernuansa eropa yang tak asing baginya.

“Ini adalah lukisan yang melatari salah satu kota terpencil pada masa Hindia-Belanda”

Terdengar suara berat dari arah belakang tubuh Riyana yang mampu membuat Riyana hilang fokus  terhadap lukisan tersebut.

“Pada saat itu, kota ini adalah salah satu kota terpencil diHindia-Belanda. Walaupun terpencil, kota ini sangat diminati  oleh orang-orang untuk berkunjung karena keindahan kota dan keramahan warganya. Kota ini dibangun dan dihuni langsung oleh para pendatang asli Belanda yang memang menjajah Hindia-Belanda. Sama seperti kota lainnya, kota ini juga memiliki kehidupan. Bahkan kota ini dijadikan salah satu kota wisata saat Belanda menetap.” Jelas lelaki tersebut bernama Anthony.

Anthony adalah teman Riyana yang juga memiliki kemampuan dan ketertarikan yang sama dengan Riyana. Anthony dapat merasakan bahkan bisa masuk kedalam dimensi lain jika ia menyentuh salah satu barang bersejarah. Berbeda dengan Riyana, Riyana memiliki kemampuan bermimpi untuk mengetahui suatu sejarah yang ingin ia ketahui dengan cara memikirkan barang sejarah tersebut.

“Tapi suatu saat, ada sekelompok orang yang berkhianat. Dalam sekejap kota indah tersebut berubah menjadi kota mati yang dihiasi darah dan mayat dimana mana.”

Seketika Riyana teringat dengan mimpinya kala itu dimana ia memikirkan sebuah barang berbentuk kotak musik yang ia ketahui dari Internet. Dapat dilihat didalam lukisan tersebut bahwa ada tiga orang anak lelaki dengan raut wajah ketakutan yang salah satunya memegang kotak musik yang mirip dengan kotak musik yang Riyana fikirkan. Riyana kembali fokus kepada Anthony yang terlihat ingin kembali berbicara.

“Kota ini bernama Neirlence…

Alisya Indrayanti

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *