lpmindustria.comSelain sumber daya alam, Indonesia kaya akan keberagaman sukunya. Salah satu suku yang ada yakni suku Dayak Meratus.

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah pulau yang terbilang sangat banyak, beragam etnik suku tersebar dan mendiami seluruh kepulauan yang ada di Indonesia. Begitu banyaknya etnik suku yang ada, membuat negara ini juga memiliki banyak ragam kebudayaan yang berbeda-beda, baik dari segi perawakan, pakaian, maupun ciri khas kebudayaan lainnya.

Suku Dayak terbagi dari beberapa jenis bagian suku, salah satunya yakni bagian suku Dayak Meratus yang mana suku ini mendiami sekitar pegunungan Meratus di tenggara Pulau Kalimantan. Suku yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan ini memiliki ciri khas fisik tersendiri. “Dari segi fisik yaitu kaki mereka cenderung besar-besar, karena mereka jarang menggunakan alas kaki. Selain itu dari warna kulitnya, mereka mirip seperti orang-orang China,” Ujar Yandi Irawan selaku staff Dinas Pariwisata dan Budaya.

Ciri khas lainnya yaitu tampak pada pakaian khas suku Dayak Meratus. Pakaian ini terbuat dari 2 jenis bulu burung, yaitu burung Enggang dan Haruei yang merupakan burung endemik pulau Kalimantan. Pakaian ini hanya mereka gunakan pada peristiwa-peristiwa tertentu saja. “Saat acara adat jarang dipakai, tetapi biasa digunakan pada perayaan bumi, seperti setelah panen,” jelas Zulkifli selaku peraga pakaian Dayak Meratus pada Festival Budaya Banjar 2018 di Taman Ismail Marzuki. Pakaian ini biasa ditampilkan setiap tiga bulan sekali pada perayaan panen padi atau panen tanaman lainnya, dikarenakan banyaknya masyarakat Dayak yang bercocok tanam. Bagi masyarakat suku Dayak Meratus, ritual ini diyakini dapat menjauhkan mereka dari bencana gagal panen, melalui ritual ini mereka memohon kepada sang pencipta agar di musim tanam berikutnya terhindar dari hama penyakit dan memperoleh hasil panen yang melimpah.

Pakaian Adat Dayak Meratus

Keberadaan budaya Dayak Meratus dinilai masih kental serta masih melekat kuat pada masyarakatnya. “Kalau dari keseluruhan, Dayak Meratus satu-satunya suku yang belum terkontaminasi arus globalisasi,” sahut Yandi. Sudah selayaknya kebudayaan dari setiap suku harus dijaga kelestariannya, agar eksistensiya tetap ada sepanjang masa. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk hal ini, Yandi menjelaskan bahwa pemerintah setempat untuk sementara dari segi anggaran tidak dapat membantu secara terus menerus, dikarenakan masih banyaknya anggaran yang harus disalurkan untuk keperluan lain. “Pemerintah hanya sebatas memberi bantuan dengan cara sosialisasi pada penduduk setempat agar tetap sadar menjaga alam mereka, agar selalu lestari dan dapat menjadi objek wisata dalam negeri,” tutur Yandi.

Selain itu, cara untuk tetap menjaga kelestarian budaya adalah dengan mengadakan festival atau acara yang berisi tentang kebudayaan. “Festival kebudayaan merupakan kegiatan positif untuk melestarikan budaya dan dapat dilakukan oleh semua suku,” tutur Muhammad Sukani yang merupakan masyarakat asal Banjar. Ia juga menjelaskan bahwa dengan adanya festival budaya juga berdampak dalam segi ekonomi, yang mana dalam festival tersebut terdapat pameran seni kerajinan tangan atau makanan khas suatu suku.

Hana Fadiah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *