lpmindustria.com – Hoax (baca: berita palsu) kini bukan hanya ancaman untuk orang dewasa. Namun, anak-anak pun juga ikut menjadi sasarannya. Dengan menumbuhkan budaya literasi, diharapkan dapat membentengi anak-anak Indonesia dari ancaman hoax yang tersebar ditengah masyarakat.

Saat ini budaya literasi mulai memudar dikalangan anak-anak. Bagaimana tidak, mereka lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain handphone serta berselancar di media sosial daripada membaca buku. Menurut data statistik yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, mengindikasikan bahwa Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara dengan tingkat rendahnya budaya literasi. Dengan menurunnya minat baca pada anak, akan berdampak kurangnya pemahaman anak dalam menangkap informasi.  Hal tersebut menjadi faktor meluasnya hoax yang marak beredar ditengah masyarakat kepada anak.

Talkshow “Budaya Literasi Sejak Dini”

Minat baca di Indonesia masih terbilang tertinggal jauh, terlebih berdasarkan survei UNESCO mengatakan tingkat literasi anak usia 15 tahun atau setara dengan kelas 3 SMP sampai 1 SMA memiliki tingkat literasi yang rendah. Variabelnya mereka mengukur mengenai literasi sains, literasi numerasi, dan juga literasi baca tulis. Dalam hal ini literasi baca tulis memiliki andil yang cukup tinggi karena mampu mendongkrak 2 variabel sebelumnya, yang artinya jika literasi baca tulis memiliki poin yang cukup tinggi maka literasi sains dan literasi numerasi akan mengikutinya. Hal ini akan berjalan dengan baik, jika didukung oleh lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.

Peran dari keluarga dan masyarakat sekitar dalam menumbuhkan minat baca pada anak sangatlah penting. Keluarga dinilai sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak, sudah selayaknya keluarga diharapkan mampu untuk menjadi tauladan bagi anak. Dr. Joko Santoso selaku Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpustakaan Nasional RI mengatakan bahwa 50% orang dewasa yang literasinya rendah secara fungsional tinggal dibawah garis kemiskinan. Kemudian anak yang orang tuanya berliterasi tinggi memiliki keberhasilan 5-6 kali lebih besar dibanding yang lain. Terlebih dikatakan juga bahwa seorang ibu yang literasi fungsionalnya tinggi dianggap lebih mampu mengupayakan kesejahteraan keluarga.

Namun sangat disayangkan, bahwa saat ini masih banyak orang tua yang belum memperkenalkan anaknya dengan buku sejak dini. Bahkan sayangnya orang tua terlalu takut ketika anaknya merusak buku, lalu memarahi si anak karena telah merusaknya. Hal ini, menjadi salah satu penyebab rasa takut pada anak, kemudian menciptakan anak tidak mengenal buku sejak dini. “Tiap kali anak merusak buku, pegang buku, orang tua marah. Bagaimana anak mau suka dengan buku? Mau pegang buku takut mama marah,” pendapat Anastasia Rima Hendrarini, Kepala Bidang Perlindungan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Bekasi.

Keadaan seperti itu dapat dicegah dengan orang tua harus sadar akan pentingnya membaca buku sejak dini pada anak, kemudian mengajarkan anaknya mencintai buku sehingga ia akan suka dengan buku dan suka membaca. Maka jika anak sudah mencintai buku, orang tua akan lebih mudah mengajarkan anak untuk membaca. Namun, yang tidak kalah penting adalah memberi contoh kepada anak untuk membaca. “Yang paling penting dalam mengajarkan anak membaca adalah apakah orang tuanya sudah membaca? Bagaimana kita bisa membuat anak membaca jika orang tuanya sendiri saja tidak membaca? Kalaupun orang tua membuka Google tapi yang dicari artikel-artikel, maka anak mengerti bahwa itu sebagai sumber pengetahuan bukan sumber kesenangan,” tutur Anastasia.

Ketika anak sudah mencintai membaca, maka kemudian pandulah anak untuk berpikir kritis. Berpikir kritis sangatlah penting, karena dengan berpikir kritis anak tidak akan mudah menerima berita begitu saja, mereka akan menganalisanya terlebih dahulu apakah berita tersebut benar atau tidak. Sehingga dapat menghindarkannya dari hoax yang banyak tersebar ditengah masyarakat. “Menurut saya bukan apa yang dibaca, tapi apakah setelah membaca itu terjadi perenungan? Padahal yang terpenting adalah bagaimana setelah membaca orang tua dapat memandu pikiran anak, mengambil pembelajaran, menganalisis lalu kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Anastasia.

Lailla Nur Viliansah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *