lpmindustria.com – Sudah lebih dari enam bulan pasca terjadinya musibah kebakaran di Museum Bahari, Penjaringan, Jakarta Utara. Namun, hingga saat ini pemulihan Museum Bahari masih dalam tahap perencanaan dan proses pembangunan.

Selasa, 16 Januari 2018, Museum Bahari di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, dilahap si Jago Merah. Menurut keterangan dari Pusat Laboratorium Forensik POLRI, kebakaran ini disebabkan oleh konsleting arus listrik. Saat itu, api menyeruak dan membakar setengah bagian dari Gedung A dan C Museum Bahari. Peristiwa tersebut menghanguskan koleksi-koleksi kebanggaan tentang kebaharian dan maritim Indonesia.

Firman seorang petugas Museum Bahari bagian pameran menjelaskan bahwa sekitar 30% dari koleksi yang ada di Museum, ikut terbakar dalam kejadian tersebut. Sedangkan dari sebagian koleksi yang terbakar tersebut, hanya 20% koleksi yang masih bisa diselamatkan. Hingga saat ini, nasib koleksi yang berhasil diselamatkan masih disimpan untuk segera dikonservasi. “Untuk sementara, koleksi yang berhasil diselamatkan hanya ditutupi plastik putih dan akan segera dikonservasi nantinya,” jelas Firman.

Koleksi yang berhasil diselamatkan

Saat ini pihak Museum Bahari bersama Dinas Pariwista dan Kebudyaan (Dinparbud) masih berupaya melakukan pemulihan Museum. “Hingga kini, rapat-rapat perencanaan sudah dilakukan tetapi untuk eksekusinya masih belum. Hal itu terkendala pada biaya, karena pemulihan sebuah cagar budaya berbeda dengan pemulihan bangunan biasa. Kalau untuk pemulihan Museum ini, barang-barang yang terbakar tidak bisa dihapus begitu saja, tetapi harus dibuat ulang atau dikonservasi. Itulah sebabnya kita sulit dalam mengestimasi biaya,” jelas Ahmad Surya selaku Pelaksana Tugas Museum Bahari.

Selain terkendala pada biaya, tim dari Dinparbud dan museum, serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih berusaha mencari data-data untuk melakukan penelitian ulang. “Bangunan Museum Bahari ini dibangun pada zaman VOC, maka dalam melakukan konservasi harus diteliti dan dicek lagi arsipnya. Arsipnya pun tidak hanya yang berbahasa Indonesia tetapi juga yang berbahasa Belanda. Hal-hal seperti itulah yang memakan waktu dalam proses pemulihan kembali. Karena sangatlah sulit dalam mencari satu sumber saja,” ujar Firman. Meskipun demikian, Museum Bahari masih tetap beropersi seperti biasanya. “Untuk sementara, kita masih melayani masyarakat yang berkunjung dan menjalani apa yang ada saja. Jadi ya sisa inilah yang bisa dinikmati oleh pengunjung,” jelas Surya.

Namun, perbaikan Museum Bahari dinilai terlalu lambat oleh salah satu pengunjung karena hingga saat ini perbaikan belum juga rampung. “Menurut saya terlalu lambat pemulihannya. Karena bangunan ini kan cagar budaya, ya seharusnya pemerintah provinsi DKI konsen dalam hal seperti ini. Sudah enam bulan setelah kebakaran itu tetapi belum ada kabar. Mungkin perlu disiapkan lagi,” tutur Indra Gunawan seorang pengunjung Museum Bahari. Indra juga menyampaikan harapannya kepada pihak museum untuk terus meningkatkan pelayanan dan menjaga Museum Bahari agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Krisdiastuti

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *