lpmindustria.com – Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak tanah pertanian. Namun, dalam memenuhi kecukupan pangan bangsa, Indonesia masih mengandalkan impor pangan dari negara tetangga. Perilaku konsumtif warga Indonesia dinilai menjadi salah satu faktor Indonesia mengimpor bahan pangan.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, negara yang memiliki tanah petanian dan mayoritas penduduknya  bekerja dengan bercocok tanam. Namun, walaupun negara berpredikat agraris, Indonesia tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. “Saya ingin menggambarkan bahwa industri pangan di Indonesia sangat potensial, dan perlu bahan baku yang harus di suplai dari lokal. Namun, kita selama ini masih bergantung dari impor,” ucap Adhi Siswaya Lukman selaku ketua umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) . Pada tahun 2017, tercatat beberapa bahan pangan yang di impor oleh Indonesia bersmber dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (Pusdatin Kementan). Impor tersebut seperti kelapa beserta olahannya sebesar 11.751 ton, kopi beserta olahannya sebesar 14.221 ton, teh beserta olahannya  14.679 ton, kakao beserta olahannya sebesar 270.172 ton. Lain halnya dengan gandum, berdasarkan data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) volume impor gandum Indonesia naik sekitar 9% pada 2017 menjadi 11,48 juta ton dari tahun sebelumnya.

 Jika diperhatikan, Indonesia mengimpor bahan baku bukan karena pertumbuhan setiap provinsi menurun, tetapi karena Industri yang tidak merata. Menurut Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2017, struktur perekonomian Indonesia secara spasial masih didominasi oleh kelompok pulau Jawa yang memberikan kontribusi PDB sebesar 58.49%. “Sebenar nya potensi diluar Jawa sangat besar sekali, misalnya Bali dan Nusa Tenggara yang memiliki pertumbuhan sebesar 6%. Bahkan Kalimantan memiliki pertumbuhan hingga 13%,” jelas Adhi Siswaya Lukman.

Selain industri yang tidak merata, faktor lain Indonesia mengimpor ialah sebagian besar warga Indonesia memiliki perilaku konsumtif yang tinggi. Oleh sebab itu, sebagai konsumen kita perlu menjadikan pangan lokal sebagai prioritas, sehingga ketergantungan terhadap barang impor akan berkurang. “Peranan konsumen pun juga penting, bagaimana pangan lokal menjadi prioritas daripada pangan impor,” tutur Adhi Siswaya Lukman

Setiap daerah memiliki potensi pangan yang dapat dibanggakan, hanya saja terkendala oleh transportasi yang tidak terjangkau. Pemerintah pun melakukan beberapa upaya, seperti  pembangunan tol laut dan  mendorong industri pangan tersebar di Indonesia agar tidak menumpuk di Pulau Jawa . “Di Pulau Jawa banyak menimbun industri pangan, sehingga pemerintah berinisiatif membangun tol laut, ” tutur Adhi Siswaya Lukman. Selain itu, menurut F.G Winarno seorang ahli pangan menuturkan bahwa, sudah saat nya Indonesia mulai memanfaatkan alam seperti menampung air hujan untuk dimanfaatkan oleh pertanian,  memakan serangga sebagai potensi protein hewani dan memanfaatkan tumbuhan yang terbengkalai di Indonesia.

Serangga sebagai alternatif pangan

Pemanfaatan sumber pangan alternatif dinilai dapat menurunkan impor pangan di Indoneisa. Berdasarkan tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), standar angka kecukupan protein masyarakat Indonesia adalah sekitar 56-59 gram per hari untuk perempuan dan 62-66 gram per hari untuk laki-laki. Sebagai contoh protein yang terkandung dalam 100 gram gandum adalah 16,9 gram, sedangkan pada hewan ant red terdapat protein berkisar 13.9 gram. Jika masyarakat Indonesia mulai mengganti sumber protein dan mencari alternatif dari gandum, maka impor gandum akan menurun. Namun, tidak semudah itu mengubah pola pikir masyarakat Indonesia. “Membujuk masyarakat Indonesia mengkonsumsi serangga harus dirancang secara by-design atau membutuhkan persiapan yang khusus,” ujar F.G Winarno.

Linda Rohmata Sari

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *