lpmindustria.com – Masyarakat Indonesia sudah saatnya melestarikan dan mengembangkan makanan tradisional negeri ini. “Jajanan jaman baheula” asal Sunda tak kalah unik dan lezat dari makanan oriental atau modern.

Lantai dasar mall Ciputra Jakarta dipenuhi dengan aneka makanan khas Nusantara sejak 8 Agustus dan berlangsung hingga 19 Agustus 2018. Makanan ini disajikan dalam acara Kampoeng Legenda. Tak hanya makanan berat seperti nasi dan lauk pauknya, tetapi juga ada jajanan “abang-abang” (baca: pedagang kaki lima) yang kerap kali mengingatkan pengunjung dengan masa kecilnya. Setelah menyusuri lebih dalam lokasi Kampoeng Legenda, ternyata terdapat stand yang terlihat unik dan menarik, yaitu “Sunda Unik. Jajanan Jaman Baheula”. Stand ini tampak unik dan menarik karena dihiasi oleh ornamen yang terkesan kedaerahan. Ada topi petani, daun-daun ilalang, kain batik, dan alas dari rotan.

Jika melihat lebih dekat, ternyata stand ini menjual makanan atau jajanan sunda yang jarang dikenal oleh masyarakat. Sesuai dengan namanya “Jajanan Jaman Baheula”, Ian owner dari stand ini mengatakan bahwa nama baheula ia ambil dari bahasa Sunda yang artinya tempo dulu. Jadi makanan yang dijual merupakan makanan khas Sunda zaman dulu. Usaha unik ini dibangun oleh Ian dan keluarganya yang dulu tinggal di daerah pedalaman Bandung. Banyaknya jajanan daerah di sana merupakan salah satu alasan Ian membangun usaha ini. Selain itu, ia juga termotivasi untuk melestarikan makanan khas Indonesia. “Zaman sekarang sudah tergerus oleh makanan oriental. Makanya untuk melestarikan makanan zaman dulu, kita ekspos lagi,” ujarnya.

Stand Jajanan Jaman Baheula

Makanan yang dijual ada dua bentuk kemasan, modern dan tradisional. Untuk yang modern, seperti coklat gado, kuaci, dan permen rokok. “Meskipun dikemas dalam bentuk  modern, makanan ini sudah ada sejak 1970-an,” ungkap Ian. Sedangkan yang masih dikemas dalam bentuk tradisional salah satunya adalah sagon mayang. Sagon ini memiliki tekstur yang cukup lembut dan bentuknya bubuk. Menurut Ian, sagon merupakan makanan paling unik yang dijual. “Pembeli kalau tidak tahu namanya, mereka biasa mengisyaratkan dengan makanan yang kalau dimakan bisa nyembur,” jelasnya.

Uniknya lagi, jika anak zaman sekarang mengenal kuaci yang berasal dari biji bunga matahari. Namun berbeda dengan kuaci zaman dulu yang dijajakan Ian, dulu kuaci berasal dari biji semangka dan rasanya sangat asin. Saat makanan ini diikutkan dalam bazar Kampoeng Legenda, cukup tinggi antusias dari pengunjung. “Pengunjung sangat antusias. Jadi mereka tuh nostalgia. Mereka yang tidak beli makanan, tetapi beli memori. Banyak juga yang bertanya-tanya,” tutur Ian.

Salah satu pengunjung yang membeli jajanan khas Sunda ini mengungkapkan kebahagiaannya. “Saya beli permen dan sagon. Everything is good,” ungkap Abigail, wanita asal Jakarta yang lama tinggal di luar negeri. Makanan yang dijual oleh Ian dibandrol dengan harga yang cukup murah. “Pangsa pasar kita anak-anak, remaja, dan dewasa. Harganya kita sesuaikan agar terjangkau dengan anak sekolah,” ungkap Ian.

Selain berjualan di acara Kampoeng Legenda, Ian juga menjajakan produknya di salah satu mall daerah Bandung. “Kita juga jualan di Paris Van Java, lantai G. Workshop kita di Jl. Ahmad Yani, Bandung,” tutupnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal yang dilakukan Ian ini merupakan contoh baik yang dapat dilakukan oleh masyarakat lainnya, untuk menjaga eksistensi makanan tradisonal agar tidak kalah siang dengan makanan modern.

Aliya Nur Fathiya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *