lpmindustria.com – “Aku sungguh tidak suka dengan yang dilakukan kampus, Ad. Mereka masih saja menerapkan sistem sampah. Trasnparansi tidak jelas. Semua seolah ditutup-tutupi. Kemana dana organisasi kita dibawa,”

Fuad mendengarkan dengan saksama yang dijelaskan Henri. Sungguh begitu kokoh kata-katanya. Seolah menyihir relung hati terdalam Fuad agar bergerak bersamanya. Fuad semakin yakin, bahwa Henri orang yang tepat untuk berjuang bersamanya. Untuk membebaskan mahasiswa dari ketidaktahuan yang diberikan kampus. Dari usaha-usaha kampus yang menjadikan mahasiswa menjadi robot yang mengejar nilai-nilai seelok cakrawala. Dari tindakan yang membuat mahasiswa pasrah dengan tingkah laku kampus.

Boleh jadi, itu yang dipikirkan Fuad. Pikirannya semakin menerbangkan gagasannya pula. Ia katakan pada Henri, kesepakatannya. Mengenai tindakan kampus yang selama ini telah menggerogoti cara berpikirnya.

“Aku setuju pada mu Hen. Kita harus adakan diskusi terbuka. Buat gerakan-gerakan dari diskusi dan kampanye. Kita harus sadarkan teman-teman kita. Bahwa ada yang salah pada sistem yang kita jalani selama ini,”

“Benar, Kita harus kumpulkan masa. Lebih sering diskusi membuat kita sadar dan semakin kuat. Kita harus bisa menyadarkan teman-teman kita, bahwa ada yang lebih penting dari sekadar nilai yang tak tahu asalnya darimana itu,”

Diskusi-diskusi mulai Fuad dan Henri lakukan. Mereka kokohkan pikiran para mahasiswa. Mereka isi otak-otak itu dengan nutrisi, pembangkangan. Sebuah, kata yang menjelma untuk memerdekakan mahasiswa dari ketidaktahuan. Dari kepasrahan. Serta kegamangan yang selama ini diberikan oleh kampus tercintanya.

Ilustrasi

Makin ke sini, Fuad merasa ada yang janggal dari kata-kata Henri. Tiap kali Henri memberikan argumen dalam diskusi. Seolah kata-katanya yang selama ini berlandas untuk membebaskan mahasiswa dari ketidaktahuan semakin semu. Hilang bagai kabut karena matahari yang meninggi. Sinar sang surya seolah memperlihatkan yang tersembunyi dalam dada dan lisan Henri. Apakah selama ini Henri bersolek? Hanya ingin tampil cantik di depan khalayak. Ditambah makin ke sini, ajang pemilihan Presiden Mahasiswa makin dekat.

“Kita harus menghargai kakak-kakak Kita, teman. Wajar jika mereka ingin berkunjung dan menengok kerja Kita. Ya walau hanya datang pada momen ini saja. Setidaknya mereka peduli dengan kita, bukan?”

“Tetapi tidak dengan cara seperti ini Hen. Aku pasti menghargai mereka. Bahkan sangat senang jika kakak-kakak kita yang sudah lulus ini datang untuk mendukung. Namun, kalau hanya untuk meminta Marlboro dan Kopi Liong. Alumni macam apa yang hanya datang untuk meminta-minta dari adik tingkatnya. Kita pasti melayani mereka jika mereka datang dengan baik-baik,”

“Jadi maksud mu mereka itu minta-minta ke kita? Kita harus melayani Ad. Kau mau mereka mengobrak-abrik acara diskusi Kita?”

“Kau takut Hen? Kemana semangat mu untuk membebaskan mahasiswa dari kebodohan dan kepasrahan. Ternyata Henri yang Ku kenal telah mati. Pikiran mu makin sempit saja, seolah tidak ada cara lain agar mereka tidak mengobrak-abrik acara kita,”

Sejak itu, Fuad telah mengetahui tujuan Henri selama ini. Henri hanya pandai mempengaruhi dengan membenarkan tujuannya. Fuad tahu dari temannya, bahwa selama ini Henri hanya ingin diberi panggung untuk bersolek seperti pragawati. Hanya ingin dipandang pandai berkata, walau makin kesini semakin tak berdasar.

 

Bersolek saja tuan

Kalau ingin tampil cantik sambil memegang mik

Diiringin nyanyian lagu kemerdekaan

Tapi sayang, lagu itu terlalu murni untuk tuan

Yang hanya bisa berkata tapi tak berdasar

 

Bersolek saja tuan

Apa perlu ku kasih gincu ibuku

Sambil ku dandani yang benar

Biar kau lebih cantik, bahkan melebihi tasya kamila

 

Bersolek saja tuan

Biar khalayak ramai makin menilai indah

Tapi sayang penilaian luarmu makin membusuk

Sebab kata-kata yang keluar hanya merusak jiwa

 

Bersolek saja tuan

Jika hanya ingin dipandang

Jangan lah kau berucap tak terarah

Kata-kata terlalu murni untuk mulut mu yang tak berhias itu

 

Apa perlu ku kasih gincu ibuku?

Ah, tapi ibu ku tak mengizinkannya

Kau beli saja sendiri

Modal buat nabung sidang, biar tidak hanya rajin menabung berkata untuk dipuji

Apa lagi jika untuk jabatan yang tak dibawa mati

Muhammad Abdul Hakim Faqih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *