lpmindustria.com – Sosok Butet Manurung muncul sebagai pelopor penddiikan alternatif bagi suku-suku pedalaman. Salah satu sekolah yang berhasil ia bangun dalam menerapkan sistem pendidikan alternatif yaitu Sokola Rimba, terletak di Taman Nasional Bukit Duabelas, Provinsi Jambi.

 ‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ salah satu isi dari alinea ke empat pembukaan UUD 1945. Sudah selayaknya, pendidikan patut didapatkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Namun, kenyataannya hal ini masih belum bisa dirasakan oleh sebagian lapisan masyarakat, khususnya di daerah pedalaman. Beberapa wilayah pedalaman di Indonesia belum bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Banyak faktor yang melatar belakangi masalah  ini, mulai dari akses tempat yang sulit dijangkau, sistem pendidikan yang tidak sesuai, dan hal lainnya. Saur Marlina Manurung atau yang akrab disapa Butet Manurung muncul sebagai sosok yang alternatif media belajar bagi orang pedalaman.

Butet merupakan salah satu pelopor pendidikan alternatif bagi suku pedalaman. Sejak akhir 1990-an, Butet telah keluar masuk hutan untuk mengamati suku pedalaman. Sokola rimba adalah salah satu sekolah yang berhasil ia dirikan di Taman Nasional Bukit Duabelas di Provinsi Jambi. Suku pedalaman yang ia didik adalah penduduk Suku Rimba. “Orang Rimba adalah bagian dari suku anak dalam  yang ada di Provinsi Jambi. Jumlah Orang Rimba sekarang kurang lebih 3500 tersebar di seluruh Provinsi Jambi,” terang Butet.

Perjuangan dirinya dalam menerapkan pendidikan alternatif disini tidaklah mudah. Banyaknya orang yang memandang pendidikan itu adalah suatu hal tabu, menjadikan suatu rintangan yang harus dihadapi Butet. ”Pendidikan bagi orang Rimba itu tabu. Mereka menganggap pensil itu setan bermata runcing, karena bisa menipu orang yang tidak bisa baca tulis,” jelas Butet. Ia juga menambahkan bahwa, bagi mereka pendidikan itu tidaklah penting, karena pendidikan tidak dapat membantu keseharian mereka seperti memancing dan berburu.

Butet Manurung

Terlepas dari hal tersebut, menyesuaikan kurikulum adalah salah satu kendala Butet dalam mendirikan pendidikan alternatif. Melihat dari kebiasaan mereka, kurikulum nasional sangat tidak cocok bila diterapkan. “Melihat keseharian mereka seperti berburu, memancing serta berlayar. Maka kurikulum nasional tidak cocok untuk diterapkan disini, ” ungkap Butet. Karena kebiasaan dan keseharian orang pedalaman tersebut, membuat butet memiliki cara tersendiri untuk tetap menciptakan sistem pendidikan alternatif. Sistem sekolah yang diterapkan Butet yakni menunggu siswa yang mempunyai waktu luang untuk datang ke sekolah. ”Disini sistemnya yaitu saya menunggu siswa yang mempunyai waktu luang untuk hadir. Mereka tidak bisa dipaksakan datang secara bersamaan dengan keseharian mereka yang seperti itu, ” tutur Butet. Beliau juga memandang keseharian anak-anak pedalaman dapat dikatakan sebagai bagian dari pendidikan. Seperti ikut orang tua ketika berburu dan membuat perangkap, dalam hal ini mereka dapat  menerapkannya dan berguna bagi kehidupannya kelak.

Hasil dari adanya pendidikan alternatif yang diterapkan Butet mulai tampak, hal ini dapat dilihat dari peraturan atau undang-undang yang mereka ciptakan untuk menyelesaikan suatu masalah. Alhasil mereka sudah tidak menggunakan kekerasan dalam memecahkan masalah. “Setelah bisa membaca dan menulis, mereka mulai diajarkan membuat hukum untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, ” jelas Butet. Tidak hanya itu, salah satu muridnya berhasil meraih penghargaan film dengan judul “Sokola Rimba”. “Film ini mendapat salah satu penghargaan Internasional di Jepang tahun 2004 lalu,” ungkap Butet.

Perjuangan Butet dalam membangun pendidikan alternatif tidak hanya sampai di penduduk Rimba saja. Beliau mulai membangun beberapa sekolah untuk sebagian suku pedalaman yang tersebar di seluruh nusantara. “Dari tahun 2003, kami sudah berhasil membangun 13 sekolah yang tersebar diseluruh Nusantara,” ucap Butet. Kini, ia telah mengajukan kurikulum pendidikan alternatif ke Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) untuk dapat diterapkan lebih luas. “Kami telah mengajukan ke Pemerintah tentang pendidikan alternatif pada tahun 2016 lalu, ” tutup Butet.

Khairil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *