Judul Buku: Leading From The Heart

Penulis: Moid Siddiqui

Penerbit: Serambi

Cetakan: I, Oktober 2014

ISBN: 978-602-290-011-5

Cover Buku

lpmindustria.com – Menurut orang-orang bijak India kuno menyebut masa kita sekarang sebagai Kali Yuga (zaman setan atau zaman edan). Bukankah kita hidup ketika suatu yang aneh sedang terjadi sesuatu yang kotor akan dianggap suci dan yang suci akan dianggap menjadi hina? Peran seorang pemimpin disini yang sangatlah penting. Seorang pemimpin harus dapat menyelamatkan seluruh kaumnya dari keadaan yang aneh pada zaman ini. Para pemimpin yang khianat dapat merusak dunia, para pemimpin yang jujur dapat melindungi dunia.

Kemerosotan yang terjadi dikalangan masyarakat bahkan di tataran kepemimpinan, membuat keadaan saat ini tidaklah mudah untuk mencari suatu kebenaran diantara mereka. Takkan bisa seorang yang menjadi akar permasalahan akan menjadi juru selamat bagi semuanya. Akan tetapi, itulah yang terjadi sekarang ini. Ketika banyak seorang pemimpin yang menyerukan supaya rakyatnya menjauhi korupsi atau penyimpangan lainnya, sedangkan pemimpin itu sendiri yang telah melakukan penyimpangan tersebut. Kemudian, mereka yang hidup tidak sederhana juga menceramahi orang-orang untuk hidup sederhana. Bukankah keadaan ini yang menimbulkan sebuah perspektif, ironi diatas ironi?

Melalui buku Leading From The Heart karya Moid Siddiqui, menekankan betapa pentingnya kepribadian seorang pemimpin dalam menuntun rakyatnya atau bawahannya pada suatu perusahaan. Membangkitkan kembali karakter pemimpin yang seperti dahulu, adil, mengayomi, serta sangat memahami apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Banyak dari kita mungkin hanya tahu seorang pemimpin haruslah memiliki tingkat intelektual yang tinggi, memiliki kecerdasan akal, dan keahlian lainnya. Namun, dalam penjelasan di dalam buku ini sangatlah berbeda mengenai seorang pemimpin. Seorang pemimpin haruslah memiliki sifat kearifan sufi, yang mana kearifan sufi merupakan istilah seseorang dalam menggunakan kecerdasan hati dan tidak hanya menggunakan akal dan pikiran saja, serta tidak melakukan segala cara untuk kepentingan pribadinya.

Dalam menjadi seorang pemimpin, pertama harus mengenali terlebih dahulu diri kita, tujuan kita menjadi seorang pemimpin. Apabila tujuan kita baik, dalam pelaksanaanya pun akan baik dan begitu pun sebaliknya. Kemudian, dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin perlu menggunakan akal yang dikolaborasi dengan hati. “Berilah makan akalmu dengan pamahaman, hatimu dengan tenggang rasa dan welas asih. Lebih sederhana hidupmu, lebih berarti! Semakin sedikit keinginanmu akan dunia, semakin lega ruang yang kaudapat untuk dihuni dengan sang kekasih”- Syaikh Abu Said Abul Khair. Selain itu, menjadi seorang pemimpin harus dapat dipercaya oleh semua orang. Pemimpin dalam memimpin seseorang tidaklah menjadi orang yang selalu hebat, cobalah memimpin dengan kerendahan hati dan hindarkan sifat kecurigaan terhadap seseorang, karena kecurigaan dapat menghancurkan kepercayaan yang telah terjalin.

Secara keseluruhan buku ini sangatlah baik dalam memberikan gambaran menjadi seorang pemimpin yang menggunakan hati untuk menghadapi keadaan saat ini. Kita juga akan menemukan beragam pemikiran dan kebijaksanaan para sufi, filsuf, dan tokoh spiritual dalam bentuk prosa dan puisi, serta pengayaannya dalam deskipsi yang menarik. Selain itu, dapat menumbuhkan moral, bahwa saat ini kekuatan hati sangatlah diperlukan serta membantu kita memahami garis tipis antara “apa yang kita anggap baik” dan “apa yang benar-benar baik”.

Aditya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *