lpmindustria.com – Museum Joang 45 merupakan salah satu saksi bisu dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, berbagai aksi pemuda banyak dilakukan di tempat tersebut.

Bangunan Museum Joang 45 merupakan bangunan yang sudah ada sejak masa Hindia Belanda 1920. Pada masa itu, bangunan ini digunakan sebagai tempat penginapan yang bernama Hotel Schomper. Hotel ini tidak memiliki kamar yang banyak, untuk gedung utamanya sendiri hanya ada empat ruang kamar besar yang terletak ditengah dan dibelakang ruangan gedung. “Hotel ini dikhususkan bagi para pejabat Belanda dan pengusaha asing yang mau menginap di hotel,” jelas Untung Supardi selaku Pemandu Museum Joang 45. Beliau juga menambahkan, diluar gedung utama hotel ini juga mempunyai kurang lebih 30 kamar hotel yang berada di sebelah kanan dan kiri gedung.

Untung Supardi

Pada masa kekuasaan Jepang tahun 1942, hotel ini dialihfungsikan sebagai kantor propaganda Jepang. Tepat pada bulan juni 1942, gedung ini diserahkan kepada pemuda Indonesia untuk digunakan sebagai tempat pendidikan politik, yang mana semuanya dibiayai oleh Jepang. “Maksud Jepang tersebut adalah untuk mendidik pemuda-pemuda Indonesia agar nantinya bisa membantu Jepang dalam perang asia timur raya,” tutur Untung. Selain itu, Untung juga menjelaskan, ada beberapa tokoh yang ikut serta sebagai tenaga pengajar seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Muhammad Yamin, Mr. Soenario, Mr. Ahmad Soebardjo, MZ Djambek, Mr. Dayoh, Dr. Muwardi, Sanusi Pane, Ki Hajar Dewantara dan Mr. Amir Sjarifoeddin. Selain itu, pihak Jepang pun turut terlibat untuk menjadi tenaga pengajar seperti Prof. Nakatani, H. Shimizu dan Prof. Bekki.

Selain sebagai tempat pendidikan politik, gedung Joang 45 ini merupakan tempat berbagai kegiatan para pemuda Indonesia dalam rangka merebut kemerdekaan. Kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai tempat Pusat tenaga kerja (PUTERA) tahun 1943, kantor Jawa hokokai sebagai organisasi perkumpulan pemuda yang dibentuk Jepang pada tahun 1944, dan pada tahun 1945 digunakan untuk tempat pergerakan kemerdekaan Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan, tempat ini masih digunakan oleh para pemuda Indonesia sebagai tempat pergerakan Komite van aksi, seperti persiapan peristiwa Ikada pada 19 September 1945. Dalam gerakan pemuda tersebut mereka berpartisipasisi secara sukarela. “Tidak ada undangan untuk ikut partisipasi secara individual, mereka langsung bergabung ketika mendengar pemuda berkumpul di gedung menteng,” jelas Untung. Banyaknya peristiwa bersejarah yang berlangsung pada gedung tersebut, membuat pemerintah setempat berupaya untuk melestarikannya dengan cara dijadikan museum. Pada tahun 1974, peresmian Museum Joang 45 diresmikan oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Ali Sadikin kala itu.

Berbagai koleksi yang ditampilkan antara lain pakaian, senjata, lukisan perjuangan, serta foto dokumenter peristiwa perundingan proklamasi. Selain itu, Terdapat beberapa koleksi yang merupakan barang asli, sehingga memiliki nilai sejarah yang tinggi seperti mobil yang digunakan Presiden RI Soekarno dan Muhammad Hatta. “Saya tertarik untuk melihat sejarah serta benda-benda yang ada di museum terkhusus mobil antik presiden pertama Indonesia,” tutur Yani, pengunjung Museum Joang 45.

Ida Amelia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *