lpmindustria.com – Politeknik STMI Jakarta akan menerapkan Sistem Parkir Ganjil Genap. Akan tetapi, beberapa mahasiswa yang merasa keberatan dengan adanya sistem tersebut.

Politeknik STMI Jakarta direncanakan akan menerapkan sistem ganjil genap bagi kendaraan beroda dua. Pembantu Direktur II bagian Keuangan dan Prasarana Deddy Trisanto mengatakan sistem ganjil genap ini diterapkan karena semakin padatnya ruang parkir di Politeknik STMI Jakarta. “Hal ini disebabkan oleh banyaknya keluhan dari dosen, karyawan, dan mahasiswa mengenai tempat parkir,” ujar Deddy. Deddy menjelaskan laporan tersebut diperoleh berdasarkan form perwalian mahasiswa serta kotak saran yang ada di Politeknik STMI Jakarta.

Kebijakan tersebut merupakan hasil rapat manajemen kampus yang terdiri dari direktur, pembantu direktur dan kepala program studi. Nantinya, kebijakan ini akan langsung di sosialisasikan langsung oleh Direktur Politeknik STMI Jakarta. “Jika nantinya kebijakan tersebut ditetapkan, akan langsung disosialisasikan oleh direktur. Sosialisasi pertama kali akan diberikan kepada satpam terlebih dahulu. Ketetapannya masih menunggu rapat selanjutnya,” tambah Deddy.

Ruang Parkir Pembantu Direktur

Sistem parkir ganjil genap yang akan diterapkan di Politeknik STMI Jakarta hanya berlaku kepada mahasiswa saja. Sistem yang diterapkan hampir sama dengan sistem ganjil genap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Bedanya sistem ganjil genap yang direncanakan untuk ruang parkir dan kendaraan pribadi beroda dua. “Sistem ganjil genap hanya akan diterapkan kepada mahasiswa saja, tidak untuk dosen dan karyawan. Dalam penerapannya akan dilihat dari kebijakan yang akan dibuat untuk mahasiswa baru Politeknik STMI. Jika parkiran masih penuh sesak, kebijakan ganjil genap akan langsung diterapkan, jika tidak kebijakan ganjil genap akan ditunda,” ujar Deddy.

Sistem ganjil genap akan diawasi langsung oleh satpam Politeknik STMI Jakarta. “Pengawasannya pasti akan dilakukan oleh satpam yang akan melakukan blocking untuk mahasiswa,” ucap Deddy. Walaupun belum mendapatkan informasi, Jamaludin salah satu satpam Politeknik STMI Jakarta mengaku siap menjalankan sistem tersebut. “Kami belum mendapatkan arahan, akan tetapi apabila ada arahan akan kami jalankan,” ujar Jamaluddin.

Rencana sistem ganjil genap tersebut, ditanggapi oleh beberapa mahasiswa. “Saya kurang setuju, karena tidak semua mahasiswa bisa menggunakan angkutan umum untuk pergi ke kampus. Sebagai contoh, rumah saya tidak ada jalur angkutan umum, untuk mencapai jalur angkutan umum harus peri ke kota dan memerlukan waktu minimal 30 menit,” ujar Aditya Budi mahasiswa Teknik Industri Otomotif (TIO) tahun 2015. Selain itu, mahasiswa lain turut menanggapi rencana kebijakan tersebut. “Saya kurang setuju, tapi saya akan setuju apabila kampus memberi solusi lain untuk parkiran. Seperti mencarikan alternatif parkiran disekitar kampus yang bisa digunakan oleh mahasiswa,” ucap Relic mahasiswa Teknik Kimia Polimer (TKP) tahun 2015.

Oktario Tommy Saputra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *