lpmindustria.com – Setiap Perusahaan (khususnya Otomotif) pasti memiliki permasalahan, baik pada produk atau pun proses produksinya. 8 Disciplines Method bisa menjadi alat pemecah masalah untuk menjawab permasalahan tersebut.

Dalam ilmu industri terdapat banyak metode untuk menjaga kualitas produk dan khususnya dalam menaggulangi kecacatan produk. Salah satunya yaitu 8 Discipline (8D) Method. Metode ini pertama kali diterapkan oleh Customer Automotive Germany dengan standar perusahaan otomotif demi mengurangi customer claim (dibaca: klaim pelanggan) yang berulang. “Metode 8D merupakan 8 langkah disiplin yang dilakukan sebuah perusahaan terhadap masalah, terutama Quality, yang dikeluhkan pelanggan otomotif kepada perusahaan agar tidak berulang lagi, lewat tahapan-tahapan investigasi sampai perbaikan dan memastikan perbaikan tersebut efektif tidak terjadi masalah yang sama,” kata Andrian Bagindo selaku Quality Assurance Manager PT. NSK Bearing Indonesia.

Andrian Bagindo

Dalam salah satu jurnal dijelaskan metode 8D adalah prosedur untuk pengenalan sistematis perbaikan serta menghilangkan masalah dan kesalahan, baik itu pada produk maupun pada proses produksi (Journal of Univesal Excellence, 2012, pp.120). Metode 8D memiliki kelebihan dalam penerapannya. “Sebuah perusahaan dapat menganalisa masalah secara bertahap, mudah dimengerti langkahnya, melibatkan lintas section, mencatat dan memastikan perbaikan dilakukan,” ujar Andrian. Masing-maing langkah disiplin memiliki makna yang berbeda-beda tetapi saling berkaitan satu sama lain.

1. Disiplin satu (D1): Form a team (Pembentukan Team yang terlibat).

2. Disiplin dua (D2): Describe the problem (Penjabaran masalah atau keluhan dari pelanggan).

3. Disiplin tiga (D3): Containtment Action (Tindakan segera/temporary action), adalah tindakan cepat yang harus dilakukan sembari belum ditemukannya countermeasure/preventive action. Tujuan memastikan product suspect yang lain tidak terkirim ataupun terpakai oleh customer bisa dengan  recall.

4. Disiplin empat (D4): Root cause analysis (Analisis akar penyebab permasalahan), adalah hasil dari 5 why analysis dan countermeasure apa yang harus diambil agar tidak terulang lagi.

5. Disiplin lima (D5): Permanent corrective action (Tindakan perbaikan), summary countermeasure yang harus dilakukan dari D4.

6. Disiplin enam (D6): Implement and Validate corrective action (Menerapkan dan memvalidasi tindakan perbaikan.

7. Disiplin tujuh (D7): Prevent Recurrence (Tindakan pencegahan), tindakan agar tidak berulang terhadap produk yang sama, line proses yang sama, mesin yang sama dengan cara membuat standardisasi dalam SOP.

8. Disiplin delapan (D8): Contributor team (Pengharagaan tim), berisi nama-nama orang yang terlibat dalam 8D report untuk diberikan penghaargaan.

Selain memiliki kelebihan, metode 8D ini juga memiliki kekurangan. “Kekurangannya tidak memastikan ekspansi benar-benar dilakukan ke lini proses yang sama dan sama efektifnya dengan line suspect yang di perbaiki,” tambah Andrian. Dalam perkembangannya di dunia industri, metode 8D sudah diaplikasikan dengan baik, terutama di Germany, UK, Italy, France, Swiss, China dan India. “Metode ini rata-rata digunakan di perusahaan automotive. Karena 8D adalah metode yang digunakan dan diciptakan oleh standard Automotive Germany, yaitu VDA standard,” tutup  Andrian.

Albi Fadhilah Hasan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *