lpmindustria.com – Dashboard Aduan Konten, solusi dari Qlue dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memerangi penyebaran konten negatif di dunia maya.

Maraknya konten negatif di dunia maya, membuat Raditya Maulana Rusdi sebagai Chief Executive Officer dari Qlue dan Samuel Abrijani Pangerapan sebagai Direktur Jendral Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo, melakukan kerja sama dan penandatanganan nota kesepahaman dalam meminimalkan konten negatif yang tersebar di Internet. Kominfo mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 143,26 juta orang. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga mendata pengguna internet menyentuh angka hingga 143 juta orang, yang mana sebanyak 100 juta orang mengakses internet melalui ponsel pintar. Selain itu, Kominfo menyatakan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai konten negatif. Angka ini menunjukan bahwa telah banyak oknum yang menyalahgunakan internet untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya. Dengan adanya perbuatan tersebut serta tindakan  menyebarkan konten-konten negatif, maka dapat menimbulkan pergerakkan isu yang belum teruji kebenarannya dan tentunya dapat meresahkan masyarakat Indonesia. Samuel menyatakan Kominfo sedang menggarap Peraturan menteri (Permen) berdasarkan studi banding dari Malaysia dan Jerman terkait hoax (baca: berita bohong) dan ujaran kebencian. “Jadi Permen tentang pengendaliaan konten. Di dalamnya ada fake news. Yang ilegal bukan hanya fake news tapi banyak, saya tidak lagi sebut hoax,” ujarnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hoax menimbulkan perpecahan bangsa. Salah satu cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut yakni dengan dashboard Aduan Konten yang disediakan oleh Qlue dan Kominfo. Dengan adanya dashboard Aduan Konten, maka Kominfo lebih mudah untuk mengintegrasikan data yang didapatkan dari laporan masyarakat. Qlue bersama Kominfo berkomitmen untuk mencegah persebaran konten negatif serta menanggulangi dampak dari konten negatif seperti isu provokasi, intoleransi, hoax, dan ujaran kebencian. “Untuk penanganan hoax, kita membutuhkan laporan dari masyarakat dan banyak orang yang terlibat. Prioritas kita apabila ada yang mengancam seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan huru-hara dan kerugian,” tutur Raditya. Ide pembuatan dashboard ini karena adanya tukar pikiran antara Qlue dengan komunitas-komunitas di pelosok Tanah Air. Ternyata, isu konten negatif cukup banyak ditemukan di beberapa daerah sehingga membuat masyarakat resah karena dapat merusak tali persaudaraan mereka dengan kerabat terdekat.

Qlue dan Kominfo saat peluncuran Dashboard Aduan Konten di Menteng, Jakarta Pusat

Selain peran dari Pemerintah, banyak media dan influencer (baca: orang tersohor di media sosial) turut berperan dalam memerangi konten negatif. Seperti Yosi Mokalu bersama dengan Cameo Project, membuat video yang bertujuan tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat. “Saya tahu beberapa influencer yang suka menyebarkan hoax, untuk mendeteksi mereka tidak terlalu sulit. Kalau misalnya kita bermain instagram, kita bisa melihat postingan dan juga caption-nya yang tidak netral, cenderung menggiring opini masyarakat untuk membenci sesuatu. Kalau dari akun dan postingannya cenderung menyebarkan kebencian, buat saya itu bisa dicurigai,” terang Yosi.

Ghina Alima

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *