Pentingnya Body Positivity sebagai Bentuk Kecintaan Diri -

Pentingnya Body Positivity sebagai Bentuk Kecintaan Diri


maulanayusuf.com
Dok.Detik.com

lpmindustria - Standar ideal yang ada dalam suatu lingkungan seringkali membuat orang merasa tidak puas dengan dirinya sendiri. Body positivity mengajak orang-orang untuk mencintai diri sendiri tanpa memikirkan tanggapan orang lain.

Sifat tidak pernah puas merupakan sifat alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Seperti halnya, keiginan seseorang memiliki tubuh yang ideal. Orang yang memiliki tubuh gemuk menginginkan tubuh yang kurus. Sebaliknya, orang dengan tubuh kurus menginginkan tubuh yang berisi. Tak hanya mengenai proporsi tubuh, orang-orang juga seringkali merasa tidak puas dengan gaya rambut, warna kulit, ataupun bentuk wajah yang dimilikinya.

Ketidakpuasan terhadap kondisi tubuh ini biasanya lebih sering dialami oleh perempuan, seperti yang tertulis pada jurnal Konseling dan Pendidikan dengan judul “Konsep Body Image pada Remaja Putri” pada 30 Juni 2015. Selain itu, disebutkan juga bahwa pada umumnya, perempuan memiliki body image (gambaran persepsi seseorang terhadap tubuhnya) yang negatif. Oleh sebab itu,  tidak heran jika American Society of Plastic Surgeons (ASPS), sebuah organisasi spesialis bedah plastik terbesar di dunia menempatkan bedah kosmetik di urutan pertama dalam sebuah penelitian dan mengeklaim bahwa perempuan lebih tertarik pada bedah kosmetik ini. 

Perempuan lebih kritis dan memikirkan hal yang terkait dengan kecantikannya secara berlebihan. Pemikiran yang berlebihan ini secara tidak sadar dapat  menimbulkan masalah psikologis, yaitu Body Dysmorphic Disorder. Body Dysmorphic Disorder ini merupakan gangguan kesehatan mental dengan ciri tidak dapat berhenti memikirkan satu atau lebih anggapan kecacatan terkait penampilannya. Hal ini dilansir dari situs web Mayo Clinic, sebuah organisasi pusat medis akademik Amerika. 

Selain itu pula, perempuan lebih memperjuangkan dirinya agar memenuhi standar kecantikan. Mereka berusaha keras untuk menggapainya namun tidak memikirkan dampak negatif yang mungkin terjadi sampai mampu menimbulkan gangguan kesehatan, seperti Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa. Dikutip dari hallosehat.com, Anorexia Nervosa adalah gangguan makan dengan ketakutan berlebih terhadap berat badan sehingga membatasi asupan makanannya sedangkan Bulimia Nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan episode berulang dari makan berlebihan. Padahal, usaha yang mereka lakukan bisa saja sia-sia karena tidak ada standar pasti mengenai kecantikan. 

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda mengenai kecantikan, pandangan berbagai negara di dunia pun demikian. Di Jepang, perempuan yang memiliki gigi gingsul lebih dianggap menarik. Selain itu, di India lebih mengedepankan perempuan yang memiliki rambut panjang. Namun di Brazil, kulit gelap dan badan atletis lebih dianggap eksotis. Di Indonesia sendiri, pandangan terkait kecantikan perempuan lebih terletak pada warna kulit yang putih. Perbedaan inilah yang membuktikan bahwa standar kecantikan yang diperjuangkan oleh banyak perempuan, hanyalah pandangan yang dibangun oleh masyarakat semata. 

Melihat persoalan tersebut maka body positivity sangat diperlukan. Menurut artikel yang terbit di laman psychologytoday.com, Schreiber dan Haudenblas, Ph.D mengutip definisi body positivity dari Mallorie Dunn, seorang desainer busana SmartGlamour. Ia mengatakan bahwa body positivity adalah penerimaan tubuh beserta segala perubahan bentuk, ukuran, dan kemampuannya yang terjadi seiring usia ini. Body positivity ini juga mencakup pemahaman terkait penghargaan diri. 

Satu Persen-Indonesian Life School mengutip sebuah artikel pada laman National Eating Disorder Association, dikatakan bahwa terdapat lima cara untuk memulai positive body image atau body positivity. Pertama, cobalah menghargai segala hal yang dilakukan oleh diri sendiri. Percayalah bahwa diri kita telah melakukan hal baik setiap harinya dan juga telah membawa diri ini selangkah lebih maju untuk menggapai mimpi. Kedua, buatlah daftar mengenai sepuluh hal yang disukai oleh diri sendiri serta jangan lupa untuk selalu bersyukur. Ketiga, janganlah fokus terhadap satu kekurangan diri dan cobalah untuk melihat diri ini sebagai diri yang utuh. Keempat, kelilingi diri dengan orang yang selalu mendukung dan menghargai diri kita. Terakhir, mulailah untuk melakukan hal positif untuk diri sendiri.  

Rasa ketidakpuasan itu sendiri merupakan hal yang wajar terjadi pada diri manusia terutama perempuan. Namun, hal tersebut akan menjadi tidak wajar jika rasa tidak puas tersebut dirasakan secara berlebihan. Ketika dirasa ada yang perlu diperbaiki di dalam diri, ubahlah sewajarnya sebagai bentuk kecintaan dan penghargaan diri bukan untuk memenuhi standar kecantikan.  

 

Affifah Nasrillah

Tag:    kesehatan  |  opini  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top